Dear @BPJSKesehatanRI saya baru saja terima telepon kalau Bpjskes saya akan dinonaktif. Sementara saya peserta yg ikut dari tempat suami bekerja. Apakah itu benar dr Bpjskes atau modus penipuan?
Kita mulai dengan 15 lagu hits yang saya sudah hapal di luar kepala..
I’ll do my best..
Yuk kita mulai new journey ini!!
Semangaaat!!
@Duta507@erosscandra@barkah137@destaSO7
So guys, gue sadar gue telat memulai ini. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Buat kalian yang masih lebih muda dari gue, please kalian harus pikirkan masa depan kalian. Siapkan dana pensiun kalian sejak awal.
Gue dan suami punya keinginan suatu saat nanti kami tidak lagi bekerja di bawah orang lain. Kami persiapkan itu mulai sekarang. Target kami, maksimal umur 35 kami sudah santai-santai hidup dari hasil dividen saham. Btw, umur gue dan suami skrg masih 28 tahun
Dan sekarang suami mulai trading lagi dari 0 karena semua tabungan kami sudah habis untuk beli tanah. Sekarang gue dukung dia. Mau cutloss, itu resiko. Kalau untung ya berarti tabungan investasi kami bertambah.
Modal dari saham dan uang gaji suami yang gue sisihkan, Alhamdulillah kebeli juga itu tanah. Cash. Tanpa kredit. Tanpa melibatkan perbankan. Padahal gue dan suami juga belum ada rencana bangun rumah di tanah itu.
Dengan susah payah, kadang makan cuma lauk tempe. Kita perketat keuangan kita. Hal-hal yang tidak penting kita coret dari daftar kebutuhan. Dan gue juga belajar memilih dan memilah antara kebutuhan dan keinginan.
Suami gue bilang, kita beli cash. Nggak perlu urusan sama bank. Insya Allah bisa. "Gusti Allah itu Maha Kaya. Tidak mungkin membiarkan umatnya kesusahan" itu ucapan dia pas gue ragu bisa kebeli apa nggak.
Gue bilang sama suami, tahan dulu. Uang kita belum cukup. Nanti aja kita kumpulin uang dulu baru beli tanah. Karena gue takut kalau harus utang-piutang dengan bank. Lagi-lagi suami coba yakinin gue.
Sampai akhirnya duit yang gue hasilkan, gue tabungin di saham. Dan laki gue mulai belajar trading. Iya, gue mulai menyesal kenapa nggak dari dulu nabung saham. Akhirnya gue belajar. Dari youtube, buku, instagram, dan suami gue. Gue tanya apa yang gue nggak tau.
Rak sepatu udah penuh. Apalagi lemari pakaian. Make up juga mulai nggak pakai karena covid19 diwajibkan pakai masker. Ngapain pakai make up kalau ketutup masker juga. Hahaha
Dia nunggu sampai gue jenuh hambur-hamburkan uang. Terbukti dong. Beberapa bulan sebelum gue resign dari kerjaan, gue udah males tuh beli yang namanya sepatu, baju, dan make up.
Laki gue ini tipikal orang yang tekun banget. Pelan-pelan gue diedukasi pentingnya investasi. Tapi doi masih tidak melarang gue untuk beli ini-itu. Ketika gue minta izin pasti diizinkan.
Sampai di akhir 2019 laki gue belajar saham. Gue masih denial. Ngapain sih main saham. Kalau rugi gimana? Kalau cutloss gimana? Ah banyak pikiran negatif gue.
Lanjut. Bulan Maret 2019 gue nikah. Proses adaptasi masalah keuangan masih kocar-kacir. Gue masih konsumtif. Masih beli barang-barang yang gue sebutin tadi.
Sisanya ke mana? Gue beli sepatu, baju, tas, skincare, make up, dan lain sebagainya. Prinsip gue dulu: uang bisa dicari tapi barang yang lo mau belum tentu produksi lagi. Gila sih kalau gue inget dulu.
Selama 4 tahun 5 bulan kerja, barang dengan nominal gede apa yang gue punya? Gue cuma punya iphone 6s+ (yang gue beli masih cukup mahal waktu itu) dan motor scoopy.