@karirfess Hutang pemerintah sampai saat ini itu sebesar Rp 9600 Trilyun....sampai dgn bulan Feb 2026 pendapatan negara Rp 358 T dan pengeluaran negar Rp 493.8 T jadi Kita dalam kondisi bermasalah besar karena defisit (Rp 358 T - Rp 493.8 T)= Rp -135.8 Trilyun....
Negara ini tidak perna bisa memanfaatkan selat Malaka sebagai sumber pendapatan negara. Hanya menjadi penonton lalu lintas triliunan dolar tiap tahunnya, kalah jauh dengan Singapura,
Wabah Penyakit” yang Bernama Zulkifli Hasan
Salah satu hal yang menyebalkan hidup di Indonesia yaitu, kita dihadapkan sebuah fakta bahwa ada banyak sekali pejabat yang tidak kompeten, mementingkan keluarga dan berorientasi ke laba ketika menjadi seorang pejabat negara.
Salah satu spesies yang menurutku menyebalkan ialah, Zulkifli Hasan. Bagaimana tidak? Menjelang akhir masa jabatan Jokowi, Kemendag mengatakan bahwa ada kemungkinan bagi platform asal China yang bernama TEMU untuk ekspansi ke pasar Indonesia jika mau untuk mengikuti aturan yang berlaku. Jika hal itu terjadi, pelaku UMKM lokal (terutama kecil) akan mengalami kiamat usaha.
Sebagai bahan informasi, produk yang dijual oleh marketplace asal China itu memakai strategi pemasaran direct selling. Artinya, perusahaan memproduksi sebuah baju (misal) kemudian baju itu dijual langsung ke konsumen dengan harga di bawah pasar Indonesia. Maksudnya?
Misal perusahaan A memproduksi baju dan menghasilkan harga jual Rp 10 ribu, kemudian dikirim ke distributor dan distributor menjual dengan harga Rp 12 ribu. Lalu, dari distributor disalurkan ke pengecer, dan dari pengecer ke konsumen diberikan harga Rp 14 ribu. Maka sudah jelas, dari produsen ke distributor ke pengecer, mereka memiliki untung masing-masing.
Sedangkan, jika produk itu berasal dari TEMU dengan harga Rp 10 ribu dan dijual langsung ke konsumen dengan harga yang sama, tentu akan ada price gap yang tidak sedikit. Alhasil? Konsumen akan membeli produk (asing) dari TEMU karena harganya murah. Imbasnya? UMKM (produk lokal) akan kolaps, karena user lebih memilih produk yang dijual oleh TEMU.
Maka dari itu, banyak pengamat termasuk Saya merasa cemas dengan kabar ekspansi TEMU ke Indonesia. Dan, ketika kabar tentang TEMU menjadi viral, pihak Menkominfo (saat itu) memutuskan untuk memblokir platform tersebut. Sedangkan Kementerian Perdagangan mengatakan bahwa, ada peluang bagi TEMU untuk masuk ke Indonesia.
(Sebuah Esai)
Wabah Penyakit” yang Bernama Zulkifli Hasan
Salah satu hal yang menyebalkan hidup di Indonesia yaitu, kita dihadapkan sebuah fakta bahwa ada banyak sekali pejabat yang tidak kompeten, mementingkan keluarga dan berorientasi ke laba ketika menjadi seorang pejabat negara.
Salah satu spesies yang menurutku menyebalkan ialah, Zulkifli Hasan. Bagaimana tidak? Menjelang akhir masa jabatan Jokowi, Kemendag mengatakan bahwa ada kemungkinan bagi platform asal China yang bernama TEMU untuk ekspansi ke pasar Indonesia jika mau untuk mengikuti aturan yang berlaku. Jika hal itu terjadi, pelaku UMKM lokal (terutama kecil) akan mengalami kiamat usaha.
Sebagai bahan informasi, produk yang dijual oleh marketplace asal China itu memakai strategi pemasaran direct selling. Artinya, perusahaan memproduksi sebuah baju (misal) kemudian baju itu dijual langsung ke konsumen dengan harga di bawah pasar Indonesia. Maksudnya?
Misal perusahaan A memproduksi baju dan menghasilkan harga jual Rp 10 ribu, kemudian dikirim ke distributor dan distributor menjual dengan harga Rp 12 ribu. Lalu, dari distributor disalurkan ke pengecer, dan dari pengecer ke konsumen diberikan harga Rp 14 ribu. Maka sudah jelas, dari produsen ke distributor ke pengecer, mereka memiliki untung masing-masing.
Sedangkan, jika produk itu berasal dari TEMU dengan harga Rp 10 ribu dan dijual langsung ke konsumen dengan harga yang sama, tentu akan ada price gap yang tidak sedikit. Alhasil? Konsumen akan membeli produk (asing) dari TEMU karena harganya murah. Imbasnya? UMKM (produk lokal) akan kolaps, karena user lebih memilih produk yang dijual oleh TEMU.
Maka dari itu, banyak pengamat termasuk Saya merasa cemas dengan kabar ekspansi TEMU ke Indonesia. Dan, ketika kabar tentang TEMU menjadi viral, pihak Menkominfo (saat itu) memutuskan untuk memblokir platform tersebut. Sedangkan Kementerian Perdagangan mengatakan bahwa, ada peluang bagi TEMU untuk masuk ke Indonesia.
(Sebuah Esai)