What happened when thousands of Israelis stormed the Al-Aqsa Mosque compound under Israeli police protection, led by National Security Minister Itamar Ben-Gvir?
Al Jazeera’s Leila Warah explains.
To the self-proclaimed moderates, liberal Zionists, and centrists:
You forfeited any moral authority the moment you chose to tone police people outraged by a genocide instead of firmly opposing the genocide itself.
And now, as Zionist settlers carry out pogroms against Palestinians in the West Bank, you’re repeating the same script of trying to police the outrage and protect the status quo.
We’re done pretending that’s a serious moral position. And we’re done toning down our outrage to accommodate your hypocrisy.
My full breakdown proves the innocence of Palestinian Civilian (Farouq Ramadan) and proves Full Self defense.
Video Summary:
Settler gets weapon seized by the Palestinian he was attacking. Settler tries to shoot Palestinian with pistol. Palestinian defends himself using rifle.
Israeli forces have raided some 70 homes and arrested around 50 Palestinians in the town of Tal, southwest of Nablus. Governor Ghassan Daghlas said "prolonged international silence" has encouraged attacks against Palestinians.
🔴 LIVE updates: https://t.co/1NwaJootmt
Egyptian superstar Mohamed Salah in a recent interview about the 2026 World Cup match against Lionel Messi.
“Messi is my idol,” Salah began, his voice steady but laced with disappointment.
“But I saw how we, the Egypt team, were cheated in that match. It was so unfair. They fouled me — that could have been a penalty, but the referee and VAR didn’t award it. The match was frustrating. Seeing a legend like Messi cheat to win matches is heartbreaking.”
“I’ve looked up to him my whole life. But football should be fair. That day… it wasn’t.”
BREAKING!
Armed Israelis are escalating DEADLY assaults against defenseless Palestinians in the West Bank!
They have reportedly just shot in cold blood five men in Tal village and Far'ata/Qalqilya.
Their leaders openly talk of #Gazification
THESE CRIMINALS MUST BE STOPPED!
Qatar has welcomed Belgium and the Netherlands' decision to ban imports from illegal Israeli settlements in the occupied Palestinian territory, calling on other countries to follow suit.
🔴 Live updates: https://t.co/RiY5bSpl8f
Aku sudah membaca laporannya.
Coba menanggapi dgn agak panjang.
Kalau dari analisis narasi digital dan psikologi media, penggunaan kata suddenly (tiba-tiba) dalam judul tersebut sangat tidak tepat dan cenderung bias.
Kata suddenly memberikan kesan seolah2 sentimen negatif ini muncul dalam semalam dari ruang hampa tanpa alasan.
Penelitian dari BlackbirdAI pd 235.000 akun dan hampir setengah juta postingan media sosial selama Piala Dunia 2026 menyatakan bahwa kemarahan publik itu otentik. Tidak ada jaringan bot. Tidak ada yang bisa membuktikan siapa yang dibayar.
(Sumber: https://t.co/ykl2YZ5iAi)
Artinya, kebencian pada Messi dan Argentina bukanlah hasil fabrikasi dari ruang hampa, melainkan sintesis hibrida yang berakar kuat pada kontroversi riil di dunia nyata. Hal ini sayangnya nggak dibahas atau mungkin sengaja diabaikan oleh penulis opini ini.
Sentimen kepada Messi dan Argentina adalah dinamika yg terjadi setelah melalui sebuah proses akumulasi jangka panjang. Jadi ada pengondisian kognitif yang berjalan lambat dan reaksi berantai terhadap peristiwa2 riil di dunia nyata.
Penulis opini tersebut melakukan bentuk reductionism dan penyederhanaan berlebihan yg menurutku sangat cacat secara empiris.
Opini itu mencoba membingkai perubahan opini publik sebagai 100% akibat permainan algoritma dan influencer.
Padahal penelitian2 termasuk dari Blackbird secara kritis membongkar bahwa banyak variabel riil di luar teknis lapangan yang berubah drastis antara 2022 hingga 2026.
Blackbird menyebutnya The Grievance Was Pre-compiled. Narasi bahwa kesuksesan Messi atau Argentina "diatur" (rigged) sebetulnya sudah diformulasikan oleh sebagian kelompok antipati sejak bertahun2 lalu.
Sejak 2014, menjelang final Argentina vs Jerman narasi ini sudah muncul di medsos. Saat Argentina akhirnya juara Piala Dunia 2022, narasi yang sudah mengendap selama 8 tahun hanya perlu diaktifkan kembali.
Ini adalah proses daur ulang narasi yang berjalan lambat, bukan ledakan emosi yg mendadak.
Tapi, kebencian publik nggak bergeser secara instan tanpa adanya pemicu nyata di dunia fisik. Reputasi Messi dan tim Argentina terkikis secara bertahap melalui serangkaian insiden nyata yang terjadi secara berurutan.
1. Februari 2024. Kontroversi laga persahabatan Inter Miami di Hong Kong. Saat itu Messi tidak bermain karena alasan cedera. Tp Messi bermain di Jepang tiga hari kemudian.
Peristiwa ini sangat melukai puluhan ribu penggemar lokal yg membeli tiket dgn harga selangit dan segera dipolitisasi oleh otoritas lokal dan media2 Tiongkok.
