When you truly wake up, you will realise that the biggest deception comes from your senses, not from people.
We are wired in a way that can prevent us from seeing the truth clearly.
“Indeed, freedom and the capacity for disobedience are inseparable; hence any social, political, and religious system which proclaims freedom, yet stamps out disobedience, cannot speak the truth.”
― Erich Fromm
Banyak orang mengira semua agama besar pasti mengalami perpecahan, tapi jika ditelusuri secara lebih dalam, justru tingkat perpecahan antar agama sangat berbeda, terutama antara agama-agama Semitik contoh islam dan agama-agama Timur seperti Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Membedah 'WAKTU'
1⃣
Pertama-tama, waktu hanyalah persepsi kesadaran yang tidak dapat dipisahkan, tanpa waktu tidak ada kesadaran dan tanpa kesadaran tidak ada waktu, tetapi tidak terpisah dari kesadaran.
Dan setiap kesadaran memiliki persepsi yang berbeda.
Baca sampai habis
1⃣7⃣
"Semua adalah pikiran, semesta adalah mental"
~ Hermes Trismegistus
Semua adalah pikiran yang hidup.
Tulisan ini hanyalah pengalaman pribadi, terima kasih sudah membaca.
1⃣2⃣
Kamu adalah Waktu. Waktu bukanlah musuhmu, itu tidak bekerja melawanmu. Itu hanyalah persepsi dirimu sebagai musuhmu sendiri! Jika kamu sadar maka kamu adalah waktu.
8⃣
Dalam hal ini efek terjadi sebelum penyebabnya. Karena untuk pemahaman akhir sebagai kesadaran dan keadaan evolusi mental, ini memungkinkan untuk melihat bahwa semuanya sekarang, semuanya sama, semuanya saling berhubungan, dan akhirnya sesuai dengan persepsi dan pemahaman.
1⃣1⃣
Waktu adalah dirimu dan Anda adalah waktu. Anda tidak dapat memiliki kesadaran akan keberadaan; "Aku berpikir maka aku ada" tanpa waktu, tetapi itu bukanlah sesuatu, itu hanyalah proses kesadaran.
1⃣0⃣
Materi, waktu, ruang, jarak, massa, hanyalah keyakinan. Ide-ide yang telah membuat Anda melekat sebagai nyata. Itu hanya kesadaran yang mengalami kram mental. Anda adalah Semesta, terbuat dari ide-ide. Dan hanya itu.