Jangan Normalisasi Ciuman atas Nama Barokah
Belakangan ini viral video seorang Gus yang tampak terlalu akrab menciumi anak-anak kecil, bahkan yang masih berusia di bawah tiga tahun. Dalam salah satu rekaman, ia membujuk seorang anak yang menolak dicium agar mau dicium. Di video lain, ia menciumi pipi seorang balita dengan cara yang tampak seperti “sucking”.
Banyak yang menertawakannya, menyebutnya sebagai bentuk “gemas” atau “barokah”. Namun perilaku seperti ini tidak boleh dinormalisasi — ini justru menjadi contoh penting dalam pendidikan tentang perlindungan anak dari pelecehan dan pedofilia terselubung.
Untuk para orang tua dan pendidik, mari menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat: batas tubuh anak adalah suci dan harus dihormati. Tidak ada alasan religius, sosial, atau budaya yang membenarkan orang dewasa mencium, memeluk, atau menyentuh anak tanpa kepantasan, apalagi dengan intensitas yang mengganggu. Tugas kita bukan hanya melindungi, tapi juga mendidik anak agar berani berkata “tidak” ketika merasa tidak nyaman—bahkan kepada figur yang dihormati.
Menjaga kehormatan anak adalah tanggung jawab setiap orang tua, yang kelak pasti akan diperhitungkan di akhirat
Kepada tokoh publik seperti Gus yang viral, inilah saatnya berhenti dan bercermin. Tindakan menciumi anak kecil berulang kali bukan bentuk kasih sayang, tapi pelanggaran etika, adab, dan potensi pelecehan.
Dalam kajian psikologi, perilaku semacam itu bisa dikategorikan sebagai grooming behaviour—yakni upaya membangun kedekatan dengan anak untuk menormalisasi kontak fisik yang tidak pantas. Ini berbahaya, baik bagi anak maupun bagi masyarakat yang menonton dan menirunya.
Rasulullah dikenal penuh kasih terhadap anak-anak, namun beliau tidak pernah melampaui batas kesopanan. Kasih sayang beliau diwujudkan lewat doa, perhatian, dan sentuhan hati.
Anak-anak bukan objek kegemasan; mereka amanah yang harus dilindungi. Pendidikan perlindungan anak dimulai dari kesadaran kita sendiri—bahwa setiap bentuk pelecehan, sekecil apa pun, tidak boleh diberi ruang di rumah, sekolah, ataupun panggung keagamaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Sudah bener kemarin kita angkat ttg Bu Yati yang direndahkan di atas panggung meski rekaman itu sudah dua tahun lalu.
Ini salah satu bukti langsung suara hati beliau yg terpendam selama itu krn sebelumnya tak ada yg menyuarakan.
Kasus Guru Supriani S.PD seperti dipaksakan karena jika mau berdamai hrs bayar 50jt serta keluar dari tempat dia mengajar
Cat Warrior jempol racing mode on dan kita spill tipis² pelapor yg salah satu Oknum Polisi Aipda Wibowo Hasim Kanit Polsek tempat dimana dia buat laporan
@tecnoindonesia selamat pagi ,mau tanya saya servis diservis resmi Tecno Denpasar Selama lebih 2minggu koq belum selesai???
Mohon info apa emang begini prosedur garansi resmi hp Tecno??
Thx 🙏
Seindah apa pun bahasa, ia tetap hanya merupakan sarana sangat miskin untuk mengungkapkan isi hati seseorang secara penuh.
Selamat Ulang Tahun, Mbah Nun. Semoga yang terbaik bagimu dan bagi kami semua.
Terima kasih.
Kami semua mencintaimu. ❤️
#71TahunMbahNun#71TahunCakNun
Seorang istri menangis karena kelakuan suaminya. Tak lama kemudian sang suami bermain, bercanda dan menghibur puteri mereka.
Istri: jika suatu saat ada laki-laki yang menyakiti puteri kita, apa yg akan kamu lakukan?
Suami: akan aku bunuh. Karena aku sangat menyayangi puteriku!
Akhirnya, kami warga net yg dulu berbusa-busa telah memperingatkan kalian kini tak perlu memberi pernyataan apa-apa lagi, karena telah terwakili oleh pernyataan pak @msaid_didu dan Si Bulnek (Bule Nekat) ini..😂
KALIAN BUBAR SAJA, Kemenhub @kemenhub151 !!!
Pilot Batik Air @BatikAirID ketiduran lo ga ngapa-ngapain, sekarang kelayakan Bus bukan urusan lu juga. Kalau rakyat yang nilai, kerjaan lu apa dong???
Parkir ilegal juga lepas tangan.
Ya sudah, kami aja yang melakukan Uji KIR dan Ngurusin Parkir!
KALIAN BUBAR SAJA!
-Om Albert godain YouTuber
- Kasus Suap di Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
- Mahasiswa STIP, mati.
- Bandara-bandara kondisinya parah
- Stasiun-stasiun pada mangkrak
yang setuju please Repost and komen.