PUSAKAYANA
Part Akhir - Tembang Pamungkas
(Bagian 2 - TAMAT)
Wujud Asli Pusaka Sukma pun muncul, Wanatunggal meraung, dan Mantra keramat telah terukir.
Kekuatan terbesar memasuki peperangan...
@bacahorror@ceritaht@IDN_Horor#bacahorror#diosetta
Ranukumbolo, senja menjelang malam. Gerimis tipis masih menetes, seolah membasuh segala luka yang ditinggalkan peperangan.
Di tepi danau, Mbok Sar duduk bersandar di tandunya. Rambutnya dibiarkan tergerai oleh angin, menatap jauh ke arah danau yang sunyi. Di depannya, tertancap dua pusaka kadewatan, Tombak Dhandamurti dan Busur Nararinggamasih memancarkan aura kekuatan, namun tampak kesepian. Tak bertuan.
"Tombak Dhandamurti... Busur Nararingga...” bisik Mbok Sar lirih. "Apa yang harus kita lakukan dengan dua pusaka ini, Jiwo?”
Mbah Jiwo menatap tajam ke ujung mata tombak, seolah mencoba membaca masa depan dari bayangannya.
"Kalau bisa dihancurkan seperti Danan
menghancurkan Cakram Bayulodra... Tapi kekuatan
seperti itu tak bisa diulang begitu saja.”
Mbok Sar menghela napas panjang. "Pusaka semacam ini... tak pantas berada di alam manusia.”
"Aku setuju...” jawab Mbah Jiwo pelan.
Hening beberapa saat, hanya suara rintik dan desir angin. Lalu langkah kaki mendekat.
Arumbraja dan Jaya Wira muncul dari balik kabut tipis.
"Saya ditugaskan Raja Indrajaya,” ucap Jaya Wira, suaranya tenang. "Tombak Dhandamurti harus disegel. Kerajaan kami memiliki cara untuk menguncinya di balik waktu.”
Arumbraja menimpali, "Busur Nararingga terbuat dari tulang titisan Sang Dasamuka. Jika dikembalikan ke jasadnya di zaman kami, kekuatannya bisa hilang selamanya.”
Mbok Sar dan Mbah Jiwo saling pandang. Kepercayaan itu mahal. Meski tahu keduanya sekutu, keraguan tak bisa dihindari.
Saat itu Danan muncul, tubuhnya masih tampak kelelahan namun matanya tenang.
"Biarkan saja, Mbok.”
"Kekuatan pusaka itu... sudah terbagi. Tak lagi utuh.”
Cahyo ikut menyusul sambil memutar bahu.
"lya, Mbah Jiwo. Lebih aman kalau pusaka- pusaka ini jauh dari zaman kita. Apalagi kalau sampai jatuh ke tangan yang salah...”
Mbah Jiwo mengangguk perlahan. la setuju dengan pernyataan mereka berdua. Namun saat itu Mbah Jiwo lebih bingung dengan keberadaan sosok pria bertopeng bujang ganong yang mengelus-elus dua pusaka itu.
"Itu? Apa itu? maksudnya ngapain ngelus- ngelus pusaka itu?” Tanya Mbah Jiwo pada tegar.
"Hehe... pusakanya keren, Mbah.” sahut Tegar santai.
"Tapi di kampungku, paling dipakai buat jemur baju.”
“Jemur baju mbahmu!” semprot Cahyo kesal. “Nggak Mas Cahyo... Mbah saya udah nggak ada.”
“Innalillahi...” ucap Cahyo refleks, diikuti Danan.
“Nggak gitu maksudnya!!”
PLAKK! Cahyo langsung menyabet sarung ke kepala Tegar, yang malah cekikikan sambil menghindar.
Danan pun tak tahan menahan tawa.
Di antara lelucon itu, hadir kelegaan. Tawa yang dulu sulit ditemukan, kini terasa hangat dan tulus.
Tegar lalu kembali menatap pusaka, kali ini lebih serius.
“Biar lebih aman, aku bisa pasang mantra segel. Nggak menyegel penuh, tapi cukup buat ngurangin pamornya. Supaya nggak diincar makhluk-makhluk iseng lagi.”
Mbok Sar mengangguk. Yang lain juga setuju.
Mengetahui mereka punya seorang ahli mantra adalah berkat yang tak disangka.
Tegar melepaskan topengnya. Wajahnya kini tampak lebih dewasa, mata yang biasanya jenaka kini menatap dalam ke arah pusaka.
"Tapi...” katanya. "Mantra ini... butuh bayaran.”
"Jangan bilang tumbal...” potong Cahyo, waspada.
"Enggak! Tapi... bayarannya cukup mahal.” Tegar menegakkan tubuhnya.
"Satu pusaka... tiga puluh lima ribu...” ucapnya polos.
Nadanya datar. Polos.
Hening.
"APA?!” Mbok Sar sampai hampir berdiri.
"Tiga puluh lima ribu... buat mantra segel pusaka kadewatan?!”
"Lho, saya diskon itu... soalnya sekalian dua,” jawab Tegar kalem.
