Sudahlah, gak usah ambil kesempatan dengan jualan Khilafah. Pada era Khilafah banyak juga terjadi penjarahan, pembantaian dan pembakaran. Bahkan jauh lebih brutal. Ini bukan soal sistem pemerintahan, tapi soal moral. Apapun sistem politiknya, bajingan tetap saja bajingan.
Kenapa Pemuka Agama hanya Menjadi Pemadam Kebakaran?
Pernyataan pimpinan ormas Islam yang dipanggil Prabowo seolah tak memberi efek apa-apa. Publik sudah lama melihat ormas-ormas besar ini bukan sekadar “pilar masyarakat,” tapi bagian dari pemerintah. Maka suara mereka terdengar lebih seperti corong kekuasaan, bukan gema keresahan rakyat. Benarkah demikian?
Pemerintah pun tampak ‘salah baca’. Yang turun ke jalan, melakukan kekerasan, dan menjarah bukanlah mereka yang terafiliasi dengan ormas Islam. Mengapa ormas Islam yang diminta menenangkan?
Inilah getirnya. Saat ajaran agama gagal memberi inspirasi solutif, para pemuka agama hanya diposisikan seolah sebagai “pemadam kebakaran.”
Agama semestinya menjadi energi moral untuk perubahan. Kehadiran ulama penting untuk legitimasi, tapi jarang menyentuh akar masalah. Seharusnya sampaikan juga bahwa “kami sudah ingatkan aspirasi umat pada Presiden soal rakyat yang kena PHK, biaya hidup mencekik, arogansi, korupsi merajalela, keadilan menjauh. Presiden pun mengakuinya.”
Kalimat “NKRI Harga Mati” pun kerap digaungkan. Namun maknanya mestinya bukan jargon kosong. NKRI harga mati berarti juga berdiri di pihak rakyat. Membela tanah air berarti membela perut, suara, dan harapan rakyat. Jika pemerintah tak lagi menjaga amanat, ulama harus berani mengingatkan akar masalah, bukan sekadar jadi alat penenang suasana.
Yang ditunggu rakyat bukan khutbah pereda luka, tapi seruan yang berani menyingkap sumber derita. Jika agama hanya hadir untuk menenangkan tanpa mengobati akar masalah, wajar bila umat merasa ditinggalkan.
Imam al-Ghazali sudah mengingatkan:
وَبِالْجُمْلَةِ، إِنَّمَا فَسَدَتِ الرَّعِيَّةُ بِفَسَادِ الْمُلُوكِ، وَفَسَادُ الْمُلُوكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ، فَلَوْلَا الْقُضَاةُ السُّوءُ وَالْعُلَمَاءُ السُّوءُ لَقَلَّ فَسَادُ الْمُلُوكِ خَوْفًا مِّنْ إِنْكَارِهِمْ.
“Secara umum, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa, dan kerusakan para penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama. Seandainya tidak ada hakim dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan para penguasa akan berkurang karena mereka takut terhadap penolakan (kritik) dari ulama.”
Damai dan sejahtera negeri kita 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Around 6pm, a police car hit a university student on Sudirman street. The student was injured. Other students smashed that car. The policeman ran away https://t.co/YC6BrmTW2Z
Kerja di sekitaran DPR/MPR? Ternyata gampang banget ke sini naik commuterline. Dari Bintaro, Serpong, BSD, kamu bisa turun di Stasiun Palmerah dan jalan kaki 5 menit saja langsung sampai DPR.
Coba tag temenmu yang butuh info ini biar nggak ribet lagi cari transportasi!
#DPR #KRL #Transum ##vlog
This breaks my heart. An ongoing human rights outrage, happening in plain sight, where women and girls are being treated worse than domestic pets. More has to be done to help these women.
Naik KA Parahyangan dr Bdg, ada toddler di gerbong saya, awalnya ketawa2, lewat sejam mulai nangis2. Mungkin emang perjalanan 3 jam terlalu membosankan buat dia. Baiknya klo mau bawa toddler, ortunya naik Whoosh aja. Klo istilah tetangga saya "Anak baru mulai ngereog, udah sampe"