Dengan kekuatan embege, dia bakal memimpin 2 periode. Kenapa?
Karena program ini menguntungkan secara ekonomi dan politik. Contoh:
1. Menciptakan lapangan kerja, otomatis pekerja tidak ingin kehilangan pekerjaan jadi otomatis memilih dia lagi
2. Para supplier yang bekerja sama dengan SPPG juga bakalan memilih dia lagi
3. Para pemilik dapur dari partai lain juga bakal memilih dia lagi
4. Anak SMA yg berumur 15-16 tahun sebagai penerima manfaat (mungkin) bakal memilih dia ketika sudah berumur 17 tahun karena pernah berjasa memberi embege.
Banyak yang gak suka sama embege. Tapi disatu sisi banyak yang suka juga, karena cuannya gede
Makanya sampe sekarang itu program gak brenti2 juga, meskipun banyak yang nentang.
Jadi, kalo umur belio panjang, bisa dipastikan dia memimpin 2 periode
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Jangankan roda ekonomi pasar tradisional.
Roda ekonomi pejabat juga bisa dijamin Guru karena tiap TPG / urusan administrasi pasti ada punglinya
Oh jangan lupa, Guru menyumbang roda ekonomi pemerintahan daerah
Di TKDD, TPG sudah 100%
Tp dipinjam oleh daerah sampai TPG telat cair
Belajar dari case Aureli, ajarkan ini ke anak, baik perempuan ataupun laki-laki:
"Ketertarikan seksual orang dewasa ke kamu itu bukan pujian, juga bukan karena kamu terlihat dewasa.
Itu menunjukkan gagalnya orang dewasa menjaga batas.
Dia yang problematic, bukan kamu"
Kenapa perlu disampaikan ke anak perempuan dan laki-laki?
Karena grooming bukan hanya terjadi pada anak perempuan. Anak laki-laki pun banyak yang jadi korban, tapi jarang dibahas secara terbuka.
Orang jarang ngeh waktu kita sabar memaklumi semuanya, tapi begitu kita capek lalu ngomongnya agak keras sedikit, yang mereka ingat cuma sisi kurang ajarnya. Padahal gak ada yang tau seberapa berat kita menahan semua ini sebelum akhirnya meledak.
budaya makan2 di tempat orang meninggal, dan keluarga yg ditinggal yg harus menyiapkan, membayar semua, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. lagi kena musibah harus keluar uang lagi
jadi ingat dulu ayah saya meninggal, di saat semua sedang kalut, menangis, berusaha berlapang dada, di saat yg sama harus menyiapkan sekian juta untuk tenda, orang melayat, makanan, dll.
seharusnya orang yg bertamu yg membawa makanan, memberikan uang, dan menghibur keluarga yg ditinggalkan.
just my opinion.
"335 TRILIUN buat makan siang itu setara dengan:
🎓 3,3 JUTA anak kuliah GRATIS sampai lulus S1 (kampus terkemuka yaa)
🏥 670 RUMAH SAKIT baru standar internasional (bisa bikin lapangan kerja baru)
🏫 167 RIBU sekolah rusak diperbaiki total.
👩🏫 Gaji 5,5 JUTA guru honorer jadi 5 JUTA/bulan (kesejahteraan guru meningkat).
Dukungan gizi yang dimaksud dan dirapel buat 4 hari.
Padahal saya yakin semua ikhlas kalau selama libur MBG dihentikan dulu dan anggarannya untuk pemulihan provinsi2 yg terdampak bencana.
Tapi... Tidak ada hari libur untuk korupsi.
Ngulik rekam jejak RK pada pinter2 banget. Ngulik rekam jejak calon pemimpin pada bloon 😌
Kalo ga suka Anies bisa pilih Ganjar, ga suka Ganjar bisa pilih Anies.
Kenapa Jaman Soeharto Lebih Enak?
Karena hidup terasa stabil.
Harga-harga jarang naik.
Sekolah, jalan, dan irigasi banyak dibangun.
Televisi bicara soal pembangunan, bukan keributan.
Dan semua tampak aman. Tenang. Terkendali.
Tapi di balik ketenangan itu, kekuasaan terkonsentrasi di satu keluarga.
Selama 32 tahun, uang publik berputar di lingkaran kecil bisnis kroni dan yayasan pribadi.
Nilai kekayaan tidak sah yang dikaitkan dengan Soeharto diperkirakan mencapai US$ 15–35 miliar,
setara dengan Rp 400–1.000 triliun dalam nilai uang sekarang.
Lalu ketika ia turun tahun 1998,
Sang "Pahlawan" tidak mewarisi kemakmuran, tapi utang lebih dari Rp 550 triliun,
sekitar 58 persen dari total ekonomi nasional saat itu.
Beban itu tetap kita cicil lewat pajak, inflasi, dan kebijakan anggaran sampai hari ini!
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Korupsi dan inefisiensi birokrasi selama Orde Baru menghambat produktivitas nasional.
Menurut simulasi ekonomi, jika sistem pemerintahan saat itu bersih,
dan pertumbuhan ekonomi naik hanya 1,5 poin persen per tahun (dari 7 persen menjadi 8,5 persen),
maka dalam 32 tahun ekonomi Indonesia bisa dua kali lipat lebih besar dibanding kenyataan.
Potensi yang hilang sepanjang periode itu setara dengan Rp 7.000–8.000 triliun dalam nilai sekarang.
Uang sebesar itu bisa membiayai pendidikan gratis untuk seluruh anak Indonesia,
membangun ribuan rumah sakit, dan mengangkat jutaan keluarga dari kemiskinan.
Seandainya Soeharto tidak korupsi, Indonesia bisa masuk ke jajaran negara maju sejak awal 2000-an.
Kita tidak akan terjebak dalam lingkaran utang, subsidi, dan ketimpangan yang masih terasa sampai hari ini.
Jadi kalau ada yang bilang "jaman Soeharto lebih enak",
mungkin iya, karena rakyat hanya merasakan stabilitas di permukaan.
Tapi di bawahnya, masa depan bangsa sudah dijual jauh sebelum reformasi dimulai.
Aku ki menyaksikan papa mamaku kerja sampe pensiunnya, bahkan volumenya malah meningkat di akhir masa pensiunnya. Makane aneh nek weruh PNS do keset gak gelem kerjo po meneh alesan wes tuwo. Mbok ngajuin pensiun dini wae tho daripada nyepeti moto karo nyrimpeti kerjone konco2ne.
gue yakin temen-temen perempuan ga masalah kalau mereka harus kerja saat udah berumah tangga
cuma yang jadi masalah tuh kalau cewe dan cowo sama-sama kerja, tapi ekspektasi kerjaan rumah tangga dan ngurus anak semua dihandle sama si cewe
jadi ga adil, ga imbang, ga bahagia