Mbah Jiwo tersenyum kecil, memandangi mereka semua. Anak-anak muda yang penuh luka namun masih bisa tertawa.
Dan di tengah gerimis yang perlahan berhenti, di bawah langit senja yang merekah, mereka duduk bersama.
Tak ada lagi perang. Tak ada lagi dendam. Hanya danau yang sunyi... dan hati-hati yang mulai pulih.
***
PUSAKAYANA - TAMAT
TIGA PENGUASA ZAMAN
"EYAAANGG!!!"
Guntur berlari pontang-panting, napasnya memburu, menerobos kabut malam menuju tanah lapang tempat Nyai Jambrong berdiri menatap langit. Di sampingnya, Kang Jawir bersedekap tegang, sementara Nyai Runtak duduk bersila dengan mata terpejam, memusatkan batin.
“Plakkk!!”
Telapak sandal jepit mendarat tepat di wajah Guntur, memaksa tubuhnya jatuh terguling di tanah.
"Bocah edan! Malem-malem teriak-teriak kayak kesurupan setan!" semprot Nyai Jambrong sambil menyesap sirih di giginya.
"G-gawat, Eyang..." Guntur berusaha bangkit sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Apa yang gawat? Jangan sok panik!!"
"Heuh, Nyai..." Kang Jawir menengahi. "Dengerin dulu, kasian ini bocah teh, napasnya masih nyangkut di dengkul."
Guntur mengatur napasnya. "Dirga... Mas Danan... Paklek... Mas Cahyo... mereka semua tidak bisa bertarung untuk sementara. Kita harus menahan gelombang serangan setan-setan itu sampai mereka kembali!"
Mata Nyai Jambrong menyipit. "Jadi... mereka sudah menemukan cara untuk menandingi tiga pusaka Kadewatan itu?"
"Mu... mungkin, Eyang..."
Plakk! Satu lagi tamparan sandal jepit menghantam kepala Guntur.
"Terus apa yang gawat?!"
"Ya... karena kita yang harus menahan mereka duluan, Eyang!"
"SALAH!" Bentak Nyai Jambrong tajam. "Yang gawat itu kalau kita bertarung tanpa tahu caranya menandingi kekuatan mereka! Bahkan jika sosok yang mengaku dewa turun dari langit, kau harus siap menghadapinya tanpa gentar! Kau muridku, Guntur!"
Guntur terdiam. Perkataan gurunya itu menghantam jiwanya lebih kuat dari sandal jepit. Ia sadar: ini bukan waktunya takut. Ini waktunya berdiri.
…
"Donggggg!"
Suara gong gamelan menggema dari kejauhan, membelah keheningan. Tak lama kemudian—DUARR!—suara ledakan memecah malam dari balik sisi hutan. Tanah bergetar. Langit menggulung.
"Mereka tiba..." gumam Nyai Jambrong.
Angin berhembus kencan, hujan turun dengan deras, seketika alam di sana mengamuk seolah enggan menerima kedatangan sosok itu.
Aliran kekuatan hitam merasuk ke tanah. Sosok-sosok hitam perlahan membentuk wujudnya seolah baru saja tercipta dari tanah. Namun makhluk-makhluk itu adalah perwujudan sukma yang menjadi tumbal untuk mereka.
“Sukmo ireng, aku tidak suka keramaian. Bereskan mereka!” perintah sosok pendekar tua yang menggenggam erat tombak pusaka di tangannya. Tombak Dandhamurti.
Sosok bayangan hitam berwujud manusia bermata merah itu memerintahkan makhluk-makhluk pengikutnya itu untuk bangkit. Ia tak berkata apapun, namun setan-setan itu mengerti maksudnya. Mereka merangkak, berlari, menyeret tubuhnya keluar dari hutan mengincar manusia-manusia yang ada di sana.
“Takkan kubiarkan!” Guntur panik melihat kemunculan sosok-sosok itu. Ia bersama Nyai Jambrong, ditemani Kang Jawir yang menggendong Nyai Runtak berlari ke kerumunan makhluk hitam itu.
“Nyai Runtak teh bisa tidurkan makhluk-makhluk itu?” Tanya Kang Jawir.
“Tidak semua.. beberapa dari mereka lebih kuat dari ilmuku, Jawir,” jawab Nyai Runtak.
“Sisanya biar kami yang urus,” Tambah Nyai Jambrong.
Guntur bersiap dengan bentrokan yang akan terjadi. Walau yakin bisa mengalahkan pasukan Sukmo ireng itu, ia sangat yakin bahwa pendekar tua pembawa tombak Dandhamurti itu bisa menghabisinya dengan mudah.
Tapi sebelum bentrokan itu terjadi, tiba-tiba pasukan sukmo ireng tertarik masuk ke dalam tanah. Mereka semua menghilang dengan kekuatan misterius yang menaklukkannya.
“Apa yang terjadi?” Guntur bingung melihat apa yang terjadi. Tapi wajah Sukmo ireng terlihat kesal.
“Raden Sangkara…” Sosok perempuan berkebaya hitam yang mendampingi pendekar tua itu memperingati datangya kekuatan besar.
