Menurut belio, top 15% society masih aman2 saja.. golongan itu ditandai sebagai orang yg masih beli iPon.
belum jelas 15% dr apa (populasi kah?, kelas menengah atas kah?, dsb)
Kalau dr populasi, 15%= 43jt
Woww, jumlah penduduk SG aja berapa ya
Purbaya mana Purbaya... ?
gak cuma Indonesia yg mata uangnya melemah terhadap USD.
Negara2 ini jg mengalami pelemahan nilai mata uang terhadap USD:
- Jepang
- Brazil
- Filipina
- Korea
Kenapa ya?
3 bulan.
Beliau menggantikan Wamenlu sebelumnya.
Dan berakhir seiring berakhirnya periode Pak SBY jadi presiden.
Kenapa malah jd bahan olok-olok TIW ya
Kalau naik Garuda Indonesia, safety induction-nya kekayaan alam dan budaya dari nenek moyang.
Maskapai Jepang ini memanfaatkan kekayaan intelektual era modern yang sudah mendunia.
@dimarsasongko98 Pengalaman dulu di kampus, orang2 yang kritis dan vokal kalau jadi panitia kerap ga bs menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan dgn baik...
Pun saat diminta solusi konkret suatu masalah malah gak bersuara.
Di acara TK anak, sy diundang kasih testimoni.
Akhir acara, bu guru tanya profesi.
Sy gelagapan
Saat ini sy jalanin bbrp fungsi:
- Researcher
- Product planner
- Engineer
- Designer
- Manager
Sy jwb researcher.
Lalu istri bilang, lain kali jwb budak korporat aja😆
Ner uga😂
Orang kaya dari lahir mungkin gak terlalu paham biaya/harga
Contoh: Raditya Dika di podcastnya dengan Yono Bakrie gak tahu kalau harga minuman/makanan di bandara lebih mahal dr sewajarnya.
Jadi kalau Prabs awur2an duit ya dia simply gak ngeh aja kalau itu gak efisien..
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.
Indri Wahyuni, juri cerdas cermat MPR.
saya pernah jadi wasit lomba 17an anak dan merasa berlaku tidak adil karena kurang cermat memantau garis finish.
Anak yang seharusnya menang sedih & menangis.
Saya masih merasa bersalah sampai skrg
Bu Indri, saya sebel bgt sama anda.
Sadar gak,
Sebenernya, biaya hidup di tempat yang dikelola dgn buruk tuh justru makin mahal.
- trotoarnya jelek, jadi mau jalan 1-2km aja males, harus naik kendaraan.
- transportasi publiknya gajelas, jadi harus beli kendaraan pribadi / transportasi online.
- airnya gak drinkable, jadi harus beli atau masak untuk sekadar minum segelas air putih.
- udaranya berpolusi, jadi kemana2 harus beli masker dan rawan sakit.
- sistem pendidikannya tanda tanya, jadi udah bayar mahal dan nunggu lama sampai lulus, jadinya ga jelas outputnya.
- iklim kerjanya gak kondusif, jadi banyak orang susah dpt kerjaan yang layak.
- mau mulai bisnis dipalak dan pajak sana sini, jadi banyak orang makin males buat bisnis.
- dst dll dsb dkk.