Ini nasihat bagus bgt:
Berhenti nyalahin diri sendiri atas keputusan yg kamu buat waktu dulu, pas masih kurang pengalaman.
Soalnya ada beberapa hal yg baru bisa dipahami setelah bener2 ngalamin.
Banggalah dgn apa yang udah kamu pelajari, bukan merasa malu kapan kamu belajar itu.
Melihat sesuatu dari sudut pandang yg berbeda sekarang sebenarnya hal yang bagus.
===
Apa pengalamanmu yg kadang bikin malu kalau dibahas?
Aku setuju dengan statement ini:
"Bahwa hidup akan jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. Not everything is our attention, not everything deserve our energy. Ada banyak hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa harus selalu kita dengar, kita bahas, ataupun kita lihat".
#NasihatPernikahan
Akhir2 ini, saya lagi nyari sebanyak-banyaknya ilmu tentang pernikahan. Nemu video ini, Bu Rani Anggraini Dewi, seorang konselor keluarga.
Berikut catatannya:
"Harusnya suami-istri itu adalah pilot dan co-pilot. Mereka duduknya berdampingan. Co-pilot gak duduk di belakang, tapi di samping pilot. Makanya perlu tau tujuannya juga, mau dibawa ke mana keluarga"
"Pernikahan yg sehat harus didasari oleh kesadaran dari dalam diri (kebutuhan biologis, emosional, dan spiritual), bukan sekadar tekanan lingkungan atau ekspektasi orang lain"
"Pernikahan seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh bersama. Pasangan harus saling support agar potensi diri tetap bisa berkembang setelah menikah"
jujur dah konten kreator foodie yg ngejelasin sampe ke tutorial belinya gimana perlu diapresiasi dan ramein, krn berguna banget buat orang yg ga pernah beli itu makanan contohnya gue yg ga pernah ke aeon mall begini. sumpah helpfully bangettttttttttt
Dear Business Owner,
Yang mau mikirin urusan bisnis mu sampe segitunya. Yang mau beresin sampe tuntas masalah-masalah terkecil sampe paling besar. Yang mau sampe pusing tiap saat turun tangan. Yang mau maksimal ke bisnis mu.
YA EMANG CUMA DIRI MU SENDIRI.
Ga ada karyawan yang punya rasa memiliki segitu besarnya sampe mau dedikasiin hidupnya cuma buat bisnis mu.
Makes sense ya.
Nemu kata kata cantik banget dan MasyaAllah :
"Kenapa kita butuh sholat 5 kali sehari ?
Karena tak ada satu pun di dunia ini yang rela bertemu denganmu lima kali sehari, dalam keadaan senang, sedih, susah, patah hati atau kuat, kecuali Allah."
Such a beautiful reminder 🥺
Pesan hari ini:
Janganlah kamu terlalu membebani diri sendiri dgn berusaha memperbaiki citramu dimata orang lain; krn kamu akan jd biasa saja bagi mreka yg tdk mengenalmu, sombong bagi mereka yg membencimu, diterima oleh mereka yg mengenalmu, & istimewa bg mereka yg mencintaimu.
Alasan kenapa kamu harus mulai mendokumentasikan hidupmu adalah karena waktu nggak bisa diulang.
Banyak momen yang kelihatannya biasa aja sekarang, hari-hari sederhana, obrolan random, hal kecil yang kamu rasain, tapi beberapa tahun lagi, itu bisa jadi hal yang paling kamu kangenin. Sayangnya, ingatan manusia terbatas. Apa yang hari ini terasa jelas, pelan-pelan bisa kabur, bahkan hilang.
Anak perempuan sebaiknya tidak berjilbab terlalu dini. Alasannya bukan agama, tapi kesehatan.
Studi menunjukan anak-anak di Indonesia kekurangan vitamin D. Prevalensi ini terjadi lebih banyak bagi anak perempuan terutama di sekolah islam.
Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah karena jilbab yang mengurangi eksposur anak perempuan terhadap matahari.
Faktor lainnya, sebenernya perempuan di asia punya behaviour menghindari sinar matahari. Ditambah lagi, anak-anak di Indonesia ini berkulit gelap dan masih banyak yang malnutrisi.
https://t.co/brLfzT5gZz
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
Percayalah, kalo nyari yg bener2 sempurna dan plek ketiplek sm kriteria kita, yg ada nanti selalu gak puas dan gak mau menerima kekurangan pasangan.
Kata mentor saya, selama gak ada masalah yg dilarang agama atau masih bisa didiskusikan, ya gapapa. Salah satu indikator siap nikah itu, siap menerima kekurangan pasangan.
Daripada nyari yg 'sempurna', mending kita ikut memantaskan diri jg. Percaya gak percaya, jodoh adalah cerminan diri. Sembari ikhtiar, jg terus berdoa.
Ada perhatian tak kasat mata: ia bernama doa.
masih menjadi sebuah pertanyaan kenapa setelah bahagia tertawa lebar selanjutnya bisa nangis sesenggukan..
atau mungkin kita tidak bisa bahagia sepenuh 24 jam?