“Nyi Sirep, jangan khawatir. Bahkan jika seluruh makhluk di tanah ini melawanku, mereka akan musnah dengan kekuatan tombak Dandhamurtiku ini..” Ucap Sosok Raden Sangkara tenang.
Suara langkah kaki mendekat dari belakang. Sosok sumber kekuatan yang memusnahkan pasukan sukmo ireng itu pun muncul dengan wayang di tangannya.
“Raden Sangkara, Sukmo Ireng, Nyi Sirep.. Kalian hidup di zaman ini, namun kalian justru membawa kehancuran di zaman kalian hidup?” Suara Arsa terdengar bersama alunan gamelan yang mengiringinya.
“Makhluk-makhluk itu pengikutmu?” Tanya Nyi Sirep yang tak meremehkan Ki Arsa.
“Bukan urusanmu! Kalian hanyalah makhluk yang harus dimusnahkan dari zaman ini!” Kali ini Arsa terlihat lebih tegas dari sebelumnya.
“Arsa! Berhati-hatilah, tombak itu bahkan bisa membelah bukit,” Peringat Nyai Jambrong.
“Ternyata Nenek peyot itu lebih pintar darimu!” Ucap Raden Sangkara.
Tak ingin membuang waktu, Raden Sangkara mengangkat tombak Dandhamurti, ia mengarahkan tombak itu pada Arsa dan menusuknya dari jauh.
Serangan itu menumbangkan pohon-pohon di sekitarnya, namun sebelum dampaknya sampai kepada arsa, serangan itu tertahan oleh sosok bayangan hitam yang mengenakan pakaian kerajaan layaknya tokoh pewayangan. Ia menahan serangan itu dengan sebuah tombak yang memancarkan kekuatan terus menerus.
“Tidak mungkin..” Raden Sangkara tak percaya ada yang mampu menahan kekuatan Tombak Dandhamurti.
“Guntur, Nyai Jambrong, Kang Jawir… serahkan mereka pada kami. Sosok lain akan tiba sebentar lagi..” ucap Arsa.
Cahyo tak percaya. Ia mengenali lelaki tua itu. Meski tubuhnya kini hanya roh, Kerta tetap Kerta—teman seperjuangannya saat ia terlempar ke masa lalu.
“Lama tak jumpa, Cahyo. Rasanya seperti… ratusan tahun.”
“Kenapa rohmu masih ada di dunia ini?” tanya Cahyo, perih melihat sahabat lamanya belum bisa pergi dengan tenang. “Apa yang membuatmu tertahan?”
“Hrrrr…” Rangkara menggeram pelan, menyapa sahabat manusianya.
“Kami hidup bahagia, Cahyo,” jawab Kerta. “Setelah kau kembali ke waktumu, aku mengembara. Banyak hal terjadi. Tapi sampai tua pun… kami tak pernah melupakan pertarungan kita bertiga.”
Cahyo terdiam. Dadanya hangat. Kenangan itu kembali.
“Saat aku meninggal, Rangkara memilih menjaga makamku. Ia menunggumu… dan Wanasura. Ia menunggu waktu ini. Dan saat aku sadar, aku tak tega meninggalkannya sendiri. Kami menunggu bersama.”
Cahyo tersenyum. Ada kesetiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata di antara mereka.
“Kalau begitu, ini adalah waktunya kalian kembali…”
Ia pun memanggil Wanasura dan Wanasudra. Dua sosok roh kera agung itu keluar dari tubuh Cahyo dan Kliwon, berdiri gagah di hadapan Rangkara.
Kerta terkesiap. Bahkan dalam wujud roh, ia masih takjub melihat wujud asli dua pelindung Alas Wanamarta.
Rangkara berlutut. Namun Wanasura dan Wanasudra menahan gerakannya. Mereka menghormati Rangkara.
“Dia tak kalah kuat…” gumam Cahyo. “Bahkan mungkin setara dengan mereka berdua.”
Namun Cahyo sadar: Wanasura tak bisa terus berada di dunia manusia. Tubuh ragawinya telah tiada, dan jika terus di sini, rohnya akan musnah.
“Masuklah kembali ke tubuhku,” ujar Cahyo. Dan Wanasura pun kembali, menyatu dengan tubuh Cahyo. Kerta menyayangkan kejadian itu, namun ia juga sadar bahwa matinya raga wadah wanasuralah yang membuat Cahyo dan Wanasura menjadi sahabat.
Kerta lalu mendekati tubuh Kliwon yang kini kosong.
“Biar aku yang menjaganya. Selesaikan pertarungan kalian. Rangkara sudah tak sabar untuk kembali ke medan pertempuran.” Ia menatap Cahyo, tulus.
“Bawalah dia, demi perang yang akan menentukan segalanya.”
Cahyo mengangguk.
Sebelum ia pergi, Kerta kembali memanggil, “Cahyo…”
Cahyo menoleh.
“Kekuatan terbesar pelindung Alas Wanamarta kini ada di tubuhmu. Bahkan para dewa akan merasa ngeri melihat cahayanya. Jangan pernah… ragu.”
“Aku mengerti,” Cahyo menunduk hormat. “Aku pastikan kalian akan pergi dengan tenang, setelah semua ini selesai.”
