Dapatkan reward TikTok bersama saya! Tonton video pendek, menangkan hadiahnya, tukarkan kupon, dan banyak lagi! Gunakan kode undangan saya 7369187325 untuk mendapatkan reward dengan tautan ini: https://t.co/f7znZ23xJN
KUTUKAN SEWU LELEMBUT
Part 3 - Alas Rowosukmo
"Di hutan ini pendekar-pendekar itu dipertemukan.."
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror @zona_horror
#bacahorror
Note : Cerita ini per postnya panjang, jadi jangan lupa klik 'tampilkan lebih banyak' di tiap postnya ya..
-----
(Di desa Dirga...)
Suara kentongan yang dipukul penuh kepanikan terdengar dari salah satu sisi Desa Dirga. Hari sudah larut malam dan nada yang menjadi pertanda adanya bahaya mengalun nyaring.
Beberapa warga berhamburan keluar dari rumahnya untuk mengetahui situasi, sementara sebagiannya memutuskan tetap di rumah untuk saling menjaga anggota keluarganya. Tidur nyenyak mereka berganti dengan kecemasan.
“Ira diculik! Ira diculik!” teriak warga yang menjadi petugas ronda sambil terus mengetuk kentongan.
“Diculik? Yang bener maneh teh?!” Seorang warga yang baru saja keluar rumah memastikan. Warga lain pun jadi berkerumun penasaran.
“Muhun, Pak! Ini saya ngabarin, Bapak-bapak yang lain sama ayahnya Ira lagi ngejar ke dalam hutan!”
Mendengarnya, sepuluh warga yang berkumpul pun kembali ke rumah untuk mengambil alat penerangan seadanya. Ada yang membawa senter, ada pula yang memegang obor. Mereka lalu membentuk kelompok di pos ronda ikut menyusul ke hutan.
“Hayu atuh berangkat!” ucap seorang warga.
“Sakedap, Pak,” (Sebentar, pak) ucap petugas ronda itu, terlihat ragu.
“Ngantosan naon deui?” (Tunggu apa lagi?”)
“Yang menculik Ira teh…”
“Naon? Ari maneh ngabejakeun urang teh kudu jelas atuh!?” (Apa? Kamu tuh kalau ngasih tau kita harus jelas!) sahut warga lain.
“Anu nyulik Teh Ira sigana sanes jelema…” (Yang menculik Teh ira mungkin bukan manusia )ungkap petugas ronda dengan raut khawatir.
Demikian, warga yang sudah siap menyusul pun terdiam. Terpancar keraguan di wajah mereka, tapi merasa jumlah mereka banyak, mereka tak berniat mundur.
“Hayu jalan! Ulah sieun!” (Jangan takut) teriak warga yang paling depan memberi komando.
Mereka pun saling memberi anggukan, lalu bergegas melangkah menuju jalan setapak yang menuju hutan sambil meneriakkan nama Ira. Nyala kobaran obor dan sorotan senter meneriangi jalan setapak itu. Malam yang biasa hening dan gelap berubah riuh.
Sayangnya baru beberapa langkah memasuki hutan, warga desa tiba-tiba terhenti karena keberadaan siluet seseorang yang berdiri di tengah pepohonan. Sosok itu membelakangi mereka, seakan sengaja menjadi penghalang.
“Naon eta teh?” (Apa itu?) ucap seorang warga sembari menunjuk sosok itu.
Wujudnya memang seperti orang biasa dengan pakaian warga desa pada umumnya, tapi wajahnya ditutupi dengan separuh topeng berwarna hitam.
“Darah perawan atau darah seluruh warga desa, tuanku memang butuh keduanya…” ucap sosok itu. Di balik kegelapan, bibirnya menyeringai.
Angin dan suara serangga hutan mendadak menghilang. Suasana tiba-tiba hening begitu saja, seolah memberikan ruang untuk sosok bertopeng hitam itu memulai aksinya. Di punggung belakang, ia menarik sebilah pisau. Obor yang menyala temaram memperlihatkan tangan sosok itu menunjukkan pisau berukir di genggamannya.
Saat itu lah warga desa yakin mereka berada dalam masalah.
“Dia bukan manusia biasa! Hati-hati!” teriak seorang warga yang menyadari kejanggalan dari sosok itu.
Di tengah kebingungan, tiba-tiba mereka terkejut karena tubuh mereka yang kaku dan kaki mereka tidak bisa digerakkan. Seakan kaki mereka terpantek di tanah
“Sepuluh orang? Apa akan ada yang datang lagi?” Sosok bertopeng sebelah itu melangkah mendekati para warga.
“Lepaskan kami!” teriak salah satu warga desa, lalu tiba-tiba dalam sekejap di lehernya terbeset garis terukir rapi. Darah pun mengucur deras. Ia kejang-kejang karena darah mengucur deras dari luka yang nyaris tak kasatmata di lehernya. Matanya melotot dan terbatuk darah.
“KEHED SIA!” (Brengsek kamu!) hardik warga lain.
Mereka panik mengetahui nasib mereka akan berakhir tragis.
