43 ribu orang keracunan sejak MBG jalan.
Ratusan anak masuk rumah sakit dua hari sebelum pidato itu.
Keberaniannya mempromosikan di forum internasional saat dapur di rumah sendiri masih jadi sumber muntah, kalau itu bukan gak tau malu apa ya namanya?
📖 THE GRAPES OF WRATH — john steinbeck
796 hlm. penerj: barokah ruziati
aku mau mulai bikin progress baca buku ini. slow reading. gak tau selesainya kapan. targetku kurang dari 2 bulan.
akan kuupdate bacaan berkala di utas ini. tapi santai, ya. yang penting kautemani. wkwk
Hari ini DPR resmi sahkan UU Polri baru
Polisi aktif bisa isi jabatan sipil di kementerian dan lembaga negara tanpa harus pensiun atau mundur dari kepolisian dulu
Ada yang bilang ini dwifungsi versi baru 🫣🫣😵💫😵💫
Ada 4 hal yang harus lo pahami sebelum menerima atau menolak kebijakan ini👇🏻
BREAKING: Indonesian exports to the United States will face an additional 10% duty as a result of Section 301 trade investigations, Indonesia's chief economics minister said on Friday.
🔴 More on https://t.co/5H0QqpggO4
Barusan gw nonton podcast yang bilang rupiah akan nyentuh 22.000-25.000, pas bulan Juli-Agustus 2026
Itu kata Prof. Ferry Latulihin. Ekonom dan Mantan Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran.
Loh kok bisa? Alasan Prof Ferry:
- Efek krisis Hormuz, harga minyak sekarang di atas 100 dolar AS, bahkan otw 120 USD.
- Karena masih impor BBM dan subsidi ditahan, beban APBN makin berat.
- MBG sebagai the root of all evil. Bikin APBN boros karena memakan hampir 300 T
- Efek MBG => Defisit fiskal membengkak sekitar Rp240 triliun
Gara-gara ini kata Prof Ferry:
- Pasar takut sama APBN Indo. Bisa jebol ga ni anggarannya?
- Indonesia bisa turun rating menjadi non-investment grade
- Ujung-ujungnya, pasar makin tidak percaya.
Tapi ada lagi yang lebih seram..
Berdasarkan putusan terbaru per 12 Mei 2026, Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa Jakarta Ibu Kota Negara Indonesia.
FYI, anggaran untuk IKN per 2025 aja udah 75 triliun. Terus gak jadi apa-apa.
Bisa bangun berapa sekolah itu harusnya😭😭😭
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
This will be quite unpopular opinion, gw pernah ngobrol sama salah satu Dosen IPB: “Pak ciptaan indonesia keren keren, apalagi hasil riset dalam kampus, kenapa jarang yang menjadi inovasi dan sukses di pasar?”
Jawaban beliau menohok,
“Ga pernah diajarin manufacture-mindset mas”
Artikel yang berani dr mz. Moh. Ainun Rizqi.
• Kurikulum Gonta-Ganti Terus: Tiap ada perubahan kurikulum, bahasanya selalu keren: "progresif" atau "visioner". Tapi kenyataannya, guru di sekolah sering bingung karena aturan mainnya berubah terus dari pusat.
• Suara Guru Nggak Didengar: Penulis pakai istilah keren epistemic injustice. alias Negara nggak percaya kalau guru itu pinter. Guru cuma dianggap sebagai "petugas" yang tinggal jalanin perintah, bukan ahli yang paham kondisi murid di lapangan.
• Regulasi "Sok Tahu" dari Pusat: Kebijakan pendidikan kita itu sifatnya top-down (dari atas ke bawah). Orang-orang di kantor pusat yang mungkin jarang masuk kelas, bikin aturan yang harus diikuti semua guru, tanpa nanya dulu ke gurunya: "Eh, ini cocok gak buat murid kalian?"
• Guru Jadi Korban, Di satu sisi harus nurut sama aturan administrasi yang ribet, tapi di sisi lain mereka yang paling tahu kalau murid-muridnya punya kebutuhan yang beda-beda. Akhirnya guru kayak robot yang dipaksa kerja pakai remote control dari jauh.