“Tidak semua roh ingin pergi, Cahyo,” jawab Kerta dengan senyum ringan. “Beberapa memilih untuk tetap menjaga.”
…
Cahyo pun melangkah pergi, meninggalkan tubuh Kliwon dan Kerta. Ia menuju Ranu Kumbolo, tempat pertempuran besar akan meletus. Kali ini, ia tak sendiri. Tiga roh kera raksasa menyatu dalam tubuhnya—Wanasura, Wanasudra, dan Rangkara.
Dalam perjalanannya, Cahyo tiba-tiba merasakan sesuatu aneh. Seolah kekuatan di dalam tubuhnya sedang mengingatkan sesuatu.
Samar… Sosok kera lain muncul di penglihatannya. Namun yang ini berbeda. Berbalut cahaya keemasan, dan jauh lebih agung dari apa pun yang pernah ia lihat.
“Wu—wujud ini…?”
***
“Dari akar rimba yang sunyi, pernah lahir kekuatan tanpa nama. Mereka yang dikira hilang, sesungguhnya hanya menunggu.
Makhluk digdaya pelindung Alas Wanamarta tak pernah mati. Ia hanya diam, hingga waktu penentuan memanggilnya kembali.”
PELINDUNG ALAS WANAMARTA
Cahyo berlari sekuat tenaga, mengikuti arah bulu Rangkara yang melayang cepat menembus udara dingin Mahameru. Hatinya berdebar. Saat itu ia sadar: pertempuran ini tidak kebetulan.
Segalanya seolah sudah ditakdirkan jauh sebelum langkah pertama para pemilik pusaka melintasi bumi. Pusakayana ini bukan sekadar konflik, melainkan tarian sejarah yang sedang kembali bergerak.
…
Di tempat lain, Wanasura menggeram keras dari dalam jiwa Cahyo. Sesuatu membangkitkan kegelisahan roh kera agung itu—perasaan yang hanya muncul bila kekuatan besar akan bangkit dari tidur panjangnya.
Tanpa diperintah, Wanasura merasuk ke kaki Cahyo, membuat tubuh anak muda itu bergerak lebih lincah, seperti dibimbing oleh naluri purba yang tak bisa dijelaskan logika manusia.
Hingga Cahyo sampai di satu titik. Di sana, seekor kera abu-abu berdiri di atas sebuah batu besar, menatap ke satu arah. Diam. Tegang. Matanya menyala dalam ketenangan yang mencurigakan.
“Kliwon?” panggil Cahyo, heran. “Bagaimana kau bisa lebih dulu sampai sini…?”
Namun gerak-gerik Kliwon tak seperti biasanya. Ia tampak gelisah, seperti tahu bahwa sesuatu yang luar biasa akan terjadi. Seolah nalurinya juga sedang beresonansi dengan kekuatan yang lama terkubur.
“Kau menanti kemunculannya, ya?” tanya Cahyo pelan, mendekat. “Aku tak menyangka… kalian mengenalnya.”
Kliwon hanya mengangguk. Perlahan. Diam. Penuh makna.
Cahyo mendekati bulu Rangkara yang masih melayang dan berkilau samar di bawah cahaya rembulan.
“Maaf… aku lupa menyampaikan salammu pada mereka,” ucap Cahyo. Kemudian ia mengepalkan tangan.
“Tapi bagaimana kalau kau sampaikan sendiri saja… RANGKARA!”
Seketika, bulu itu bersinar terang. Bukan berubah menjadi sosok kera raksasa seperti sebelumnya—melainkan menegang, bergetar, dan menghujam ke dalam tanah.
DEG!
Denyut jantung Cahyo melonjak. Matanya terbelalak. Bayangan dua ekor kera raksasa muncul di belakang dirinya dan Kliwon. Ia bisa merasakan resonansi kekuatan dari dalam bumi.
“Hrrrrr… Hrrrr…”
Tanah berguncang pelan. Dari dalamnya muncul sesosok kera hitam—Rangkara. Bukan bayangan, bukan manifestasi dari bulu pusaka. Tapi roh sejati. Sosok tua yang selama ini tidur, menyembunyikan dirinya dari sejarah.
“Rangkara…” Cahyo ternganga. “Kau benar-benar menanti masa ini?”
Tiba-tiba, muncul sosok roh manusia di sisi Rangkara. Rambutnya telah beruban, jubahnya lusuh, namun sorot matanya masih sama seperti dulu.
“Ke—Kerta?”
Tegar membuka mata. Napasnya berat. Namun dalam hati, muncul keyakinan baru.
“Aku harus mencoba…”
Ia berlari dalam gelap, mencari benda-benda yang dibutuhkan: kembang tujuh rupa, obor, dupa, kemenyan. Ia memindahkan tubuh Bli Waja ke atas meja kayu besar di halaman rumah. Dikelilinginya tubuh itu dengan lingkaran api kecil, lalu menaburkan bunga dan menyalakan dupa. Mantra-mantra aksara ia tulis di tanah dan tubuhnya sendiri, menyambung dengan yang ada di tubuh Bli Waja.
“Ini satu-satunya jalan… Ritual Geni Pangudang Sukmo.”
