Dia yang nyamber, pas dibales >>> pundung, ngajakin fanbase lain, ngess twit ga utuh, langsung buat caption
"ini nih kenapa pada benci ama fans arsenal!1!1!1!!!!!"
hadeeeeh playbook gibran masih aja dipake 🤣
Arsenal: Terlatih untuk bangkit lagi
Arsenal tercatat 9 kali jadi runner up di kompetisi lokal. Catatannya:
Era Premier League (sejak 1992): 6 kali (1998/99, 1999/00, 2000/01, 2022/23, 2023/24, 2024/25). Lalu, Era Divisi Utama: 3 kali (1925/26, 1931/32, 1972/73).
Bersama Arteta, 3 kali berturut-turut, sebelum akhirnya jadi juara di tahun ini. Di mata saya, itulah kebanggaan tersendiri, ketika sebuah klub menjadi cermin, menjadi panutan. Bahwa di dalam kehidupan, orang yang berani bangkit untuk berjuang lagi, akan mendapatkan kebahagiaan pada saatnya.
Tahun lalu, Arsenal sampai di semifinal. Tahun ini, bermain di laga puncak. Lawannya sama, PSG yang monster itu. Melihat klub saya berani mencoba lagi, bahkan tahun ini tak terkalahkan selama 90 menit, membuat kekalahan ini terasa seperti reminder saja. Bahwa kalau kamu jatuh, pilihanmu adalah bangkit dan berusaha lagi.
Fans Arsenal yang baik. Dunia akan kejam kepadamu. Seharusnya, kita yang paling mampu menghadapi tekanan itu. Pengalaman, penerimaan, dan mentalitas untuk bangkit lagi, kita yang punya.
Malam ini, bersedih kita bersama. Melepaskan semua adrenalin dan kegelisahan. Esok pagi, ketika dunia semakin kejam, kita bisa bilang ke diri sendiri: "We go again. Over land and sea."
Be proud. COYG
"Laki-laki gak akan sanggup jadi perempuan" ini bener. Sebaliknya, perempuan juga ga akan sanggup jadi laki-laki.
Keduanya punya struggle yang berbeda dan kalau ditempatkan di luar perannya, bakal gak sanggup jalaninnya. Contoh: wanita cenderung punya "pain tolerance" yang lebih tinggi daripada laki-laki, kalo seandainya rasa sakit melahirkan dan menstruasi dipindahkan ke laki-laki, itu sistem sarafnya bakal kewalahan menerima sinyal nyeri yang luar biasa dan bisa fatal efeknya. Belum lagi dari segi keamanan. Banyak wanita yang merasa ruang amannya menyempit karena pelecehan dan kekerasan.
Di sisi lain, ada jurnalis wanita yang pernah berpura-pura jadi laki-laki untuk eksperimen selama 18 bulan, namanya Norah Vincent (Dia nulis buku juga, namanya Self-Made Man). Pada awalnya dia mengira jadi cowok itu "enak", bisa lebih "bebas". Tapi akhirnya dia stres dan efeknya buruknya ngaruh di kejiwaan dia. Sampai dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kenapa?
Laki-laki mengalami "kesepian kronis" dan punya support system yang lebih rendah daripada perempuan. Interaksi antar laki-laki cenderung di permukaan: nongkrong, bercanda, tapi jarang yg masuk sampai emosi yg dalam. Laki-laki bukan "gak mau peka", tapi emang gak punya ruang buat jadi peka pada perasaannya sendiri.
Terus dia pernah coba dating jadi laki-laki, Selama 30 kali dia ngedeketin cewek, dia stres juga karena harus selalu jadi pihak yang mendekati duluan dan mengalami penolakan terus-menerus.
Hidup emang udah berat, jadi gak usah diperpanjang dengan gender war, karena gak akan ada habisnya. 😭