• Efeknya? Pendidikan Jadi berantakan. Kalau pemerintah terus-terusan merasa paling tahu dan mengabaikan pengalaman nyata guru di kelas, ya pendidikan kita nggak bakal maju-maju. Antara teori di kertas sama kenyataan di kelas bakal selalu nggak nyambung.
Belajarlah merahasiakan kehidupan pribadi.
Tetaplah rendah hati, tidak semua orang perlu tau segalanya tentang kita.
Semakin sedikit orang tau tentang kita, maka semakin sedikit pula orang yang membicarakan kita.
Jagalah kehidupan pribadi sebaik-baiknya.
Ada TUJUH:
1. JANGAN terlalu keras sm diri sendiri, km sdh berusaha maksimal. Aku tau itu. Serahkan sisanya yg gabisa km kontrol pada Sang Pemilik Segalanya & yakin Allah gk akan menelantarkan hamba-Nya.
2. Jgn berharap masalah berkurang, ga akan. Berusahalah makin resilien menghadapi masalah
3. Be present! Masa lalu gabisa diubah, masa depan ga ada yg tau. Kontrol penuhmu ada pada apa yg skrg terjadi.
4. Ga usah merasa punya kontrol di masa depan. Apa yg bisa dilakukan skrg, lakukan!
5. Ga usah sok perfeksionis. Mulai dulu. Jelek? Tinggal diedit pelan2
6. Obat males cuma PAKSA MEMULAI!
7. Kerjaan apa pun itu berat. Ga usah merasa ga mampu. Kerjain aja dulu.
Ya Allah, apa yang menjadi hajat dan niat baik yang sedang kami usahakan, berikanlah kemudahan dalam setiap jalannya.
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه و سلم
‼️Demi Efisiensi Dakwah Pendidikan, @muhammadiyah dan @nahdlatululama Harus Berhenti Membangun "Kampus Baru".‼️
Tahun 2012, di Lampung hanya ada universitas muhammadiyah lampung dan Universitas Metro Lampung.
Bergeser 2025, ada banyak sekali kampus Muhammadiyah dan NU didirikan. Setidaknya ada 3 Universitas Muhammadiyah baru, hasil merger / alih bentuk. Lalu muncul UNU dan ITS NU Lampung.
PTS lain pun bermunculan, di tanah penghasil lada dan kopi ini.
Dalam logika pembangunan, ekspansi yang tanpa kendali seringkali terjebak dalam diseconomies of scale.
Kita melihat fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan pada dua pilar bangsa, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Keduanya berlomba-lomba memperbanyak jumlah institusi fisik, namun saya kawatir mereka melupakan bahwa dalam industri pendidikan masa depan, yang dijual adalah standar mutu, bukan jumlah gedung.
Muhammadiyah, menurut data Majelis Diktilitbang per Januari 2024, telah memiliki 172 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA).
Sementara itu,
NU melalui LPTNU per Mei 2023 tercatat memiliki sekitar 274 Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). Angka ini secara kuantitas sangat luar biasa, namun secara ekonomi, ada inefisiensi besar di sana.
📌Menyebar Mutu, Bukan Menyebar Biaya.
Membangun kampus baru dari nol adalah investasi padat modal yang berisiko tinggi.
Izin institusi baru berarti birokrasi baru, rektorat baru, dan biaya operasional yang membengkak.
Alih-alih mendirikan universitas baru, Muhammadiyah dan NU sebaiknya mencoba beralih ke skema Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU).
Jadi UMY, UMJ atau UNISBA bisa membuka prodi di penjuru Lampung. itu lebih efisien scr ekonomi. Mirip UT dan UPI yang punya banyak kampus diluar kampus utama.
📌Mengapa PSDKU?
Karena kita ingin melakukan "transplantasi keunggulan". Kampus yang sudah mapan dan "berkemajuan" seperti UMY, UMJ, UNISBA harus menjadi jangkar.
Dengan PSDKU,
mereka membawa kurikulum yang sudah teruji, manajemen yang efisien, dan nama besar mereka ke pelosok daerah.
Ini adalah stimulus instan bagi kualitas pendidikan di daerah tersebut.