Cahaya rembulan menyinari mereka berdua. Aksara-aksara di kulit mulai bersinar, redup dan terang seperti bernapas. Angin berhenti. Kabut turun. Aroma dupa meresap ke udara.
Dan… mata-mata menyala mulai muncul dari kejauhan. Makhluk-makhluk tak kasat mata tertarik oleh energi ritual. Tapi tak satu pun dari mereka mendekat. Mereka hanya menyaksikan… diam… tak berani mengganggu.
Tegar terus membaca mantra. Suaranya serak, tubuhnya gemetar, namun ia tak berhenti. Puncak malam telah lewat, tapi tubuh Bli Waja belum juga bergerak. Mantra-mantra semakin cepat, napas Tegar semakin pendek, wajahnya memucat.
Suasana begitu senyap.
Tegar jatuh terduduk, nafasnya tinggal sisa. Ritual itu… gagal. Ia tak sanggup lagi.
Cahaya pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah atap yang lapuk. Keheningan menyelimuti tubuh Tegar dan Bli Waja yang sama-sama tak bergerak.
Ting…
Tegar mendengar sesuatu. Suara logam.
“Suara cawan itu…”
Dengan sisa tenaga, Tegar membuka mata. Ia berusaha bangkit. Menoleh ke meja. Bli Waja masih terbaring.
“Ilusi?”
Brakk! Tegar Kesal. Ia memukul meja kayu, frustasi, hampir putus asa.
Ting…
Suara itu terdengar lagi. Kali ini… lebih dekat. Lalu…
“Apa yang kau lakukan padaku?”
Seketika Tegar mendongak. Di hadapannya berdiri sesosok lelaki bertelanjang dada, dengan sorot mata yang ia kenal sangat baik.
“Bli… Waja?”
Ia menoleh ke belakang. Tubuh Bli Waja masih terbaring.
“Sukmaku terlepas dari hukuman langit. Tapi tidak dengan tubuhku.”
Tegar terdiam. Antara senang dan bingung. Tapi hatinya tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
“Aku akan coba lagi! Kali ini aku akan bangkitkan tubuhmu!”
Bli Waja menggeleng.
“Tidak sekarang, Tegar. Danan dan yang lain… mereka membutuhkan kita.”
“Tapi tubuhmu…”
“Sukmaku saja… sudah cukup untuk sekarang.”
Tegar mengangguk perlahan. Ia tahu waktunya tak banyak. Ia membaringkan kembali tubuh Bli Waja di tempat yang aman. Memasang kembali topeng Bujang Ganong-nya. Bersiap.
Langkahnya meninggalkan rumah tua itu, menembus kabut pagi.
Namun di belakangnya, suara Bli Waja terdengar pelan, dalam, dan penuh makna.
“Trah Yudaprana… Aku mengenal aksara mantramu… Seolah ilmu kita berasal dari akar yang sama…”
Dan di kejauhan, di medan tempur yang sedang bersiap menyambut pertarungan akhir, langit mulai bergemuruh.
***
“Aku bukan Danan. Bukan Cahyo. Aku bukan orang pilihan yang memegang pusaka sakti mandraguna atau roh pelindung seperti Wanasura. Aku cuma… pewaris mantra tua dari Trah Yudaprana. Cuma itu.”
Tegar tahu, jika ada hal lebih yang mungkin bisa ia perbuat adalah menggali lebih dalam tentang ilmu yang dimiliki oleh leluhurnya. Ia pun menghabiskan waktunya dengan duduk bersila, bersemedi di hadapan tubuh Bli Waja.
… suara masa lalu terngiang di ingatan tegar...
“Bapak, kenapa nggak di bales saja yang nyantet? Biar mereka kapok!” Tegar mendengar suara dirinya saat masih kecil.
“Tegar.. Santet itu lahir dari dendam dan nafsu. Kalau kamu membalasnya dengan dendam, namanya kamu bukan menyembuhkan santet itu..” Suara sang ayah terdengar menjawab pertanyaanya.
Kata-kata itu mengecil, kejadian berpindah.
“Bapak ngapain? Kenapa Mas Wening harus dibungkus kafan?” Tegar melihat sesuatu yang janggal di hadapan matannya.
“Agar ‘mereka’ yang mengincarnya tak merasakan kehidupan Mas Wening, saat mereka merasa Mas Wening sudah mati, mereka akan berhenti menyerangnya..” Balas Sang Ayah.
Kejadian kembali berpindah, namun ada satu kata yang terucap di bibir tegar. “Ritual…”
Ingatan tegar, kembali pada ayahnya. Ia melihat sang ayang mengelilingi satu batang pohon tua di pemakaman keramat yang sudah mati. Ada kemenyang, lilin, dan kembang yang dinyalakan di sekitar pohon itu.
“Ingat Tegar, kamu bisa saja hidup sebatang kara, tapi kamu takkan pernah bisa sendirian. Tuhan sudah menciptakan segalanya untuk selalu ada bersama ciptaan Nya yang paling mulia.
Saat kau tak mampu menuntaskan masalahmu seorang diri. Minta bantuanlah pada mereka..”
