Peneliti di Center of Celebrity Studies dengan spesialisasi kajian dedek-dedek idol. Pembaca arsitektur, komik, dan fiksi ilmiah.
Provocateur of #realfansread
Danantara nerbitin Patriot Bond sama Merah Putih Bond, banyak sudah dibahas oleh media dan pengamat ada beberapa yg bikin ganjel di Pasal 50A UU No. 4/2026:
Ayat (5): negara menjamin dan melindungi pembelinya dari penuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk pidana perpajakan, dan gugatan perdata.
Ayat (6): data transaksinya gak bisa dijadiin dasar pajak, gak bisa dijadiin bukti di pengadilan. Jadi datanya ada, tapi dibikin seolah gak ada.
Pertanyaan simpelnya: Kalo duit yg masuk emang bersih, kenapa pembelinya perlu dikasih kebal dari tuntutan pidana? 😋
Norway wins the most medals at the Winter Olympics, with a population of just 5.6 million. People say it’s because Norway is a winter wonderland, but they’re also elite at triathlon, beach volleyball, cycling, and as the world is now seeing, soccer.
A big part of their success is how they treat youth sports—and it’s the opposite of what we do in the US and Canada. Here’s what we can learn from Norway:
1. Scorekeeping:
In the US: Youth sports tend to be hyper competitive even at early ages. Leagues almost always keep score.
In Norway: Scorekeeping isn’t even allowed until age 13.
Removing winners and losers keeps the focus on the process not outcomes. It keeps kids engaged longer because it minimizes pressure (and tears) and maximizes fun, learning, and growth. The goal isn’t to win a third grade championship. It’s to love sport and keep playing.
2. Trophies:
In the US: If you give everyone a trophy, you’re creating snowflakes who will never gain a competitive edge.
In Norway: Whenever trophies are awarded, they are handed out to everyone.
If getting a trophy makes young kids feel good, we should give them trophies. Maybe they’ll come back and play again next year!!
As for the creation of snowflakes with no competitive edge—Norway’s athletes are tough as nails and all they do is win.
3. Prioritizing Fun:
In the US: Far too often, the goal is to win.
In Norway: The national philosophy is “joy of sport.”
Youth sports in the US are driven by adults, ego, and money. Youth sports in Norway are driven by fun.
Only half of kids in the US participate in sports. The number one reason they drop out: because they aren’t having fun anymore. In Norway, 93% of kids participate in youth sports. Fun is the foremost goal.
4. Playing Multiple Sports:
In the US: There’s pressure to specialize early and play your best sport year round.
In Norway: Try as many sports as you can before specializing as late as college.
Norway encourages kids to try all types of sport. This reduces injury and burnout and increases all-around athleticism. It also helps promotes match quality, or finding the sport you are best suited for as your body develops, which is impossible if you commit to a single sport too early.
5. Affordability
In the US: There is increasingly a pay-to-play model with high fees for leagues, equipment, and travel. This excludes many kids from playing.
In Norway: It’s a national priority to keep youth sports affordable and therefore accessible for all.
Kids aren’t priced out, which creates opportunities for everyone to participate (and develop into athletes), regardless of their parents’ income level.
Norway’s sporting success isn’t just speculation or a nice story. A large body of research supports their approach:
• Studies show athletes who specialize later in life have a significantly higher chance of becoming elite.
• Soccer players whose motivation is primarily internal (versus external) have more than a 3x better chance of making it to an elite level.
• The number one predictor of whether or not kids stay in sport is are they having fun.
• Parents connect winning to having fun whereas kids say having fun is about being with their friends and learning.
We could learn a lot from Norway:
In the US, 70% of kids drop out of youth sports by age 13. This not only diminishes an elite-athlete pipeline, but it also destroys an opportunity for healthy habits and all the character lessons kids can learn from sport.
In Norway, lifelong participation in sport is the norm. The goal isn’t to have the best 9U team. It’s to develop the best athletes. Those are two very different things. And Norway has the medals to prove it.
Setiap kali ada birokrasi swasta yang rumit, percayalah sebelumnya ada yang abuse sistem tersebut.
Orang Indonesia ini abusif sama sistem. Jadi dikutuk punya birokrasi ruwet.
Contoh: Kenapa retur barang di ecommerce ribet?
Tebak kira2 abusifnya apa?
Ada dialog yg menarik dan lucu antara Mentri Koperasi Ferry Juliantono Dengan DPR RI Darmadi .
