Sebenarnya, aku punya begitu banyak kesempatan untuk bersuara. Sayangnya aku tak sepandai itu untuk mengutarakan isi kepala. Tak banyak yang tahu tentang aku, kecuali mereka yang mau membaca setiap tulisan pada ratusan kertas berisi teriakan aksara.
Generasi ini diminta serba bisa, tapi minim apresiasi. Dipaksa kerja keras sembari terbakar lelah sendirian. Diminta jadi harapan masa depan, sementara generasi sebelumnya membakar hutan, mengeruk batu bara, menyedot minyak bumi. Lalu heran saat mereka tumbuh dengan amarah.
Kamu itu terlalu berharga untuk dijadikan sebuah pilihan kedua atau bahkan seseorang yang disembunyikan. Suatu saat, akan ada satu orang yang merasa begitu bangga karena diizinkan mendampingimu.