Saat itu Tegar melihat sesuatu yang tidak masuk akal. Pohon tua yang telah kering itu tiba-tiba mulai menumbuhkan daunnya di ujung-ujung tangkainya.
Ayah tegar tersenyum, ia membereskan benda-benda ritualnya dan mengajak Tegar untuk meninggalkan pohon yang perlahan mulai hidup kembali.
…
“Yang suci bukan selalu yang sakti. Kadang, justru jiwa yang jernih dan polos mampu menjangkau hal-hal yang tak terjamah oleh logika para ahli.
Bukan karena ia tahu lebih banyak, tapi karena hatinya tak menghalangi cahaya untuk masuk…”
AHLI MANTRA
(Beberapa waktu yang lalu…)
Tegar membaringkan tubuh Bli Waja di dalam sebuah rumah tua yang telah lama ditinggalkan penduduknya. Debu dan sarang laba-laba menggantung di langit-langit, sementara angin malam berdesir membawa aroma tanah basah dan kesunyian yang menyesakkan dada.
“Kapok kowe, Tegar… Tegar! Sok-sokan ngomong ‘percayakan Bli Waja padaku’. Sekarang bingung, to? Mau ngapain?” gumamnya lirih, menatap tubuh yang terbujur kaku dalam keranda kayu.
Dengan gemetar, ia membuka penutup keranda. Cahaya remang menyinari tubuh Bli Waja yang masih dipenuhi aksara kuno berwarna kehitaman, terukir bagai luka di permukaan kulitnya.
“Ini sudah mantra paling kuat yang kupunya… Demit-demit terkuat sekalipun akan hancur dengan ini. Tapi kenapa… kenapa ini tak mempan?”
Tegar melangkah mengelilingi tubuh itu. Setiap langkahnya diiringi bayangan kegagalan, rasa bersalah, dan beban ratusan nyawa manusia yang menanti di ujung kehancuran. Ia duduk bersila, meletakkan topeng Bujang Ganong di sisinya. Wajahnya penuh keraguan.
“Menghentikan waktu… Bermain dengan masa lalu… Mana masuk akal?”
Ia mencoba mengguratkan kembali aksara-aksara mantra di dinding kayu. Mencoret, menyalin ulang, mengutak-atik susunannya. “Pemusnah kutukan, pemulih raga, pengusir sukma… semua sudah kucoba.” Tapi semuanya tak menghasilkan apa-apa. Harapan terasa menjauh.
Dan untuk pertama kalinya, Tegar benar-benar mempertanyakan dirinya sendiri. Tegar benar-benar melihat batas dirinya.
Seketika penglihatan mereka berpindah pada zaman yang berbeda. Kali ini dihadapan mereka adalah sosok Daryana yang sedang membawa sebuah keris. Keris yang terlihat asing, namun kekuatannya terus memancar tanpa henti.
“Itu keris apa?” Tanya Danan.
“Aku merasakan kekuatan Dasasukma,” ucap Dirga.
“Kekuatan Ragasukma dan Sukmageni juga terasa..” Tambah Paklek.
Di hadapan Daryana terlihat sosok makhluk itu. Sosok makhluk besar yang mengaku raja yang turun dari langit yang dikalahkan oleh Widarpa dan Prabu Arya, sosok yang bangkit kembali seperti janjinya.
Makhluk yang mengaku sebagai dewa itu pun musnah ketika keris itu menancap tepat di dahinya. Kekuatan keris itu terus memancar tanpa henti, kekuatan yang takkan tergambarkan oleh pusaka apapun.
“Kedatanganmu adalah petaka, dan petaka datang bersama penakluknya.
Batu langit membawa kekuatan, dan kami menyatukannya dengan kekuatan kami. Inilah keris pusaka pembunuh dewa.
Keris *******a… ”
Danan, Paklek, dan Dirga tak mendengar jelas perkataan Daryana. Penglihatan mereka mengilang dan saat itu ketiga leluhur mereka sudah duduk bersila berhadapan dengan mereka.
“Kenali pusaka kalian, temukan pengikat antara ketiga pusaka itu, satukan pusaka itu, dan temukan nama pusaka pemusnah dewa itu.
wujud asli dari tiga pusaka sukma,” ucap Prabu Arya Darmawijaya.
Danan, Dirga, dan Paklek mengangguk. Mereka sudah mengerti apa yang harus mereka cari. Sesuatu yang seharusnya sudah ada bersama mereka bertiga sejak lama.
Permasalahnnya, apakah mereka berhasil menyatukan ketiga pusaka sukma sebelum ratusan nyawa menjadi korban?
***
“Tempat apa ini?” Tanya Dirga Bingung.
“Seperti ada sebuah benda besar yang pernah ada di lubang itu,” ucap Paklek.
“Batu langit…” Gumam Danan.
Di saat itu, mereka bertiga melihat keberadaan Prabu Arya dan Widarpa dengan wujud yang lebih muda.
Kedua sosok itu babak belur menghadapi sosok hitam besar dengan pakaian kerajaan yang dikelilingi oleh pengikutnya yang berwajah hitam dan beringas..
“Ini penglihatan?” Tanya Dirga.
“Benar..” Paklek membalas singkat.
Mereka mengerti bahwa mereka harus menyaksikan apa yang ada di hadapan mereka itu. Sesuatu yang berhubungan dengan asal-usul ketiga pusaka sukma.
Jauh di belakang Prabu Arya dan Widarpa sudah berbaris prajurit kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Sosok yang mereka duga adalah ayak dari Prabu Arya, Prabu Adiraga.
Mereka seperti bersiap untuk menyerang ke arah sosok setan-setan yang berhadapan dengan Widarpa dan Pangeran Arya.
“Mereka datang dari langit, maka seharusnya mereka bisa dikalahkan dengan sesuatu yang berasal dari langit juga,” ucap Widarpa.
“Kita harus bertahan sampai pusaka itu selesai,” ucap Pangeran Arya.
Seketika penglihatan itu berlalu begitu cepat. Mereka melihat sesuatu yang tidak mereka percaya. Kedatangan ketiga pusaka sukma membuat alur pertarungan berubah.
Sukma mereka terpecah menjadi banyak, masing-masing menggenggam wujud sukma dari keris ragasukma. Sementara itu sukma mereka selalu pulih dengan keris sukmageni yang selalu memulihkan tubuh mereka.
“Pasukan sukma? Ini kekuatan sebenarnya dari keris Dasasukma?” Dirga Takjub.
“Sukma itu seolah abadi, Aku belum pernah melihat Sukmageni sedigdaya ini,” Ucap Paklek.
“Keris ragasukma memecah bersama sukma. Kekuatannya tak terbagi. Ini menakjubkan!” Ucap Danan.
Pertarungan berlangsung sengit, namun kekuatan sekuat itu masih tak sanggup untuk menaklukkan makhluk yang mengaku datang dari langit itu. Walau begitu pertarungan itu berhasil membuat makhluk itu tak berdaya dan kehilangan kesaktiannya. Ia melarikan diri dan berjanji akan kembali di zaman Widarpa dan Pangeran arya tak lagi hidup untuk membalas dendam pada manusia.
Sratt!!!
Paklek dan Danan memahami maksud dari Prabu Arya.
“Sukmageni, untuk penyembuhan, pemulihan..” Gumam Paklek.
“Ragasukma, memisahkan raga dan sukma, dan menghubungkan sukma dengan leluhur,” Ucap Danan.
“Dan Dasasukma memecah sukma…” Ucap Prabu Arya. “Tapi kekuatan sejati ketiga pusaka sukma ini bukan hanya itu…”
Eyang Widarpa berdiri tepat di hadapan Danan. Ia masih tidak menatap mata cucu-cucunya itu, malu. “Temukan wujudnya!”
Sosok Daryana mendekat, “Kami akan membimbing kalian!”
Saat itu sosok Prabu Arya menatap ke arah Cahyo. “Entah kebetulan atau tidak, tapi ada yang menunggumu di sini. Sosok itu terus menanti di sini, di tempat sahabatnya dimakamkan.”
Cahyo tak mengerti apa yang dimaksud prabu Arya. Namun dengan satu gerakan tangan, satu bulu Rangkara yang disimpan oleh Cahyo terbang perlahan ke satu arah.
“Ikutilah.. bantuan mereka tak bisa diremehkan,” Ucap Prabu Arya.
Cahyo mengerti. Danan memberi isyarat pada Cahyo untuk pergi. Setelahnya Prabu Arya menoleh ke arah Guntur. “Tolong hadapi makhluk-makhluk itu dulu sebelum mereka kembali.”
“Eh! Tu—tunggu!! Gimana? Kamu bercanda?!” Guntur bingung dengan ucapan itu. Namun saat itu Paklek, Danan, dan Dirga duduk bersila dan bersemedi dengan tuntunan ketiga roh leluhur mereka.
“Eh! Jangan langsung begitu! Gimana kami bisa ngelawan makhluk-makhluk itu tanpa kalian?!” Guntur semakin panik.
“Hehe.. tolong ya Guntur, kami pergi sebentar,” ucap Danan tanpa menjelaskan apapun.
Ketiga tubuh itu seketika ditinggalkan oleh sukmanya. Kabut putih pekat menyelimuti tubuh itu menyembunyikannya menghilang dari pandangan Guntur.
“Arrrrgghh!! Kalian seenaknya!” Teriak guntur meninggalkan mereka bertiga dan menemui yang lain.
Sementara itu sukma Danan, Paklek, dan Dirga tiba di sebuah tempat yang tidak mereka mengerti. Sebuah tanah lapang dengan tanah yang menghitam. Ada sebuah lubang dengan aliran lahar yang terlihat disana.
Danan dan Cahyo saling bertatapan. Ia tak menyangka sekali lagi eyang widarpa mengelabui dirinya bahkan walau dirinya sudah tiada.
“Eyang demit! Bisa-bisanya ngibulin kita lagi!” umpat Cahyo.
Bruakk!!
Baru selesai mengumpat tiba-tiba sebuah tendangan mendarat mementalkan Cahyo begitu saja.