📌Kualitas adalah Marwah
Pesan ini juga sangat relevan untuk NU. Dengan jumlah kampus yang lebih banyak namun tersebar dengan standar yang sangat beragam, NU memiliki tantangan besar dalam standarisasi mutu. Jangan sampai semangat "satu kabupaten satu kampus NU" justru melahirkan kampus-kampus yang sulit bersaing secara nasional. PSDKU bisa menjadi solusi bagi NU untuk memastikan bahwa setiap mahasiswanya, baik di Jawa maupun di luar Jawa, mendapatkan standar akademik yang sama dengan kampus NU terbaik di kota besar. Kita sudah cukup, dengan jumlah kampus sekarang.
Kita butuh lebih banyak program studi berkualitas yang mudah dijangkau.
Sudah saatnya Muhammadiyah dan NU mengerem semangat pembangunan buta ini, untuk memiliki institusi mandiri di setiap jengkal tanah, dan mulai melakukan konsolidasi melalui PSDKU.
Inilah jalan untuk ekosistem pendidikan yang lebih sehat, menghemat biaya-biaya untuk dialokasikan pada peningkatan kualitas SDM dan riset.
Jangan sampai kita punya banyak gedung, tapi kehilangan ruh keunggulan kompetitif di kancah global.
Apakah kalian setuju dengan pendapat mindos?
cantik sekali makna qoutes ini :
hiduplah dengan baik dan tenang, hiduplah sebahagia bahagia nya — carilah apa yang membuatmu happy dan hargailah detik kebahagiaanmu, jadilah manusia yang memanusiakan manusia mulai sekarang.
love yourself before someone els!
🇮🇩 ATAS NAMA MASYARAKAT INDONESIA 🇮🇩
Bantuan dari galang dana Ferry Irwandi terus disalurkan.
Pagi tadi sebanyak 2.6 ton bantuan diterbangkan untuk bantu korban terdampak di Sumatera. Bantuan akan terus disalurkan secara bertahap.
Terima kasih Warga 🫡
Negeri Rawan Bencana
Bencana banjir seperti di Sumatera itu tidak lagi bisa kita sebut musibah semata. Alam memang punya siklusnya, tapi korban ratusan hanya terjadi ketika manusia ikut merusak keseimbangan. Kalau kita ingin ini tidak terulang, solusinya sebenarnya sederhana. Yang sulit hanya konsistensinya.
Pertama, tata ruang harus jadi semacam “kitab suci”, bukan sekadar dokumen formalitas. Rumah tidak boleh dibangun di bantaran sungai, lereng curam, atau dataran banjir. Kalau sudah terlanjur, relokasi harus dilakukan dengan adil. Lebih sakit memindahkan orang sekarang daripada memakamkan mereka nanti.
Kedua, hutan tidak boleh lagi ditebang semaunya. Selama daerah tangkapan air rusak, banjir bandang hanya soal waktu. Reboisasi harus massif dan pengawasan harus tegas. Tidak bisa lagi ada “izin istimewa” yang menggadaikan nyawa rakyat.
Ketiga, peringatan dini dan infrastruktur sungai harus dibangun dengan benar, bukan proyek asal jadi. Sensor curah hujan, check dam, kolam retensi, dan jalur evakuasi bukan barang mewah; itu kebutuhan dasar di negeri rawan bencana.
Keempat, literasi bencana harus masuk dalam pelajaran di sekolah. Orang harus tahu tanda bahaya dan bagaimana menyelamatkan diri. Jepang selamat bukan karena negaranya sakti, tapi karena warganya terlatih.
Dan terakhir, pemerintahan yang bersih adalah fondasi segalanya. Kalau AMDAL bisa dibeli, kalau tebang hutan bisa dinegosiasikan, kalau proyek mitigasi bisa di-mark up, maka setiap musim hujan kita hanya menunggu bencana berikutnya. Dan ingat bencana alam bukan cuma banjir, tapi juga gempa bumi, gunung meletus, kebakaran hutan dan lainnya.
Jangan ada yang berlindung di balik kata takdir dan seolah ini azab dari Allah. Kalau ini dianggap hukuman, apa kita tega menyalahkan para korban seolah mereka terkena azab? Kalau ini azab, maka seolah tak perlu ada antisipasi dan mitigasi serta edukasi untuk meminimalisir korban dan dampak bencana. Semakin hancur, semakin berhasil “azab” tsb kan? 😰
Saya percaya alam memberi isyarat akan kelalaian dan kepongahan manusia, tapi saya juga percaya Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih-Nya lebih besar dari murka-Nya.