Di novel 1984 karya George Orwell terkenal dengan istilah Doublethink dam Doublespeak.
Pada novel 1984, jika negara meminta warga mempercayai "2+2=5" maka warga harus mengikutinya. Sampai tidak ada lagi kemungkinan untuk menyebut "2+2=4". Secara politik harus meyakini "2+2=5" tetapo secara saintifik "2+2=4". Itulah konsep Doublethink.
Doublethink membawa kita ke tahapan selanjutnya Doublespeak. Ketika bahasa sengaja digunakan untuk mengaburkan makna yang sebenarnya. Contohnya perang adalah damai, kebebasan adalah perbudakan.
Persis seperti cara kerja aparat penegak hukum kita di bawah. Mereka menggunakan Doublespeak untuk mengaburkan makna sebenarnya. Oh tentu kepala negara kita juga ingin menanamkan Doublethink seperti "10+6=17"
Freeport tak hanya brand penghancur lingkungan dan peradaban Amungme, juga momen "Pesta Pora" kolonialisme.
Indonesia menyerahkan gunung emas ke perusahaan Amerika ini, 2 tahun sebelum Papua dipaksa gabung ke NKRI.
Dokumenter @watchdoc_ID 13 tahun lalu: https://t.co/XiaTRdmKkq
Lagi-lagi kita tidak melihat buku-buku di rumah politikus, tidak melihat buku-buku untuk dasar berpikir mereka, kita hanya melihat harta-harta mewah yang selalu dipuja-puja. Sedih tapi tidak kaget lagi.
FUCK THE COPS
FUCK THE MILITARY
FUCK THE GOVERNMENT
FUCK THE STATE
FUCK THE JUDGE
FUCK DPR
FUCK ALL FASCIST !!!
FOREVER 1312!!
GO TO THE HELL WITH YOUR FAMILY !!
#ACAB#PolisiPembunuh
Ingat nama-nama mereka, kawan. Ingat juga bahwa nasib kita sebenarnya sama dengan mereka. Di mata negara, kita cuma angka. Korban kolateral agenda penguasa.
Untuk kalian yang ingin tahu anatomi orde baru, bagaimana cara mereka bekerja, dan bagaimana watak militerisme mereka beroperasi berikut adalah buku-buku yang bisa kalian baca. In no particular (new) order.
🧵🧵🧵
mungkin kamu mikir:
“nggak peduli sama RUU TNI, nggak peduli sama negara, karena nggak ngefek ke kehidupan pribadiku…yg penting aku tetep kerja utk diriku sendiri…”
nah, pemikiran seperti itulah yg diharapkan oleh negara yg sedang memanipulasi logikamu
#tolakRUUTNI