Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.
Daritadi nangisin trend beasiswa KIP di tiktok 😭 semangats selalu, semoga kalian sukses, bisa membawa perubahan terbaik untuk keluarga dan sekitarmu, salam hormat adik2 semua 🫶🫶
Aku baru nonton ep 1 dan ngerasa ini fiksi banget soalnya mentri pendidikan nya sagat baik dan malah berantem ma ketua dpr nya. Terus pas si ketua dpr aka calon presiden nya dapet rumor negatif langsung dipenjara. Aneh, kayak kemana buzzer buzzer yg membela nya, gak relate 🥲
WOILAH CHA SEGYE TENANGIN DIRI LO CHA SEGYEEEEE😭😭😭
ril CEMBURU DALAM KEADAAN GANAS DAN BENGIS😭😭😭 kata gw mah yak lu bikin naskah sendiri aja dahhh segyeeee
KHODAMNYA AMPE KELUAR ANJRIT GA KUATT😭😭😭😭😭😭😭😭😭
#MyRoyalNemesis#MyRoyalNemesisEp9
#colony 🎬
One of the best zombie movies I've seen in a while. Scene nya kebanyakan menyoroti kompleks bangunan dan gimana cara character ini keluar dari bangunan tsb dengan selamat. Jadi lumayan bikin claustrophobic terutama di setiap scene elevator.
Colony best bangeeettss 😭😭🔥🔥🔥 koq bisa yaa kepikiran ide ceritanya begitu, pinter ih zombie2 jaman now wkwkwkwk.. buat koo kyo hwan, gilaaa kereen bgt segala bentuk ekspresi dapet bgt. Top of the top! #colony
Guys, gue mau rangkum semua yang sudah terjadi soal isu ini karena sudah berkembang jadi beberapa babak dan banyak yang belum tahu kronologi lengkapnya.
Babak satu kritik Dino Patti Djalal:
Dino Patti Djalal mantan Wakil Menteri Luar Negeri, mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat, Ketua Dewan Pembina Foreign Policy Community of Indonesia — secara terbuka mengkritik intensitas kunjungan luar negeri Prabowo.
Datanya spesifik:
sejak dilantik Prabowo menghabiskan sekitar satu dari setiap enam hari masa jabatannya di luar negeri.
Biaya setiap kunjungan presiden bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah mencakup tim pendahulu, penerbangan kepresidenan, pengamanan, akomodasi, dan logistik.
Saran Dino juga konkret:
gunakan video conference untuk pertemuan bilateral yang bisa dilakukan jarak jauh, manfaatkan forum multilateral untuk banyak pertemuan sekaligus, dan percayakan misi teknis kepada Menlu Sugiono yang biaya perjalanannya jauh lebih kecil karena rombongannya kecil.
Babak dua respons Habiburokhman dari DPR:
Ketua Komisi III DPR dari Gerindra langsung merespons. Dan responnya bukan membantah data.
Tapi menyerang hak Dino untuk mengkritik.
"Sebagai mantan Wamenlu juga kurang etis jika Dino mengkritik kinerja politik luar negeri pemerintahan Prabowo."
Argumen Habiburokhman: di negara-negara maju mantan pejabat membatasi diri mengkritik penerusnya. Dan kritik Dino dinilai tidak akurat serta terkesan serangan politik.
Tapi tidak satu pun data Dino yang dibantah dengan data tandingan.
Dan ini yang paling menarik soal kualifikasi Dino yang justru diabaikan:
Habiburokhman bilang kritik Dino
"tidak berbasis informasi yang akurat."
Tapi Dino adalah orang yang hidupnya dihabiskan untuk menjalankan diplomasi Indonesia.
Kalau dia tidak punya kualifikasi untuk menilai kebijakan luar negeri siapa yang punya?
Dan justru karena dia mantan Wamenlu dia tahu persis berapa biaya satu kunjungan presiden, bagaimana mekanisme pertemuan bilateral bisa dilakukan tanpa harus terbang, dan seberapa besar perbedaan biaya antara kunjungan presiden penuh dengan kunjungan menlu saja.
Pengalamannya bukan kelemahan dari kritiknya. Pengalamannya adalah sumber kredibilitas kritiknya.
Dan ini tentang argumen Trump yang paling tidak tepat:
Habiburokhman menggunakan Trump yang mengunjungi China sebagai pembenaran bahwa kepala negara harus proaktif keluar negeri.
Tapi Trump pergi ke China dengan satu agenda spesifik negosiasi perdagangan senilai ratusan miliar dolar dengan hasil terukur.
Bukan untuk tiga kunjungan ke satu negara dalam setahun yang pulangnya membawa instruksi bahasa baru tanpa roadmap.
Frekuensi bukan masalahnya.
Apa yang dibawa pulang itulah yang dipertanyakan.
Dan ini kalimat paling jujur yang mungkin tidak disadari Habiburokhman:
"Kritik mantan pejabat kepada penerusnya bahkan bisa menjadi bumerang jika publik membanding kinerja si mantan dengan yang sedang menjabat."
Kalau kinerja yang sekarang lebih baik perbandingan itu justru menguntungkan pemerintah yang berjalan. Perbandingan hanya jadi masalah kalau hasilnya tidak menguntungkan pihak yang sedang berkuasa.
Jadi secara tidak langsung Habiburokhman sedang mengakui bahwa dia tidak mau ada perbandingan dilakukan.
Dino mengkritik dengan data dan saran konkret.
DPR merespons dengan mempersoalkan hak Dino untuk mengkritik bukan dengan membantah datanya.
Di demokrasi yang sehat kritik dari orang berkualifikasi tinggi disambut sebagai masukan berharga.
Bukan dibungkam dengan label "kurang etis."
Dan yang paling ironis:
orang yang paling tepat untuk menilai apakah kebijakan luar negeri presiden efisien atau tidak justru adalah mantan pejabat luar negeri.
Bukan anggota DPR Komisi III yang bidangnya adalah hukum dan keamanan.
Kalau cara merespons kritik adalah mempersoalkan siapa yang boleh bicara bukan apa yang dibicarakan maka yang sedang terjadi bukan debat kebijakan.
Itu adalah upaya menutup percakapan sebelum jawabannya harus diberikan.