dari karl marx dilanjutkan oleh antonio gramsci. bagaimana mekanisme penindasan kapitalisme bisa terasa normal lewat hegemoni. bagaimana kita terbiasa memberikan kewajaran atas sistem yang menindas ini. kita dipaksa untuk tunduk pada logika kepatuhan.
kapitalisme memang akan terus memperlakukan disabilitas sebagai beban, karena logikanya adalah produktivitas dan profit. kapitalisme gak akan mau menyesuaikan diri sama keberagaman manusia dan gak akan paham sama interseksionalitas. ini sistem memang pantas diludahin.
Orang Indonesia kan lebih seneng sesuatu yang simbolis dari pada bermakna. Hari Kartini sibuk pake kebaya, tapi seharian apatis. Hari raya keagamaan sibuk beli ornamen, baju baru, makanan, tapi masih nyakitin sesama, ibadah formalitas. Bertahun-tahun begitu.
Pada zine terakhir, kami 'memindahkan' tulisan dari @zenrs tentang bahaya laten impunitas. Menurut kami Gamma, Afif, kasus pembantaian Kanjuruhan (yg terang benderang) dan kejadian2 lain menyoal kekerasan aparat, terus berlangsung salah satunya karena impunitas.
#1312Forever
Sudah sejak zaman kuno kok
Socrates misalnya dia kan filsuf, tapi hidupnya penuh konflik sosial bahkan di jauhi, Kenapa?
Karena dia punya kebiasaan mempertanyakan keyakinan orang lain secara terbuka, sesuatu yang membuat banyak orang merasa gak nyaman.
Nietzsche yang pengaruhnya luar biasa besar pun juga demikian, hampir tidak punya teman dekat di akhir hidupnya.
Arthur Schopenhauer terkenal sinis dan penyendiri. Nikola Tesla meninggal sendirian di kamar hotel.
Kenapa mereka bisa kayak gitu? Simpel nya sih karena kesenjangan pola pikir aja.