Ga ditayangin di tipi Krn media takut ancaman pemerintah. Jadi kite netizen menayangkan berita demo hari ini yg msh berlangsung. Viralkan....gas pol 🔥 🔥
Aneh berita demo ga ada di tv
This World Cup, everyone with Norway 🇳🇴
The joy Norway experienced at the end of the match after defeating Israel 5-0:
Norway donated all the match's proceeds to Palestine.
Rahma Sarita Aljufri:
Karena Indonesai adalah Negara "Becanda mulu" jadi kritiknya dibuat genre komedi aja ya gaes....
——
Wkwkwk bener dah, ini negara becanda.
Kebijakan aja dibuat saat berpidato.
Boro-boro rakyat disosialisasi. Boro-boro persetujuan DPR (ah DPR juga melempem), yang jadi korban, rakyat lagi, rakyat lagi…
Guys... Kasasi razman ditolak. Ini artinya Razman resmi menyandang status TERPIDANA.
Razman hrs segera ditahan. Mari kita ramaikan agar die hard pembela ijazah Jokowi sgra dikandangin agar tdk spt Silvester krn dkt dg kekuasan akhirnya kasusnya ga jelas dan menguap bgtu saja.
tetaplah sholat, walaupun nikmat ibadahmu hampir hilang,bacalah Al-Qur'an walaupun dalam hatimu terasa berat.Karena kamu tidak akan pernah tahu di raka'at mana cinta ALLAH akan merangkulmu dan di ayat mana ALLAH melembutkan hatimu.🤍🤍🤍
Sepertinya kali ini pak De Hendro serius.
Apa dia sudah kesal melihat maraknya korupsi yang dilakukan oleh para pejabat dan wakil rakyat di negeri ini?
@prabowo@KPK_RI
Kalian mau tau gak tololnya pemerintah itu apa? Di Papua dibikin program swasembada pangan, tapi yang ditanam padi sedangkan makanan pokok orang Papua itu sagu.
Kalau emang niatnya mau swasembada pangan, yang diperbanyak itu tanaman yang menghasilkan sagu karena sagu termasuk salah satu pangan. Tapi nyatanya apa? Yang ditanam padi, sedangkan warlok Papua gak terbiasa nanem padi.
Nah yang lebih bikin kesel tuh, di Papua juga bakal ditanamin sawit, jagung, dan tebu. Alasannya? ENERGI BARU TERBARUKAN tapi malah buka lahan baru dengan membabat hutan.
Yang jadi pertanyaan tuh, kenapa harus buka lahan baru? Kenapa gak manfaatin lahan gambut yang sebenernya bisa direkayasa ulang buat nanem sawit, jagung, dan tebu?
Israel did it in 1948
Israel did it in 1956
Israel did it in 1967
Israel did it in 1982
Israel did it in 2002
Israel did it in 2008
Israel did it in 2014
Israel did it in 2021
Israel did it in 2023
Israel did it in 2024-25
Israel currently doing it in 2026
78 years of genocide
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media.
Letkol Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet.
Bukan menteri.
Bukan jenderal bintang empat.
Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas.
Apa yang terjadi di bencana Sumatra
dan di mana Teddy masuk:
Akhir November 2025.
Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
BMKG sudah memberikan peringatan
delapan hari sebelumnya.
Tidak ada rapat darurat.
Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat.
Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa.
Rapat soal koperasi.
Ketemu Menteri Kelautan.
Menerima Ratu Belanda.
Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar.
Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang.
Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh.
Lebih dari tiga minggu di lapangan.
Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan.
Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat.
Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi.
Rina melakukan siaran langsung.
Dia tumpahkan semua yang dia lihat.
Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet
menonton siaran itu dari Jakarta.
Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk.
Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti.
Bukan insiden tunggal ini pola:
Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa.
Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon.
"Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya."
"Tapi memang belum ada bantuan.
Faktanya begitu."
"Cerita soal dampaknya aja.
Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk."
Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja."
"Maksa banget," kata Indira.
Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar:
Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman.
Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Yang ada adalah telepon.
Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu.
Tidak perlu SK.
Tidak perlu aturan resmi.
Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan Teddy?
Persis sama.
Menelepon pemilik media.
Mengamuk.
Meminta pemred diganti.
Tanpa surat resmi.
Tanpa proses hukum.
Cukup satu telepon.
Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain:
Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo.
Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda.
Lebih profesional.
Lebih terukur.
Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif,
bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana.
Bukan mengontrol berita palsu.
Bukan melawan disinformasi.
Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang.
Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli:
Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab.
Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada bantahan.
Hanya diam.
Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan.
Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar.
Dan sistem seperti itu pernah kita kenal.
Namanya Orde Baru.
Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Opini dr Tifa
Banjir Aceh & Sumatera:
Perspektif Kesehatan Masyarakat
Bismillahirrahmanirrahiim
1.
Banjir ini bukan hanya persoalan curah hujan ekstrem. Dari perspektif epidemiologi perilaku, ini adalah kombinasi kerusakan ekologi, tata ruang yang lemah, dan kesiapsiagaan masyarakat yang belum terbangun. Yang terdampak bukan cuma rumah, retapi rasa aman, identitas, dan harapan.
2.
Perubahan tutupan lahan (hutan → sawit), pemukiman di zona rawan, lemahnya sistem peringatan dini, dan respons yang lebih reaktif dari preventif adalah faktor berulang. Air tidak datang “tiba-tiba”. Yang tiba-tiba adalah kesadaran kita.
3.
Risiko kesehatan tidak selesai ketika air surut. Justru saat itu penyakit mulai meningkat: diare, infeksi kulit, leptospirosis, infeksi saluran napas–ditambah trauma psikologis yang kerap tak terlihat, terutama pada anak-anak.
4.
Solusi harus multi-level: pemerintah memperkuat early warning system, audit tata ruang, dan memastikan konsesi lahan tidak merusak daya serap alam. Ini bukan soal teknis semata, tapi soal keberpihakan pada keselamatan warga.
5.
Komunitas bisa membangun peta risiko lokal, jalur evakuasi, dan simulasi kebencanaan rutin seperti Jepang lakukan. Sekolah juga bisa menjadi pusat literasi mitigasi, bukan sekadar tempat distribusi bantuan.
6.
Layanan kesehatan harus fokus pada dua hal: penyakit pasca-banjir dan kesehatan mental korban.
Trauma yang tidak dirawat berubah menjadi luka sosial jangka panjang.
7.
Bencana tidak boleh dinormalisasi. Kalimat “memang tiap tahun begini” adalah tanda bahaya bahwa kita mulai menerima sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah. Kita bisa memilih jalan berbeda: dari menjadi korban, menjadi masyarakat yang siap, sadar risiko, dan lebih kuat menghadapi yang akan datang.
Solidaritas itu perlu.
Tapi kesadaran, itu yang mengubah masa depan.
Jika tulisan ini bermanfaat, silakan share.
Kesadaran publik adalah bagian dari mitigasi.
Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nashiir.
Laa hawla wala quwwata ilabillahil 'alliyil adziim.
Salam Takzim
dr. Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4