semesta menyukai hati orang-orang yang lapang; dibanding untuk fokus terhadap hal buruk dan merasa tersakiti, kamu justru fokus terhadap ketenangan tanpa selalu ingin dimengerti.
disitulah aku, kamu, kita semua bersiap untuk selalu tumbuh.
Selama dua dekade, setiap empat tahun sekali selalu ada satu nama yang tak pernah absen menghiasi panggung terbesar sepak bola: Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro.
Generasi berganti. Pelatih datang dan pergi. Format turnamen berubah. Teknologi VAR diperkenalkan. Bintang-bintang baru bermunculan.
Namun satu hal tetap sama. Cristiano Ronaldo selalu ada disana.
Ia menjalani debut Piala Dunia pada 2006. Ketika itu banyak pemain yang kini menjadi bintang bahkan belum memulai karier profesionalnya, beberapa bahkan belum lahir. Dua puluh tahun kemudian, ia menutup perjalanannya di Piala Dunia dengan menghadapi generasi yang tumbuh besar sambil menyaksikan dirinya.
It’s crazy how extraordinary Cristiano Ronaldo’s longevity has been.
Empat tahun dari sekarang, Piala Dunia akan kembali bergulir. Akan ada juara baru, bintang baru, dan cerita baru. Namun untuk pertama kalinya sejak 2006, tidak akan ada lagi nama Cristiano Ronaldo.
Football will move on. The World Cup will move on. But for millions who grew up watching him, it will never quite feel the same again.
Obrigado, Cristiano. 🐐❤️
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
Ada fans yang bikin cuplikan passing mateng Bruno yang gak jadi gol.
Gila juga kalo dalam semusim semua chances ini jadi gol. Sampe kiamat gak bakal ada yang bisa ngejar itu rekor assist 🤪
Kenal sama United pas kecil disana ada Beckham, Giggs, Scholes.
Lalu tumbuh bersama Rooney, Fletcher, Ferdinand.
Saat ini, ketika tim ada di posisi paling buruk, ternyata gue bisa jatuh cinta lagi sama pemain.
Cinta itu bernama Bruno Fernandes 🥹❤️
prabowo nih ditanyain soal IHSG anjlok bilangnya "rakyat desa ga main saham", sekarang pas rupiah lagi lemah ngomongnya "rakyat desa nggak pakai dollar".
rakyat desa rakyat desa mulu ajg, lu itu presiden bgst, bukan lurah.
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Melihat footage kecanggihan dan kedahsyatan “perang” drone tempur baik Shahed-136 buatan Iran maupun Lucas buatan Amerika, tampaknya kita harus sadar diri bahwa level kita masih jauh.
Dalam urusan per-drone-an duniawi, level kita masih berkutat di perkara pungli izin penggunaan drone di tempat wisata buat video pre wedding.
Anggaran MBG setahun sama dengan anggaran bukber di Masjid Jogokariyan, Jogja selama 15,5 tahun...
Sama-sama gratis, bedanya menu bukber di Masjid Jogokariyan pastinya lebih sedap, lebih bergizi dan lebih higienis daripada MBG... belum pernah ada kasus keracunan massal dalam penyajian bukber di Masjid Jogokariyan selama 22 tahun...
Dengan budget Rp. 15 ribu/porsi, setiap hari biasa disajikan hingga 4.000 porsi makanan gratis bagi jama'ah atau umum yang mampir ke masjid...
Semua anggaran bukber di Masjid Jogokariyan berasal dari donasi jama'ah yang diberikan secara ikhlas... gak seperti MBG yang memotong dana untuk pendidikan...
Video : IG debiprt
Di reply, cukup banyak yang denial terhadap hasil survei ini. Kalau saya pribadi yakin hasil survei Indikator ini bisa dipertanggungjawabkan.
Di lapangan, 72% masyarakat memang puas dengan MBG (setidaknya menurut hasil survei Indikator ini). Tapi, perlu digarisbawahi, puas bukan berarti baik. Itu dua hal yang berbeda.
Puas dan tidak puas, suka dan tidak suka, itu urusan persepsi. Sedangkan baik atau tidak, itu urusan analisis.
Sebagai contoh, masyarakat kita suka dengan amplop serangan fajar jelang pemilu karena memang politik uang dalam iklim pemilu kita sangat kental. Lantas, hanya karena banyak masyarakat suka dan senang saat menerimanya, apakah kemudian serangan fajar itu menjadi baik? Tentu saja tidak.
Ini sama seandainya masyarakat kelompok pengangguran diberikan dua pilihan, antara dikasih duit 500 ribu atau kursus pelatihan vokasi. Niscaya akan lebih banyak yang memilih 500 ribu alih-alih kursus pelatihan vokasi. (Fenomena ini dikenal dengan istilah diskon hiperbolik).
Mana yang akan lebih membuat masyarakat puas? Jelas duit 500 ribu. Tetapi secara analisis sederhana, mana yang jauh lebih baik dan efektif untuk mengatasi pengangguran? Tentu saja kursus pelatihan vokasi.
Sikap itu pula yg saya yakini sampai sekarang. MBG saat ini adalah program yang pasti membuat banyak orang puas. Baik penerima, pekerjanya, maupun siapa saja yang kebagian proyeknya. Tetapi, apakah MBG adalah program yang baik? Di mata saya, setelah membaca banyak berita dan pendapat orang-orang yg saya percayai dan saya yakini keilmuannya, saya masih yakin, MBG adalah program yang bukan hanya buruk dan tidak tepat prioritas, tetapi juga politis.
Namun, kalau ada yang menganggap MBG sebagai program yang bagus, oke, keren, luar biasa, ya silakan. Pemikiran orang kan beda-beda. 😅
Pesan yg dikirimkan oleh Timnas Futsal Indonesia dgn keberhasilan lolos ke final Futsal Asian Cup 2026 menjadi begitu jelas.
Futsal Indonesia bukan lagi pelengkap, tetapi telah tiba di jajaran elite futsal Asia. Kita telah menjadi kekuatan yg disegani, sebuah tim yang mampu membuat raksasa seperti Iran dan Jepang merasa terancam.
Ke depan jalannya semakin terjal dan menantang. Terutama utk menjaga konsistensi prestasi lewat pembinaan berkelanjutan dan penguatan ekosistem futsal nasional.
Sehingga pencapaian Final 2026 ini bukan cuma menjadi puncak sesaat, bukan prestasi yang kebetulan. Tetapi menjadi jejak awal dari mapannya kekuatan futsal Indonesia di kancah internasional.
Kita semua menantikan pencapaian besar berikutnya dari Tim Nasional Futsal Indonesia. Semoga semakin kuat. Semoga beruntung..
📸: Timnas Futsal