Jenazah-jenazah ditemukan di perairan Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, pada Mei 1998.
Jenazah itu diduga adalah para aktivis korban penculikan.
๐ท@datatempo
#MajalahTempo#ArsipTempo#jenazah#aktivis#PulauSeribu
Beberapa musim terakhir, Casemiro sering kena kritik. Kelihatan lambat, kalah duel, dan selalu disalahin tiap United kecolongan lewat serangan balik. Tapi jujur aja, banyak yang lupa kalau dia sering ditinggal sendirian nutup area gila-gilaan.
Kini, Casemiro mulai terlihat seperti pemain yang tahu persis gimana caranya tetap relevan. Amorim nggak maksa dia buat jadi Superhero dengan lari ke empat arah sekaligus atau nutup ruang yang mustahil. Perannya lebih masuk akal: jaga ritme, jaga posisi, pilih momen, bukan kejar-kejaran sama waktu dan usia. Hasilnya? Tekel lebih tepat, passing lebih tenang, dan chaos di lini tengah jauh lebih terkendali.
Menariknya, apa yang muncul di United itu kebawa ke timnas Brasil semalam. Bukan kebetulan. Cara dia main di laga itu mirip dengan versi โbaruโ yang dia tunjukkan di klub: rapi, efektif, dan matang. Bahkan dia nyumbang gol lewat set-piece, sesuatu yang nunjukin kalau dia masih punya kontribusi di kotak penalti, bukan cuma di area bertahan.
Yang bikin pola ini makin kuat adalah konsistensinya. Dua pelatih berbeda, dua sistem berbeda, tapi Casemiro dipakai dengan cara yang mirip: bukan mesin pengejar bola, tapi gelandang yang mengandalkan pengalaman, sense posisi, dan keputusan yang presisi. Dan karena perannya jelas, kualitas dasarnya keluar lagi.
Kalau dibilang comeback, mungkin bukan comeback yang dramatis. Tapi disebut sebagai evolusi? Mungkin Iya, dan evolusi ini yang justru bikin dia layak dipuji.