Faktanya:
• Pendapatan PLN thn 2025 Rp582 triliun (naik 6,84%).
• Laba bersih anjlok jadi cuma Rp7 triliun (turun ~66%).
• Tarif listrik resmi nggak naik sejak 2022 sampai sekarang (Triwulan II 2026 tetap sama, pemerintah “jaga daya beli rakyat”). Tapi tagihan banyak yang melonjak 2-3x lipat gara-gara “konsumsi naik” katanya.
• Stok batu bara PLTU Jawa-Bali sering di bawah 10-15 hari (padahal standar aman minimal 25 hari).
• Pemerintah potong kuota batu bara domestik + regulasi ribet, akhirnya PLTU kekurangan pasokan.
Intinya: Tarif nggak naik di kertas, tapi rakyat tetap merasakan “kenaikan” lewat pemadaman bergilir + tagihan membengkak.
PLN nerima duit full, tapi pas butuh beli batu bara tiba-tiba “masalah teknis operasional” + “pasokan menipis”.
Ini bukan manajemen energi, ini manajemen alasan level dewa.
Rakyat bayar listrik mahal buat subsidi silang + bayarin proyek2 gede, tapi pas listrik mati tiap minggu, jawabannya cuma “maaf ya”.