Ini yg dikemukakan ama beberapa ahli ekonomi tempo hari.
Kenaikan barang itu terjadinya perlahan, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, baru bahan jadi.
Kenaikan bensin itu baru langkah awal, yg akan memberikan efek domino ke naiknya harga2 yg lain.
Yg tercekik itu yg finansialnya dan gajinya terbatas.
Tenang, walau 1 dollar skrng udah 18.000
Itu artinya rupiah lagi dilemahin, biar ekspor josss, toh beli tempe goreng masih pake rupiah. Ga pake dolar.
Amanlah.
Itu buktinya ibox, resto mewah, event2 fashion tetep rame.
Ini ulah mata2 asing yg buat gaduh.
Jaya jaya jaya
@tirta_cipeng Tergantung alcohol tolerance ga sih dok? Kalonga salah secara genetik, orang Eropa cenderung lebih tahan dibanding sama orang asia, terutama asia Timur. Mirip lactose intolerant, gained adaptation.
@tirta_cipeng Sawit dkk kan dijual dollar, sementara ongkos produksi nya kan rupiah (gaji, pajak, dkk). Sekarang di logika aja, kurs rupiah katakan lah 5000, kalo sama sama jula 1 juta ton di rupiah in, untung an mana kalo kalo rupiah 17.000 wkwkwk
Padahal gaji, PAJAK, dkk ga berubah.
@aguspok@txtdaritaxpayer Gini gini aja kemungkinan sampai 2035. Ga tahu nanti yah kalo demografi nya jebol wkwkwk... Usia emas ga produktif, tuanya jadi beban... Pejabat sama pengusaha oligarki mah enak bisa "pindah negara", lah orang biasa? Wkwkwkwk
@gastronusa Mark my words, selama ekonomi kita ini masih highly extractive (tambang, sawit, bahan mentah), ga ada kebutuhan mendesak untuk jadikan populasinya pinter (highly industrialized country). Sampe kiamat pun orang bodoh di Indonesia di pelihara, orang lumbung suara.