“yaudah, kalau ngga bisa beli bensin jalan kaki aja”
TROTOAR LU NOHHHHH BOLONG BOLONGGGG trotoar aja dipake buat parkir liar segala gala nyuruh jalan kaki
LAH EMG KENAPA PERTAMAX NAIK 32% KAN MASIH ADA PERTALITE Rp10.000/liter?
Eitss bentar2..
Pertalite itu RON 90. mesin motor modern/mobil keluaran 5 tahun terakhir mayoritas butuh minimal RON 92, artinya kalau maksa pakai Pertalite? mesin cepet rusak. Kalau naik ke Pertamax? keluar Rp16.250/liter, skrg udh naik 32%.
Intinya kalian udah ga punya pilihan. mau ga mau bayar mahal, mau ga mau nanggung. Rakyat tuh posisinya selalu di ujung rantai makanan alias YG KENA IMPACTNYA KITA SEMUA.
Ojol yang biasanya ngisi Pertamax → biaya operasional bengkak → tarif naik → kalian yang bayar lebih mahal buat pesan makan & ojek.
Truk logistik isi Pertamax → ongkos kirim naik → biaya distribusi naik → harga barang naik
Jadi yang naik bukan cuma biaya bensin. Mie instan, beras, telur, paket online, dll semua lini terdampak, ujung2nya impactnya RAKYAT yang nanggung.
Pernah baca quote cantik banget:
"Berhentilah memikirkan semua hal yang belum terjadi. Takdir Allah sudah tertulis jauh sebelum kamu mengkhawatirkannya."
Take a deep breath. Allah is already there. 🤍
Jatuh cintalah dengan orang yang membawa kamu jauh lebih baik. Kalaupun tidak berjodoh, setidaknya dia berhasil memberi dampak positif di hidupmu.
Pilih dia yang bikin kita malu kalau malas-malasan, ibadah bolong, atau gak berkembang. Energi positif itu menular loh.
Pada akhirnya hidup bukan lagi tentang “if they want to, they would.”
Tapi lebih kepada “if God has written something for you, it will find its way to you.” at the right time, in the right way.
Karena apa yang memang Tuhan takdirkan untukmu tidak akan pernah benar-benar melewatimu. dan yang bukan untukmu, sekuat apa pun kamu mencoba menggenggamnya, it will never truly stay.
apapun badainya,
aku tetep excited nunggu kabar baik dari Allah.
aku cuma percaya,
ga mungkin sejauh ini bertahan kalau akhirnya ga ada hal baik yang nunggu 🤍💐
I read it somewhere "We romanticized the wrong organ the stomach is more emotional than the heart" and it feels so true. We feel butterflies in our stomach and when we're sad we lose our appetite our stomach gets affected by emotions way more than we realize.
sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, bahwasanya setiap langkah perjalanan hidup kita, dengan siapa kita kenal, dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita berjodoh, dan kapan ajal kita tiba. jadi jangan khawatir dengan perjalanan hidup kita, nikmati semua prosesnya.
Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