Makin tinggi jabatan orang makin beda cara mikir nya :
1) Level Staff = Fokus menyelesaikan jobdesc dengan benar sesuai dengan deadline.
Masalahnya jelas, kongkrit dan sudah ada solusi yg pasti di permasalahan tersebut.
2) Level Manager = Bukan hanya mikirin kerjaan sendiri tapi juga kerjaan tim + mulai mikir gimana caranya bisa tersistematis.
Keputusan yg diambil memiliki dampak yg berantai
3) Level Direktur/CEO = Memikirkan tentang Arah perusahaan di tahun yg akan mendatang bukan hanya fokus hari ini atau bulan depan.
Jika mengambil keputusan konseskuensi yg akan datang apa, resikonya apa dan dampak kalo salah ambil strategi apa.
Semakin tinggi levelnya justru semakin sedikit kepastian yg dihadapi. semua itu terjelaskan di teori "Elliott Jaques - Stratified Systems Theory"
Ada teman kami yang sedang mengamati dengan serius fenomena konten "romantisasi jarak" rumah-tempat kerja di Surabaya Raya. Dia menemukan ada konten pekerja yang motoran dari Cemengkalang (Sidoarjo)-Sidotopo (Surabaya), Sedati (Sidoarjo)-Sidayu (Gresik), Surabaya-Lamongan, Malang-Surabaya dan kayaknya bakal ada lagi yang makin jauh 😅
Kombinasi dari : Harga hunian yang makin gak karuan + Transportasi Umum yang tidak bisa diandalkan + Tidak meratanya perekonomian + Birokrasi yang jadi hambatan (+ sifat nrimoan?)
Transmin sendiri pernah ketemu yang unik ada anak SMP rumahnya di Gubeng (Surabaya) tapi sekolahnya di Bangil (Pasuruan) dan dia tiap hari naik kereta paling pagi untuk berangkat sekolah 😅😅 alasannya? Karena ortunya nggak mau mindahin soalnya ngurusnya ruwet
Saya menyadari bahwa menjaga kewarasan dalam proses belajar dan mengajar sangat menuntut kesadaran epistemik:
Ya, manusia pada dasarnya memang beragam, baik dalam pola pikir, kerangka logika, latar belakang sosial, maupun pengalaman hidupnya.
Jadi, kalau ketemu yang beda, santai saja.
@jerryarvino Bulan ini main di 4 kompetisi, prioritasnya harus jelas:
1. EPL, harga mati
2. Carabao, karena nanggung udah sampe semi final
3. UCL, agak berat ketemu inter tapi kita udh dapet tiket ke 16 besar
4. FA, kompetisi baru aja mulai jadi ga perlu diseriusin
@nisfitongg @toseedash @hammsqi Leressss, mgkn krn emg blm banyak ruang diskusi antara santri & org yg skeptis sm kami. Makanya saya ingin mulai sebisa saya, cuma pingin cegah konflik horisontal 🙏
Kalau videonya bukan Kiai Anwar, yang rumahnya sangat sederhana dan mengajar puluhan tahun, justru Lirboyo sering mengkritik tradisi pesantren yang berlebihan (yang dianggap feodal itu).
Lantai nDalem Kiai Anwar saja masih tekel gitu. Diframing jahat Trans7!
@toseedash @hammsqi - dpt arahan yg jelas ttg jurusan kuliah. Kami sendiri ditanamkan bhw suksesnya santri bkn hanya dr pesantren, pesantren ≠ magic. Ada 3 pihak yg harus berperan: guru yg ikhlas mengajar, ortu yg support nafkah lahir (materi) & batin (doa), santri yg giat belajar & patuh ke guru
@toseedash @hammsqi Jadi pesantren ada yg sekaligus ilmu diniyah - umum, ada yang fokus diniyah (salaf). Saya 2x mondok salaf, tp 2"nya boleh sekolah luar. Fasilitas dr pondok pas smp utk pelajaran umum ada jam musyawarah, utk pondok kedua (pas sma) banyak relasi temen pondok yg mhs, jd sy bisa -
@toseedash @hammsqi Yahh ternyata ga murni tanya, yg dibales cm yg ndukung argumen skeptisnya aja. Padahal banyak santri yang jauh lebih sukses dibanding saya 😔 Emg ga bakal ketemu sih pola pikir org yg only ngejar materi & ngejar ketenangan batin
@toseedash @hammsqi Alhamdulillah ijazah D3 teknik sipil, setelah lulus hampir ga pernah nganggur sekalipun pas pandemi & skrg di konsultan supervisi dg keluarga yg selalu support. Waktu ekonomi down, kehidupan pesantren mengajarkan kami agar tetap tenang & berpasrah diri pada Allah
@mabok_lautan@txtdrimedia "sama tujuan niatnya baik". Jadi ketika lu punya cara sendiri utk niat baikmu, silakan. Tp ketika lu nyenggol cara org lain utk mencapai niat baik DAN SELAMA ITU GAK GANGGU LO, ngapain lu ngurusin??
@cupang_fish@txtdrimedia Ya krn sm media digeneralisasi bosss. Skrg di pendidikan formal (sekolah/ univ) kalo ada guru yang ngelanggar hak murid, yg dicari & diviralin cm yg bersangkutan aja, mentok institusinya. Kalo ini semua pesantren dianggep feodal tai kucing. Harusnya cari & kejar siapa pelakunya