@SelarikSyair masih kau simpan
dua belas ribu kesedihan
musim gugur di matamu;
tak ada jalan lain
bagi cinta
sebab yang pergi, yang raib,
dari arah mana pun
angin menyentuh,
takkan dibukakan barang sebentar,
jantung yang telah lama
tak mencium wangi bunga. #jumatpuisi
@MataPuisi tanpa kata, apalagi kau
segala yang kutulis
tak pernah menjadi sajak,
seperti langit tanpa senja.
bagaimana bisa kutemukan
yang hilang, yang rumpang
sementara warna cerah
tak pernah menandainya. #matasenja
@MataPuisi tak jatuh begitu saja,
rintik hujan menitik
di ujung sore yang bernasib baikโ
di matamu.
akan terlihat segar suasana
ketika malam menyala:
berkilauโberserak
bagai pualam becermin pada kelip bintang. #matamalam
@PelangiPuisi ia urungkan bahagia
sebelum sempat jadi gema.
di dalam dirinya,
kesedihan menjelma titah;
bahkan ketika sesuatu tugur
tak hendak gugur,
air mata masih saja jatuh
di satu ruang
di mana segala kenangan
terkunci dari dalam. #puisikangambar
@SelarikSyair banyak malam kita habiskan
untuk menjaga api tetap menyala.
tlah cukup peluk, kukira,
sebagai kayu bagi tungku
meredam dingin yang panjang.
namun angin bukan sekedar angin,
ketika dicemari beribu duka. #TemaSS
@PelangiPuisi di jantungku,
wajahmu tergambar
pada sebuah mural
sebagai peradaban
dari ribuan kupu
dan kunang-kunang
yang gemar sekali mengusik sepiku. #puisipendek
@PemetikAksara esok bila kau terbangun
di kota yang basah air mata,
tengoklah ke jalan-jalan setapak
dalam dirimu;
apakah jerit daun-daun selepas hujan
masih sama nyaringnya,
bahkan ketika tlah tertimbun reruntuhan. #mainkata
@PelangiPuisi kudengar bunyi ombak
berdebur di dalam kolase;
dua pulau disusun
dari pecahan musim dan kenangan,
dengan dermaga yang bermuara
di jantungmu. #SeninPelangi
@PelangiPuisi kudengar bunyi sobekan kertas,
perlahan dalam ingatan:
di antara lipatannya,
wajahmu dan wajahku
tersenyum ke arah masa lalu
yang tak pernah selesai direkatkan. #SeninPelangi
@PemetikAksara di hutan yang jauh,
ia ingat-ingat betapa nyaring
suara daun-daun hijau
yang dulu tumbuh
di antara dua tulang rusuknya;
dari hidu ke hidup
amat permai suasana
sebelum api
mengubah kayu jadi abu. #PuisiAmbyar
@MataPuisi detik demi detik:
dunia berganti kulit,
anak-anak menjadi asing,
rumah-rumah bermetamorfosa.
detak jam terdengar
seperti seseorang mengetuk peti,
meminta ruang
untuk sekedar berbagi sunyi. #matamalam