In this economy, investasi terbaik gue adalah membeli subscription X.
Modal cuma 6,5 juta untuk 1 tahun (karena gue subscribe yearly premium+) , tapi bisa balik 2, 4 bahkan sampai 8 juta tiap dua minggu. Gue ulangi, tiap dua minggu. Bukan tiap bulan. Hidup bener-bener pake double engine sekarang, gaji dari kerjaan utama di-double up sama extra income dari X.
Jujur, ini sangat membuat dapur gue ngebul dan tabungan tumbuh jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Kalau lo punya minat, pengetahuan, atau expertise di niche tertentu, mungkin udah waktunya berhenti cuma jadi penonton. Bawa itu ke timeline, bangun audiens lo, dan mulai monetisasi. Di era yang serba digital, sayang banget kalau timeline cuma dipakai buat scrolling. Sekalian aja dibikin jadi sumber penghasilan.
Kecuali kalau lo udah kaya. ๐
Saking korupsnya, sampe warga ga tau kalo plat nomor kendaraan bisa registrasi sekali saja. Saking korupnya, sampe warga menganggap wajar saja bayar 2x untuk 2 SIM yg berbeda atas nama pengemudi yg sama. Saking korupnya, sampe warga bisa sebodoh itu dan penentu regulasi diam saja
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
โข Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
โข Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
โข Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
โข Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
โข Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
โข Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
Guys...
tanggal 25.
Hari gajian.
Dan entah kenapa rasanya berat banget.
Notifikasi masuk. Rp3.200.000.
Seneng 3 menit.
Menit ke-4 kos 1,2 juta.
Menit ke-5 transfer ke Mama 500 ribu.
Menit ke-7 WiFi listrik cicilan.
Menit ke-10 beras minyak sabun makanan kucing.
Sisa 300 ribu.
Buat 30 hari.
Sehari 10 ribu.
Dan itu semua selesai sebelum jam 10 pagi.
Gaji datang ngasih harapan, pulang ninggalin tagihan sama Indomie.
Yang bikin makin sesak adalah malamnya. Jam 2 dini hari, kipas angin nyala tapi yang muter malah otak. Gimana kalau sakit.
Gimana kalau motor rusak.
Kos bulan depan naik ga ya. Temen ngajak nongkrong bilang ga ada duit dikira ga solider.
Umur 27 tabungan masih nol sementara FYP isinya orang umur 22 udah punya 100 juta pertama.
Banting HP ke kasur.
Di kos sendirian.
Yang nemeni cuma kucing sebelah yang ngeong minta makan.
Dikasih wet food 5 ribu.
Kucingnya kenyang tidur pules.
Dia sendiri laper tapi ga berani pesen GoFood karena 10 ribu itu jatah makan besok.
Dan waktu Mama nelpon nanya uangnya cukup apa nggak...
"Cukup Ma."
Jawab cepet.
Sambil ngitung dalam kepala nasi sama garam aja cukup ga buat besok.
Bohong "cukup" ke Mama itu menetap.
Setiap bulan.
Dan overthinkingnya juga ikut menetap.
Guys capeknya hidup kaya gini bukan di kantor.
Tapi di tanggal 26 sampai tanggal 24 bulan berikutnya. Pas harus senyum padahal rekening tinggal doa.
Tapi dia masih bangun besok.
Masih kerja lagi.
Masih nyisihin 5 ribu buat kucing sebelah.
Buat siapapun yang relate sama cerita ini, kalian ga gagal.
Kalian udah luar biasa bisa sejauh ini dengan kondisi yang sekeras ini.
Besok coba lagi ya.
Satu hari sekali.
Fenomena teror pocong ini menurut gue terlalu terstruktur untuk dibilang ide individual. Terlalu massive dan merata untuk sebuah kebetulan, karena hampir di semua wilayah ada.
Mereka ini siapa?
Tujuannya apa?
dibilang antek-antek asing saya diam,
dibilang ndasmu saya diam,
dibilang warga desa tidak pakai dolar saya diam,
dibilang โtidak bermimpi kaya raya?โ
SAYA AKAN LAWAN!!!