“Bocah-bocah asu! Sopo sing mbok celuk demit?!” (Bocah-bocah Anj*ng! Siapa yang kalian panggil demit?!”
Spontan Cahyo kaget menerima tendangan itu, sementara itu Danan menoleh dengan wajah gemetar.
“Tidak mungkin…” Danan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Nggak.. nggak mungkin kan?” Cahyo berdiri dari tempatnya terjatuh. Ia mengenal benar-benar tendangan yang bisa membuatnya terpental begitu saja.
“E—Eyang Widarpa?!” Danan melihat sosok yang sangat ia rindukan.
“Jangan senang dulu, Bocah asu! Aku cuma Cuma pecahan sukma, sisa ingatan yang tak bisa berbuat apa-apa!” Ucap sosok kakek bungkuk berambut putih panjang itu.
“Eyang tidak akan ikut bertarung?” Tanya Danan.
Eyang Widarpa menggeleng.
“Terus ngapain muncul disini?” Ucap Cahyo ketus, namun dengan satu tatapan tajam dari Eyang Widarpa, Cahyo pun buru-buru bersembunyi di balik badan paklek.
“Benar, kami hanya pecahan sukma..” Satu lagi suara terdengar dari belakang paklek dan Cahyo.
“Eyang Daryana?” Paklek segera mengenali sosok itu.
Danan menoleh pada sosok itu. Sosok yang mereka kenal, sosok yang bertarung bersama mereka di tanah para danyang, namun kali ini dengan wujud yang lebih tua.
“Ini adalah bagian dari ilmuku..” Ucap Prabu Arya Darmawijaya.
Prabu arya menjelaskan bahwa ilmunya itu memecah sukma para pemegang pusaka sukma untuk mewariskan kekuatan asalnya. Ia menceritakan bahwa ketiga pusaka sukma yang mereka miliki berasal dari satu batu langit.
“Ragasukma, Dasasukma, Sukmageni.. tiga keris pusaka yang diciptakan dari satu batu langit yang sakral.
Ketiga pusaka itu terpaksa diciptakan untuk menandingi bencana yang mengancam kerajaan Darmawijaya pada saat itu. Jika kalian sadar, ketiga pusaka sukma tak diciptakan dengan kekuatan untuk menyakiti…”
“Penerus sejati bukan hanya mewarisi nama, tapi membangkitkan ruh yang tertidur dalam darahnya.
Ia bukan bayangan leluhur, tapi nyala baru yang menyalurkan kembali cahaya lama.”
TIGA PUSAKA SUKMA
Gerak gerik Dirga terlihat aneh. Paklek mengenali sosok itu, bukan sosok yang mengancam, namun sosok yang bijak. Ia merasakan bahwa kehadirannya saat ini terpicu oleh petaka yang membahayakan keturunannya.
“Prabu Arya Darmawijaya..” Paklek merunduk memberi hormat pada sisa ingatan dari sosok raja dari masa lalu yang menguasai tubuh Dirga.
“Sudah-sudah jangan kaku! Aku bukan lagi raja di zaman kalian, lagi pula aku berhutang banyak pada leluhurmu..” Ucap Prabu Arya.
Paklek memperintahkan Guntur untuk memanggil Danan dan Cahyo. Apa yang terjadi pada Dirga segera disadari oleh mereka. Senyum Danan terukir lebar melihat sosok raja sekaligus sahabat dari leluhurnya.
“Prabu Arya, syukurlah. Eyang Widarpa sudah tenang saat menemukan makam Prabu..” Ucap Danan.
“Hahaha! Menemukan makamku? Itu hanya alasannya saja!”
"Alasan? Tapi Eyang memang menemukan makam Prabu di Alas Mayit, tempat..."
Saat itu Danan baru tersadar, tak mungkin Eyang Widarpa tidak bisa menemukan makam Prabu Arya di tempat yang tak jauh dari tempat ia terikat.
"Tidak mungkin... Lantas kenapa akhirnya Eyang bisa pergi dengan tenang?"
"Karena Widarpa sudah yakin pada penerusnya. Ia tahu, warisan itu telah sampai pada keturunannya yang pantas."
"Ia telah menanti, menemui semua jejak leluhurnya, tapi belum juga bisa tenang.
Kalianlah yang membuatnya damai. Kalianlah yang membuat Widarpa yakin untuk menyerahkan segalanya… penuh, tanpa sisa."
Link Part Sebelumnya :
Part 1 : https://t.co/7hIvqqPnQq
Part 2 : https://t.co/SxSzZQ7JX7
Part 3 : https://t.co/PtCirZowfh
Part 4 : https://t.co/7C1QcEDHHn
Part 5 : https://t.co/X8GMWcDGic
Part 6 : https://t.co/aU991p5FKk
Part 7 : https://t.co/xEliNIRDe7
Part 8 : https://t.co/aM7cwJLv6a
Part 9 : https://t.co/4eP1RX3Xo9
PUSAKAYANA
Part Akhir - Tembang Pamungkas
(Bagian 1)
Ingatan Prabu Arya Darmawijaya membuka rahasia tentang wujud sebenarnya dari Tiga Pusaka Sukma..
#bacahorror@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht