Makin ke sini makin menyimpulkan bahwa kita yg bebas berfikir (bernalar) adalah bentuk keberhasilan dalam berpendidikan. Karena yg dangkal berfikir akan bertahan menjadi mesin kapitalisme (buruh).
Soal copyright:
Di dunia akademis, ada perusahaan mafia raksasa bernama Elsevier.
Grup pemilik Elsevier merampok £3.3 miliar per tahun.
Mafia Jurnal Elsevier menguasai distribusi jurnal akademis di planet.
Padahal, mereka tidak berkontribusi terhadap pengecekan kualitas jurnal.
Dosen dan peneliti yang mengecek keabsahan jurnal yang dipublikasi tidak menerima royalti apapun dari Elsevier.
Untuk mempublikasikan paper ke jurnal milik Elsevier, harus bayar.
Untuk mendownload paper dari jurnal milik Elsevier, juga harus bayar.
Elsevier sendiri hanya gabut saja. Mereka tidak melakukan apapun kecuali merampok dan memalak.
Akibat biaya random dan mencekik yang dipalak oleh Elsevier, hingga ratusan dollar per access paper, universitas-universitas di negara miskin menjerit.
Perkembangan riset di negara-negara miskin itu pun terhambat bahkan mati.
Bukan hanya negara-negara miskin, universitas di negara-negara kaya juga menjerit dan sempat mengadakan boikot.
Budaya publikasi preprint ke Arxiv salah satunya berasal dari sini. Jika paper dipublikasi gratis sebelum dipublish, kita tinggal download preprintnya saja.
Sekelompok peneliti di Kazakhstan pun membuat alternatif bernama Sci-Hub yang dengan berani membajak sebanyak-banyaknya paper dari Elsevier dan menguploadnya secara gratis
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.
Sebagai rakyat kecil kita tidak menerima manfaat dari aktivitas pasca deforestasi. Namun ketika bencana menyerang, kita menjadi korban paling parah terkena dampak. Kadang bertanya2, dimana tempat berlindung paling aman sebagai warga negara?
Akhirnya sinema Indonesia punya film zombie yg bagusss. I had a great time watching Abadi Nan Jaya. Nyeritain kekacauan besar yg lumpuhkan satu desa usai seorang kaya berubah jadi mayat hidup pemangsa manusia gara-gara menenggak sampel jamu awet muda, karya Kimo Stamboel yg ngasih cita rasa lokal pada sajian zombie ini melaju satset di sepanjang durasi & ketegangannya pun terjaga konstan yg nyaris tak menyisakan ruang bagi penonton untuk bernafas lega.
Dari titik awal dimana sebuah kondangan berakhir tragis (yg bisa dihindari kalau orang-orang ini nggak diriin tenda yg ngeblok jalan kampung!) sampai pengepungan di kantor polisi tengah sawah oleh ratusan zombie beringas yg kecepatan gerakannya boleh diadu dengan atlet lari dimana momen mendebarkan, mengerikan & mengharukan mencuat secara bersamaan.
Ini seru sekali!