beredar surat tentang kegilaan cara kerja kopdes :
- Barang datang , dikordinasikan Babinsa, bukan pengurus Kopdes
- Barang dijual, oleh pegawai Agrinas yang ditempatkan di gerai
- Uang hasil jual, diambil PIC Agrinas setiap 2 hari, bukan ke pengurus
- UMKM lokal jualan, tapi bayarannya nunggu Agrinas, kapan tidak jelas dan tidak di kasih sampe hari ini
- Pengurus Kopdes, tidak dilibatkan sama sekali dalam rantai manapun
- Yang punya kontrol, Agrinas + Babinsa/Kodim
- Kopdes bukan milik desa nama desa dipinjam,
- tapi kendali penuh ada di Agrinas & militer.
- Pengurus hanya jadi pajangan
Lo tau organisasi pencak silat yang logonya ada di mana-mana itu?
Yang konvoinya bisa 5.000–7.000 orang sekaligus?
Yang anggotanya sampai 7 juta jiwa di 236 kab/kota, plus 10 komisariat luar negeri?
Yang ajaran resminya adalah "mendidik manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah"?
Iya. Kita perlu ngobrol soal PSHT.
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Ternyata Alun-alun, masjid besar, kantor bupati, dan pasar memang ditempatkan selalu berdekatan di hampir semua kota tua di Jawa.
Pola ini sudah ada jauh lebih tua dari Islam. Di era Majapahit dan Mataram Kuno, pusat kerajaan selalu punya 3 elemen: lapangan terbuka, tempat pemujaan, dan pusat dagang.
Saat Islam masuk abad 15-17, fungsi sakralnya pindah ke masjid, namun tata letaknya dipertahankan. Makanya Masjid Agung Demak, Yogyakarta, Cirebon, semua menghadap alun-alun.
Tiga bangunan ini sebenarnya representasi 3 sumber legitimasi kekuasaan: masjid (spiritual), pendopo/kabupaten (politik), pasar (ekonomi). Ketiganya ngumpul di alun-alun karena kekuasaan yang sah HARUS BISA DILIHAT- secara harfiah, dari tengah lapangan.
Bahkan penempatan bangunan tidak asal, masjid di barat (arah kiblat & matahari terbenam), pendopo di utara (arah keagungan), pasar di timur/selatan (arah kehidupan & aktivitas harian). Dan dua pohon beringin kembar di tengah alun-alun itu bukan dekorasi — simbol penghubung dunia atas-bawah, puser bumi.
Bojonegoro, Lamongan, Madiun, Tuban sampai sekarang pola ini masih kebaca, walau fungsi pemerintahan udah pindah ke gedung modern dan pasar udah jadi ruko.
Di kotamu apakah masih mempertahankan susunan kota seperti ini?
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
Temen gw kerja di PLN.
Dia bilang ada satu pertanyaan yang tiap hari bikin dia dimaki, dan dia capek ngejelasinnya.
Pertanyaannya: "kok beli token 100 ribu, dapet listriknya kurang? Sisanya ke mana?"
Dia cerita ke gw sambil geleng-geleng. "Yang motong duit itu bukan PLN. Tapi yang dimaki tetep kita."
Gw ngerutin dahi. Kalo bukan PLN, terus siapa yang ngambil?
Malem itu gw cek struk token gw sendiri. Ada satu baris kecil yang selama ini gak pernah gw baca.
Pernah denger kalau digigit ular, langsung diikat kenceng biar racunnya ga nyebar ?
No..no..no jangan lakukan itu ya !!!Karena justru itu yang sering bikin kondisi pasien makin parah sebelum sampai ke RS..
Kenapa ?
Yuk kita bahas..
Yang sering masih dilakukan orang yang terkena gigitan ular antara lain :
• torniket super kencang
• luka disayat lalu dihisap
• dikompres es
• dipijet
Padahal sebagian besar itu sudah tidak direkomendasikan lagi menurut WHO 2016 dan Pedoman Kemenkes 2023.
Karena bisa ular banyak menyebar lewat sistem limfatik, bukan cuma pembuluh darah besar.
Begitu otot banyak bergerak → aliran limfatik makin aktif → racun makin cepat menyebar.
Makanya yang paling penting bukan “mengeluarkan racun”, tapi:
1. Tenangkan korban
2. Minimalkan gerakan anggota tubuh yang tergigit
3. Pasang bidai/imobilisasi (kayu, bambu, kardus juga bisa)
4. Segera bawa ke fasilitas kesehatan
Pada gigitan ular neurotoksik, pressure bandage immobilization (bebat elastis + imobilisasi) sangat dianjurkan sebagai first aid.
“Wong Jawa kuwi ora asal ngomong… nanging niteni.”
(Orang Jawa itu tdk asal bicara, tapi mengamati)
Dulu, ketika orang tua menyebut
bunga lempuyang sebagai “pakan ulo”, itu bukan karena ular memakan bunga.
Tapi karena mereka melihat pola…
Titenan sing kedaden (pengamatan yg terjadi)
Tanaman lempuyang tumbuh di tempat lembab dan teduh
Di situ sering muncul serangga, kodok, lan tikus cilik
Dan di situlah… kadang terlihat ulo liwat utawa ndhelik
Dari situ lahir pemahaman sederhana
“Yen ana lempuyang, asring ana ulo.”
Bahasa sederhana, makna dlm
Orang dulu tdk menjelaskan dgn istilah :
ekosistem
rantai makanan
habitat predator
Tapi cukup dgn satu kalimat
“Iki pakan ulo.”
Padahal maksudnya
“Iki panggonan sing disenengi ulo.”
Ilmu titen : sains versi rasa
Ilmu titen bukan teori tertulis,
tapi hasil :
-melihat berulang-ulang
-mengingat kejadian
-menyimpulkan pola alam
Tanpa buku
Tanpa laboratorium
Tapi selaras dgn ekologi modern
Pesan tersembunyi)
Lewat istilah itu, orang tua sebenarnya sedang bilang
“Aja sembrono… alam kuwi ana tandhane.”
(Jangan sembarangan… alam itu punya tanda)
Kadang yg terdengar seperti mitos,
sebenarnya adalah pengetahuan yg disederhanakan.
Dan dari lempuyang itu kita belajar
bahwa alam selalu memberi isyarat tinggal kita… mau niteni, atau tdk.
DEKOMPOSISI JERAMI
VS
JERAMI DISemprot HERBISIDA
🔴 JERAMI + HERBISIDA
(cepat bersih, tapi tidak membangun tanah)
Mematikan tanaman, bukan mengurai bahan organik
Jerami tetap tinggi C/N & lignin
Berpotensi terjadi immobilisasi nitrogen
Dekomposisi berjalan lebih lambat & tdk optimal
Dalam jangka panjang :
struktur tanah bisa menurun
aktivitas mikroba kurang optimal
ketergantungan input meningkat
🟢 DEKOMPOSISI BIOLOGIS
(proses hidup yg membangun kesuburan)
Mikroba aktif mengurai jerami
C/N ratio menurun → lebih stabil
Terbentuk humus & bahan organik aktif
Struktur tanah membaik (remah & gembur)
Dampak jangka panjang:
simpan air lebih baik
mikroba lebih hidup
efisiensi pupuk meningkat
Herbisida = mempercepat kematian tanaman
Dekomposisi = mempercepat kehidupan tanah
Tanah bukan hanya media tanam.
Tanah adalah sistem hidup.
Yg kita lakukan hari ini…
menentukan kesuburan bertahun² ke depan.
✍️ RAyAD
Allah Belum Selesai Menulis Ceritamu
Jadi gini…
“Kalau aja dulu saya diterima di situ, mungkin hidup saya udah hancur sekarang.”
Pernah nggak sih kamu mikir gitu?
Dulu kamu nangis karena ditolak, dipecat, ditinggal, atau gagal total. Eh pas dilihat lagi, justru itu yang nyelamatin kamu. Yang kamu kira mimpi buruk, ternyata malah jadi penyelamat diam-diam.
Pertemuan kecil yang kamu anggap biasa aja, bisa-bisa ubah seluruh arah hidup kamu.
Hidup emang nggak sesederhana “berhasil” atau “gagal” di satu titik doang.
Dalam Islam, hidup itu bukan foto statis. Ini film panjang yang terus muter. Al-Qur’an berulang kali bilang: jangan buru-buru judge kejadian.
Lihat Nabi Yusuf. Dibuang ke sumur? Tamat riwayat. Dijual budak? Masa depan gelap. Dipenjara? Kelar sudah.
Tapi sumur itu justru tangga naik. Penjara itu malah pintu menuju kekuasaan. Satu episode nggak pernah jadi ending cerita.
Gimana dengan kamu? Apa sumur versi kamu yang bikin kamu merasa dibuang?
Yang bikin orang depresi itu bukan susahnya. Tapi karena dia kira susah itu ada di seluruh hidupnya. Padahal hidup masih gerak terus.
Hari ini kamu diremehin? Bisa aja besok orang-orang yang dulu ngomong “dia nggak akan jadi apa-apa” justru antri minta nasihat sama kamu.
Hari ini kamu dipecat? Bisa jadi paksaan buat nemuin potensi yang selama ini kamu kubur.
Hari ini patah hati parah? Nanti kamu ketawa sendiri inget betapa “duniamu runtuh” cuma karena orang yang ternyata nggak seharusnya kamu pertahankan.
Dulu kamu buat keputusan salah dalam hidup kamu sampai orang lain ikut susah? Iya, tapi bukan berarti otomatis kamu selamanya jadi orang jahat. Kamu masih bisa kok memperbaikinya.
Imam Al-Ghazali bilang, manusia sering ketipu sama pandangan sesaat. Seolah ya guys…Kita lihat hidup cuma dari lubang kunci, lalu langsung ngomong “game over”.
Padahal waktu itu guru terbaik.
Jadi jangan terlalu sombong pas lagi di atas. Jangan juga hancur lebur pas lagi di bawah. Cerita kamu belum tamat.
Banyak hal yang baru kamu pahami bertahun-tahun kemudian. Dan sering kali, yang kamu sebut “kehancuran” dulu, ternyata cuma pintu masuk ke versi kamu yang jauh lebih baik.
Santai aja. Allah masih nulis lanjutan ceritanya…
Tabik,
Nadirsyah Hosen