2. Juli 2024. Skandal nyanyian rasis Enzo Fernandez kpd pemain2 Prancis saat perayaan Copa America yang direkam secara langsung.
Meskipun Messi tidak ada di dalam video tersebut, posisinya sebagai kapten tim membuatnya ikut terseret dalam tuntutan akuntabilitas publik.
Wakil Sekretaris Olahraga Argentina Julio Garro bahkan dipecat dr posisinya krn menuntut Presiden AFA dan kapten tim Messi meminta maaf scr terbuka untuk meredakan ketegangan.
3. Piala Dunia 2026. Ketegangan rasial berlanjut. Ini termasuk kasus pelecehan rasis dr suporter Argentina thdp IShowSpeed. Ini ditambah dgn serangkaian kontroversi wasit dalam laga2 yg melibatkan Argentina.
Setiap peristiwa akhirnya menjadi bahan bakar yg disuntikkan secara berkala, membuat peralihan sentimen ini jadi proses akumulatif. Jadi, bukan perubahan yg terjadi secara mendadak dalam satu waktu.
Sepakat di tulisan itu bahwa dalam teori psikologi kognitif, seseorang nggak akan langsung mengubah pandangannya atau memercayai suatu klaim negatif hanya dengan melihat satu video klip.
Otak manusia memerlukan paparan berulang agar informasi baru terasa akrab (processing fluency) sebelum akhirnya memercayainya sebagai kebenaran umum.
Dibutuhkan sirkulasi ratusan video klip pendek yang dipotong tanpa konteks yg disajikan oleh algoritma secara terus2an selama berminggu2 utk membentuk persepsi tersebut.
Proses pengondisian ini berjalan lambat di bawah sadar. Dan ketika kesadaran kolektif itu akhirnya terbentuk di permukaan, audiens luar baru melihatnya seolah2 ini terjadi secara tiba2.
Menurutku secara ironis, pembuat konten yang menggunakan judul "Why everyone suddenly hates Messi" sebenarnya sedang menggunakan taktik pemasaran digital yg mengandalkan bias emosional.
Aku yakin penulisnya paham betul dgn teori ini.
Dalam industri attention economy, menyandingkan dua kondisi yang kontras secara ekstrem, seperti pahlawan yang tiba2 jadi penjahat adl formula terbaik utk menciptakan rasa penasaran dan memicu emosi tinggi pengguna media sosial.
Judul tersebut sengaja dirancang dramatis agar memicu klik, komentar defensif, atau perdebatan yg pada akhirnya justru menyubsidi algoritma platform utk terus menyebarkan konten tersebut.
Sekian.
Lihat Lamine Yamal berjalan dgn tenang, cuek, dan mengabaikan provokasi pemain2 Argentina.
Luis de la Fuente tahu bahwa Spanyol akan menghadapi provokasi2 seperti ini. Jd dia menekankan pemainnya utk jangan kepancing krn akan menghabiskan energi.
Bagi De la Fuente cara terbaik merespons provokasi adl melakukan ball possession dgn dominan.
Membuat Argentina masuk dlm jebakan komidi putar umpan2 Spanyol ternyata cara paling ampuh untuk membuat para pemain Argentina frustrasi scr fisik dan mental.
Pada Oktober 2011, setelah hanya 11 pertandingan melatih Deportivo Alaves di divisi ketiga sepak bola Spanyo, Luis de la Fuente dipecat.
Alaves hanya berada di posisi 8, susah sekali menang, rencana2 De la Fuente tidak berjalan baik.
Pemecatan itu membuat De la Fuente begitu terpukul.
Lalu, selama 1,5 tahun, De la Fuente menganggur. Dia menyebut periode itu sebagai, la 78 lunes al sol, 78 Senin di bawah terik matahari, 78 pekan jadi pengangguran.
Tabungannya terus menipis. De la Fuente dihantui bayang2 yg sangat ditakuti oleh pelatih manapun yakni dilupakan zaman.
Namun, alih-alih meratap, masa menganggur itu dipakai De la Fuente untuk melakukan rekonstruksi diri.
Dia berkendara melintasi Spanyol untuk mengamati sesi latihan banyak pelatih lain.
De la Fuente rajin membedah sistem radikal Marcelo Bielsa. Dia juga belajar bahasa Inggris dan menenggelamkan diri dalam buku-buku sejarah Romawi Kuno tentang gladiator, stoik, dan filsafat.
Sampai suatu hari, Gines Melendez, koordinator usia muda Federasi Sepak Bola Spanyol, mewawancarai De la Fuente pada Mei 2013 atas rekomendasi seorang kolega.
Saat itu, Melendez menemukan seorang pria istimewa yang telah melepaskan ego keduniawiannya dan pada akhirnya sejarah mencatat dia memenangkan segalanya.
Artikel agak panjang tentang pelatih Spanyol yang menjadi Juara Eropa, menjadi Juara Dunia meski tak pernah sekalipun melatih klub divisi tertinggi dalam kariernya: Luis de la Fuente.
https://t.co/fWdS21WblF
Menangnya Spanyol adalah kemenangan sepak bola yang bersih.
Pecinta bola lega, karena permainanan kasar meskipun bertabur bintang tidak menjadi arus utama sepak bola dunia.