Darmadi : "Berapa target KDMP tahun ini, yg sudah operasional"
Menkop : "1061"
Darmadi : "1061 yg kemarin itu... yg kalo dijumlahin 8 itu kan. Yg pas-pasin itu lho" (sumpah ini menkop mukanya dah bingung anak buahnya pada ketawa pas denger) 🤣🤣
Darmadi : "terus dr 1061 road mapnya mau berapa pak?"
Menkop : 40.000 ribu pak sampai akhir tahun
Darmadi : 40.000 ribu sampai akhir tahun??? NGGAK MUNGKIN (dgn lantang belio jawab)🤣
Menkop : 40.000 bangunan fisik selesai lisensi oprasional selesai, sampai akhir tahun
Darmadi : oprasional??oprasional... hebat yaa, yadah kita tunggu (ini nadanya ngejek bgt 😭 pak darmadi beneran skeptis bangettt udahan😭 belio mau ngatain Menkop ORANG GILA ditahan pasti)
Yg tambah lucu pas pak darmadi bilang..
Darmadi : gini pak 40.004 pak. 4+4 itu 8.
Darmadi : saya suka nomor 8, nomor saya aja 8..8..8 sama dgn pak presiden suka 8
Biarkan pak Darmadi memasakkkk🤣🤣 itu pak darmadi gak maki² si MenKop aja dah bagus itu😭
Knp di bahasa Indonesia policy kalo diterjemahin jadi kebijakan? kan kebijakan itu kek terdengar seperti sesuatu yg bijak, baik, dan layak diikuti. padahal kebijakan adalah proses politik yg penuh dgn kepentingan. nah ada jurnal menarik yg mimin mau bahas
(a thread)
Sad news from the US as France coach Didier Deschamps’ mother has passed away today.
Deschamps will now travel back to France to meet his family and say goodbye to his mom, Federation has confirmed.
He won’t be on the bench for France game against Norway.
Thoughts and prayers with Didier, his family, his mom. RIP. 🕊️
Israel is now openly threatening to use nukes against the world.
Ironically, this is exactly why they should be disarmed and their future statehood called into serious question. Why the Zionist project should have never begun.
Violent tribalism + and existential victim narrative is the most dangerous combination possible. And it’s fundamental to Israeli identity.
There are only two possible outcomes- either they rule the world and all bow to their chosenness or they keep picking fights until the whole world turns on them and they are destroyed.
The slippery part is that it’s not just Israel, they have dragged the entire global Jewish population into this adversarial and unconscionable position. And the real power structure of Israel is dispersed across the global network of Jewish billionaires and bankers that support it and represent the true power of the project.
Iseng lihat trending topic di X, isinya ternyata salah satunya tagar "tingkatkan ketahanan bangsa", dengan menampilkan potongan2 berita positif seperti PLN yg membaik, dll seperti di bawah.
Ini sih jelas menunjukkan adanya kampanye terkoordinasi. Narasinya memakai teknik framing positif terhadap situasi yang sebenarnya merupakan krisis atau gangguan layanan, yaitu menonjolkan keberhasilan penanganan dibandingkan penyebab atau dampak masalahnya. Itu merupakan praktik komunikasi politik dan kehumasan yang sangat umum dan
mudah dibaca.
Pertanyaanya, kenapa sama sekali tagar tsb tdk muncul di algoritma timeline-ku? Ada yg sempat kesenggol nggak ya? Mungkin karena ini di jaringan pertemanan rata2 justru yg kritis. Bagus juga sih.
Dan aku perhatikan rata2 akun yg kampanyekan narasi positif itu anyep, alias hanya bergulir di kalangan mrk sendiri. Jarang ada akun organik yg menimpali.
Tp ini sekaligus mengundang tanda tanya, rupanya narasi di X masih dianggap bisa dipengaruhi para buzzer plat merah ya? Atau memang masih?
Kopdes akan gagal, tau kenapa?
Pemerintah kirain bisnis retail itu asal ada lahan, bangun toko, isi barang, lalu jualan. Kalau pejabat cuma punya kemampuan beli dan ngemeng, mereka beli franchise Alfamart atau Indomaret yang kelihatan memang cuma itu. Punya ruko, dekor-dekor, jualan. Apa sih susahnya?
Padahal bangun toko itu bagian yg paling gampang.
Yang susah itu memastikan barang yang dicari pelanggan selalu ada, harganya bersaing, stoknya nggak busuk di gudang, distribusinya lancar, dan semua itu bisa jalan setiap hari di ribuan lokasi berbeda. Itulah bagian yang selama ini dikerjakan oleh franchisor dan jaringan operasionalnya.
Nah, Kopdes mau masuk ke permainan yang sama tanpa punya persiapan ke semua itu. Kalau beli barang dari agen, harga kalah. Kalau distribusinya nggak efisien, biaya naik. Kalau hasil tani warga dibeli tanpa perencanaan yang bagus, gudang bisa penuh barang yang nggak laku. Belum lagi kalau pengelolanya nggak punya pengalaman retail, stok bisa berantakan dan uang nyangkut di mana-mana.
Yg bikin makin stress, pelatihan yang ditonjolkan justru model militer. Lah, ini kan mau bikin jaringan retail, bukan tim mawar.
Gw nggak pernah lihat Indomaret melatih kepala toko push-up.
Gw nggak pernah lihat Alfamart meningkatkan inventory turnover dengan baris-berbaris.
Gw juga nggak pernah dengar Distribution Center bisa lebih efisien karena pengelolanya jago muter-muterin senapan.
Masalah retail itu forecasting, procurement, inventory management, shrinkage, distribusi, merchandising, cashflow, dan masih banyak lagi. Kalau barang yang dicari nggak ada, pelanggan tetap pergi. Mau sikap sempurna, langkah tegap, atau push-up 100 kali juga tetap pergi.
Pelanggan datang nyari minyak goreng.
"Maaf Bu, stok habis. Tapi saya siap push-up 100 kali."
Makanya menurut gw tantangan terbesar Kopdes bukan membangun tokonya. Membangun toko itu bagian yg gampang (ya meskipun bagian pemilihan lokasi di tengah hutan agak out of the box ya). Dekor-dekor kosmetik gw rasa pemerintah kita udah paling ahlinya. Tantangan sebenarnya adalah membangun system yang membuat toko itu bisa jalan.
Tanpa model operasi yg kuat, kopdes memang bisa berdiri tokonya, tapi bakal jadi bisnis kocak yg bakar duit terus.
Ujungnya apa? Pemborosan anggaran dan jadi lahan basah untuk korupsi.
Terasa hampir tidak nyata saat memikirkan bahwa salah satu pesepak bola terbaik di dunia tumbuh besar di Bryne, sebuah kota kecil yang biasa saja di barat daya Norwegia.
Mungkinkah itu terjadi karena orang-orang dari sana bekerja ekstra keras untuk maju?
Apakah karena berjam-jam waktu yang dihabiskan di dalam indoor hall yang dibangun karena sulitnya bermain sepak bola di luar ruangan sepanjang tahun?
Mungkin karena susu segar dari sapi-sapi lokal. Atau barangkali karena Haaland begitu terobsesi dengan sepak bola hingga ia menonton setiap pertandingan yang ia bisa di TV dan bahkan mempelajari kemampuan Jamie Vardy dalam menjaga posisi agar tidak offside?
Atau, apakah karena ibunya adalah seorang atlet heptathlete terkemuka dan ayahnya, Alfie, pernah bermain di Premier League?
Kemungkinan besar itu adalah perpaduan dari semuanya.
Yang pasti, torehan gol Haaland yang luar biasa—menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi negaranya sebelum ia menginjak usia 25 tahun, meraih tiga Golden Boots Premier League dalam empat musim di Manchester City, serta mencetak 57 gol Champions League hanya dalam 58 pertandingan—menandainya sebagai sebuah fenomena sekaligus penyerang tengah terhebat di eranya. ---via The Guardian.
Hari ini, Haaland menjadi manusia pertama dalam sejarah negerinya yg mencetak lebih dari satu gol dalam dua pertandingan debutnya di Piala Dunia.
Dahsyat!
Hanada Mei revealed that she spoke with Mukaichi Mion about the situation.
"I also spoke with the person I deeply respect, Mukaichi Mion.
She repeatedly told me, 'Management is being terrible, but you shouldn't sacrifice yourself over this.'"
🌏 𝐒𝐈𝐗 players with Southeast Asian heritage at the 2026 World Cup:
🇳🇱🇮🇩 Tijjani Reijnders
🇨🇼🇮🇩 Godfried Roemeratoe
🇦🇹🇵🇭 David Alaba
🇨🇦🇵🇭 Mathieu Choinière
🇦🇺🇲🇾 Nishan Velupillay
🇩🇿🇻🇳 Ibrahim Maza