ini salah satu statement dari bang Raditya Dika yang menurutku kena banget
“aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang itu selama lamanya, dengan cara aku menganggap dia tidak ada. jadi yang lebih parah dari membenci orang adalah dengan menganggap dia tidak pernah ada wujudnya. ini lebih menyakitkan daripada dibenci, untuk dianggap tidak ada”
a beautiful reminder in this quote :
“hiduplah dengan lembut dan tenang, nikmati setiap prosesnya. carilah hal-hal kecil yang mampu membuat hatimu bahagia, lalu syukuri setiap detik kebahagiaan itu. jadilah manusia yang memanusiakan manusia, menebar baik tanpa pamrih. mulai hari ini, utamakan dirimu tanpa merasa bersalah. rawat hati dan diri, jaga pikiran, dan cintai dirimu sepenuhnya sebelum mencintai orang lain.”
love yourself before someone else 🤍
suka banget dengan kalimat ini :
"Jangan menertawakan badai orang lain hanya karena langitmu sedang cerah."
tapi, jangan lupa juga sebaliknya :
"Jangan menghujani matahari orang lain hanya karena langitmu sedang badai"
cantik banget kalimat ini :
"Kalau hujan yang nyentuh kulitmu aja harus nempuh perjalanan sejauh itu buat sampai ke kamu, berarti semua hal yang emang buatmu; rezeki, kesempatan, jabatan, bahkan orang-orang yang tepat, semuanya lagi berproses menujumu."
trust the delay.
ustadz hanan attaki once said:
"setiap rasa sakit itu memberi sebuah pelajaran, dan setiap pelajaran akan merubah seseorang. jika kamu hanya fokus dengan rasa sakitnya, maka kamu akan terus menderita. tapi jika kamu fokus dengan pelajarannya, maka kamu akan terus bertumbuh."
Mereka tahu caranya menikmati kebersamaan, tapi juga nyaman dengan kesendirian. Jadi bukan karena nggak laku atau nggak punya teman, tapi karena memang nggak menjadikan pertemanan sebagai penopang harga diri.
Biasanya mereka juga nggak gampang ikut-ikutan cuma biar diterima. Kalau cocok, lanjut. Kalau nggak, ya sudah, tanpa drama. Hadirnya tulus, perginya pun tenang.
Identitasnya sudah kuat dari dalam. Mau ramai, mau sendiri, tetap stabil.
Menurutku, orang-orang yang nggak punya circle pertemanan khusus, sering ke mana-mana sendirian, tapi tetap hangat dan nyambung di berbagai lingkungan, biasanya adalah orang yang hidupnya sudah secure.
Mereka nggak tergantung pada satu geng atau kelompok buat merasa cukup. Bisa makan sendiri, nonton sendiri, jalan sendiri tanpa merasa rendah diri. Tapi tetap ramah, tetap terbuka, dan tetap bisa bergaul dengan siapa saja tanpa kehilangan diri sendiri.
Pantes yah pahala memaafkan itu tidak terbatas. Bayangin aja kita yang ngerasain sakitnya, nangisnya, gemeternya, emosinya, sakit kepalanya, trust issuenya, tapi kita juga yang harus bisa ikhlasin itu semua, kita juga yang harus bisa memaklumi.
Sedangkan orang yang jadi masalahnya bisa dengan mudah hidup tenang & melanjutkan hidup setelahnya.
Di Chinese new year ini, saya inget 1 quote yang bisa jadi reminder di hidup yang terlalu cepat ini adalah quote filsafat Cina, Taoisme, dari Lao Tzu, kurang lebih gini:
“Alam enggak tergesa. Tapi semuanya tetap selesai accomplished pada waktunya.”
Di tengah budaya hustle, lomba cepet-cepetan, ini ngingetin… Nggak perlu buru-buru, bukan berarti nggak bertumbuh. Nggak perlu memaksa, segala sesuatu yang dipaksakan seringkali nggak baik. Ada kebijaksanaan dalam ritme alami.
Pernah lihat orang yang jarang sakit?
Bukan karena hidupnya steril…
Tapi karena:
– Tidurnya nggak pelit
– Makannya tahu kapan berhenti
– Nggak hobi marah tiap hal kecil
– Pikirannya nggak kebanyakan dipikul sendiri
– Badannya dipakai gerak, bukan cuma duduk
Mereka nggak sempurna.
Tapi tubuhnya diajak kerja sama, bukan dipaksa.
Dan tubuh…
Kalau dihargai, jarang memberontak.
Saya berseberangan sama gagasan (biasanya ini gagasan motivator): “Hidupmu sepenuhnya dipengaruhi faktor dirimu sendiri.”
Menurut saya: Hidup seseorang itu bukan hanya soal faktor individu, personal… tapi juga soal lingkungan, sosial, struktural. Karenanya juga dipengaruhi pemerintah, pejabat, sistem.
Gimana menurutmu?
Sepertinya kamu lupa, biarkan hari ini aku mengingatkan kembali.
Sampai saat ini, kamu sudah melewati banyak hal yang dulu kamu kira akan mematahkanmu.
Sampai hari ini, Kamu terus berusaha tersenyum, meski di dalam dada ada beban yang kamu pikul sendirian.
Kamu bertahan di hari-hari yang kamu pikir tidak akan sanggup kamu lewati.
Kamu sudah berusaha kuat untuk waktu yang lama. Saking lamanya, kamu sampai lupa sudah sejauh apa kamu sudah berjalan.
Kalau hari ini tubuhmu minta
Istirahat, istirahatlah. kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian. Kamu boleh minta ditemani. Kamu boleh minta bantuan. Kamu boleh berkata, aku capek.
Walau kamu merasa rapuh, percayalah tetap ada doamu yang sampai, meski suaramu pelan.
Jadi kalau belakangan ini belum ada yang bilang, biar aku yang bilang.
Aku bangga sama kamu.
Teruslah berjalan, teman. meski langkahmu pelan. Kamu tidak tertinggal. kamu sedang melakukan semua yang kamu mampu.
Kamu sudah berusaha sebaik mungkin setiap hari, dan itu sudah lebih dari cukup.
My wife stopped saying "thank you" when I did the dishes.
I noticed.
I was offended.
"I'm helping," I thought. "Where's the gratitude?"
One night I said it out loud.
"I did the dishes. Again."
She looked at me like I'd asked for a medal.
"You live here too."
That's when it hit me.
I wasn't "helping."
I was living in my own house and acting like a guest who occasionally tidied up.
She didn't need help.
She needed a partner who stopped waiting to be thanked for what he should've been doing anyway.
Your wife doesn't need a helper.
She needs a man who stops keeping score.
Yang sebenarnya bikin kamu capek:
– Menahan diri
– Mengatur ekspresi
– Menjaga nada bicara
– Berusaha tidak meledak
Semua demi orang yang tidak pernah menjaga perasaanmu.