Super food satu ini sering dianggap gak selevel sama Salad resto Western maupun japanese.
Padahal secara komposisi salad yg ada di photo tuh sangat lengkap, dimulai dari serat, protein, mineral dan karbohidrat sudah ada di dalamnya.
Jika bicara "bumbu kacang nya gak sehat" . Ya berarti kita tinggal atur saja komposisi bumbu kacang nya dan perbaiki metode pembuatan nya ๐๐๐.
Aku bikin ini tadi pagi, adakah yg suka sekali sama gado-gado?
Idul Fitri yg meriah itu tradisi Asia Tenggara/Melayu
di negara-negara Islam lainnya bener-bener ga berasa selebrasinya, habis sholat ied ya udah bubar aja, bener-bener B aja
Di dunia yang semakin chaos, tugas paling berat bukan sekadar mencari nafkah, melainkan membersamai anak.
Memastikan mereka tumbuh mindful. Mampu mengikuti kecepatan zaman tanpa terseret kekacauan. Punya daya pikir, daya tahan, dan kompas batin.
Kadang tantangannya bukan soal uang. Justru kekacauan dunia itu sendiri yang paling melelahkan.
Informasi berlebihan.
Tekanan sosial.
Standar yang berubah cepat.
Kebisingan yang ngga pernah berhenti.
Jangankan anak-anak, orang dewasa pun banyak yang tumbang.
Sebagai ibu yang intens mendampingi anak tumbuh, saya paham kenapa sebagian orang memilih untuk child-free.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena sadar: membesarkan manusia di zaman seperti ini membutuhkan kesiapan mental, energi, dan kehadiran yang tidak main-main.
Gak punya empati, gak bisa baca situasi, gak mau peduli sama kritik, suka halusinasi bikin musuh sendiri, dan arogannya gak ketolong.
Pantesan bencana Sumatera belum dinyatakan jd bencana nasional. Ternyata dia lah bencana nasional buat kita semua.
Anak Kapal Api menikahi Anak pemilik Cat Avian & Air Cleo, beritanya habis 100M, pengakuan orang dekor " harusnya lebih ".
Tapi gk heran crazy rich ketemu crazy rich.
Sementara 100 musisi buat charity untuk sumatera, 2x konser cuma terkumpul 17M.
Ketimpangan nyata di ๐ฎ๐ฉ
๐คฏ
Kalau aktivitas membaca bikin kita sombong (& meremehkan org lain), ada KEMUNGKINAN kita di suatu level mengalami functional illiteracy karena ...
sewajarnya, membaca justru bikin kita sadar klo masih bnyk perihal yg tidak/belum kita ketahui/pahami.
Kapan terakhir kali kamu Googling & klik web utk info yg kamu cari (bukan hanya baca dr rangkuman AI)
Kapan kamu terakhir kali Googling & klik blog pribadi orang utk info yg kamu cari?
Kapan terakhir kali kamu Googling sampe liat page two?
Kapan terakhir kali kamu Googling?
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia