@mhdlma Saya orang asli Pandeglang malah paling males ke Anyer, ya gara2 ini.
Padahal orangtua saya asli Caringin (Labuan) , dimakamkan pun di Caringin yg cuma sepelemparan baru dari Anyer.
Gue lagi ngantri di minimarket malem malem, banyak muka orang-orang yang kelihatan capek abis pulang kerja.
Ada seorang cowok ke kasir, beli kopi starbucks kaleng sama Marlboro merah. Pas kasir nyebutin totalnya, dia reflek buka MyBCA, cek saldo, terus ngedumel “Anjir, tipis banget.” Tapi habis bayar dia keluar dan foto minuman ama rokoknya dengan caption “late night grind”.
Masalahnya, pemandangan kayak gitu tuh kejadian tiap malem di kota besar. Antrian minimarket penuh anak kantoran yang kelihatan rapi dan “sibuk”, tapi di balik itu banyak yang hidupnya kayak etalase. Dari luar keliatan mapan, dari dalem saldonya ngos ngosan. Gaji UMR tapi lifestyle sok SCBD. Beli kopi botolan mahal di minimarket padahal di rak sebelah ada yang lebih murah. Ambil snack overprice cuma karena packagingnya lucu dan keliatan estetik kalau difoto. Katanya biar nemenin “late night grind”, padahal yang digrind itu gengsi, bukan masa depan finansial.
Yang bikin miris, semua ini sering dibungkus narasi “self reward” dan “yang penting nikmatin proses”. Padahal jujur aja, itu sering cuma topeng buat nutupin rasa takut keliatan biasa aja. Takut kalau story cuma isi air mineral dibilang hidupnya gitu gitu aja. Takut dianggap ga level kalau ga kelihatan sibuk, capek, produktif. Akhirnya yang dikorbanin bukan rasa gengsi, tapi logika finansial sendiri. Story-nya rapi, tapi alur duit masuk keluar hidupnya ga pernah dirapiin.
Pahitnya gini. Dunia ga ngasih bonus cuma karena lu upload caption “late night grind”. Sistem hidup ga peduli lu keliatan capek kerja atau engga. Yang dihitung itu seberapa kuat lu berdiri pas hidup lagi ketat. Kalau tiap belanja kecil aja lu harus cek saldo dulu, tapi tetap maksa beli yang mahal demi kelihatan “lagi hustle”, itu bukan lifestyle, itu tanda lu lagi maksa citra yang ga sebanding sama realita. Lu lagi beli validasi sosial pakai napas masa depan finansial lu sendiri.
Ini keras, tapi perlu. Gaji UMR tapi pengen hidup kayak anak SCBD itu bukan mimpi besar, itu ilusi mahal yang kelihatannya receh di kasir minimarket. Kopi mahal hari ini mungkin keliatan kecil, tapi kebiasaan ngejar image tiap hari itu akumulasi stres versi premium. Kalau lu ga berani jujur sama dompet sendiri sekarang, gimana ceritanya lu mau naik kelas nanti? Coba puasa gengsi sebentar. Pilih yang masuk akal, bukan yang kelihatan. Stop nitipin masa depan finansial lu ke story 15 detik. Yang keliatan “grind” di antrian minimarket belum tentu lagi bangun masa depan. Dan yang beneran lagi naik kelas, seringnya justru ga perlu kelihatan sibuk di story.
Ini apa wahai bapak bapak pejabat ?!
Ini apa ?! 😭😭😭
Seluas ini kawasan hutan dirusak, kalian ngapain ?
Silahkan search di google map, ini di Kab. Sijunjung Sumatera Barat.
Keburu dihapus.
Israel.
It is obviously Israel.
Everyone else is dead or already implicated. It is only Israel who stands to suffer irreparable damage by the release of the files.
Head of Emergency Response and Ambulance Services in North Gaza, Fares Afanah, recounts how his team rescued a baby after their family's home was bombed west of Jabalia camp, just hours after the mother had given birth and returned from the hospital.
New satellite images show the encirclement of the entire northern Gaza Strip.
The IOF has encircled not only Jabalia refugee camp but also Beit Hanoun, Beit Lahia, and all of northern Gaza.
The lack of cleaning supplies in Gaza is worsening the health crisis for 1.9 million displaced people, leading to widespread skin infections and scabies. Soap, shampoo, and other basic hygiene products have become unaffordable or unavailable due to the Israeli blockade.
Preventing the entry of cleaning supplies to a besieged population is not only unjustifiable but is contributing directly to the spread of disease and deteriorating living conditions which constitutes a war crime.