“Tumbal tidak punya hak untuk bicara!” ucap sosok bertopeng itu dengan tenang sembari mengelap pisaunya yang basah dengan darah.
Warga desa yang ketakutan berusaha berlari, tapi menggerakkan jari saja begitu sulit. Nyalang mata mereka membiaskan ketakutan karena akan menerjang kematian yang sia-sia.
“Ja—jangan! JANGANNN!!!”
Sebelum bilah pisau tajam yang dilesatkan menyentuh leher warga yang menjadi korban berikutnya, tiba-tiba kabut pekat muncul, membuat sosok bertopeng itu menghentikan gerakannya dan berubaah waspada.
Brugggh!!
Tubuh seorang pria terjatuh dari salah satu sisi kabut. Warga yang menoleh benar-benar bingung dengan situasi itu.
“I—itu? Tubuh itu mirip—” ucap salah seorang warga yang menganga memastikan objek yang ia lihat sama dengan sosok bertopeng di depan.
Sosok bertopeng itu menoleh ke sekitar, tangannya mengepal di depan topeng yang ia kenakan.
Tranggg!
Dalam sepersekian detik, pisau di tangannya beradu dengan keris yang melesat tepat ke wajahnya, membuat sosok bertopeng itu mundur dan lebih waspada dengan lawan yang belum bisa ia identifikasi.
“Mas Jagad?! Dirga!” seorang warga terkesiap mengetahui siapa yang datang.
Senyuman kecil muncul di bibir warga desa yang tengah menahan kengerian ketika melihat dua pemuda yang hadir dari balik kabut. Sementara sosok bertopeng sebelah itu geram mendapati musuh yang tak terduga.
“Kalau dia Baron? Kau siapa?” Jagad menendang tubuh sosok pria bertopeng yang terkulai di tanah. Ia menitipkan tubuh Ira yang tengah dibopong kepada warga di dekatnya.
“Tidak mungkin, tidak mungkin di desa ini ada yang bisa mengalahkanku!” tegas sosok bertopeng itu dengan angkuh.
“Aku?” Dirga menunjuk dirinya sendiri.
Suara langkah kaki yang lain muncul di dekat warga desa yang tengah meregang nyawa. Entah bagaimana sosok itu tiba-tiba bisa berada di tengah-tengah mereka begitu saja.
“Itu ajian Pecah Sukmo, Dirga. Jangan terkecoh,” ucap seorang pria baya di belakang Dirga dan Jagad.
“Abah? Apa tadi? Ajian Pecah Sukmo?” tanya Dirga.
Abah mengangguk, ia sepertinya tidak perlu membahas lebih lanjut dan memilih memfokuskan dirinya menghentikan pendarahan di leher warga sambil membacakan beberapa lantunan mantra penyembuh. Ia berharap apa yang ia lakukan bisa menyelamatkan nyawa warga desa itu.
Dirga juga tidak ingin berbincang lebih lama, ia memberikan satu pecahan kerisnya pada Jagad dan bersiap menyerang sosok Baron yang kini di hadapan mereka.
“Berarti kita tinggal mengalahkan dia lagi kan, Mas Jagad?” ucap Dirga sebelum menerjang dengan senyum percaya diri.
Keris dan pisau kembali saling beradu, tapi kecepatan Baron mampu untuk mengimbangi kecepatan mereka berdua sebelum mereka kembali memasang posisi bertahan.
“Jangan lengah, orang ini ahli dalam bertarung,” ucap Jagad pada Dirga.
Perlahan, mereka menyadari walaupun memang keadaan gelap, hutan yang kini menjadi arena bertarung mereka terasa semakin pekat. Mereka belum menyadari bahwa sedikit demi sedikit goresan pisau sudah melukai tubuh mereka secara misterius.
Dirga membelah kerisnya lagi dan melemparnya untuk menyerang Baron. Namun, kegelapan yang Baron ciptakan dengan ajiannya mengecoh Dirga. Sebaliknya, Dirga malah terjatuh karena kerisnya bak bumerang yang jadi senjata makan tuan. Dirga menghindari kerisnya yang melayang ke arahnya dan tak butuh lama ia kehabisan tenaga dengan luka sayatan yang baru sadar mengenai kulitnya. Dalam sekejap, Dirga jatuh terduduk bersamaan kerisnya jatuh ke tanah.
“Pusaka itu cocok untuk tuanku.” Baron menyeringai melihat keris itu.
Kesadaran Dirga teralihkan dengan munculnya pengelihatan kerisnya melayang-layang menghabisi warga desa. Ia pun, dalam ketidakberdayaannya, panik melihat pemandangan sadis itu sementara ia tak bisa bergerak sedikitpun.
Baron menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Dirga. Ia melesat cepat sembari menghunuskan bilah pisaunya yang membelah udara. Akan tetapi, sesaat sebelum Baron berhasil menerjang ke arah Dirga, sebuah batu menyala melayang ke arahnya dan seketika meledak. Baron pun terpental ke belakang sembari memegang pundak kirinya. Darah segar menetes ke tanah, ia meringis kesakitan.
“Kami sudah mengalahkanmu satu, menghabisimu bukan perkara sulit,” ucap Jagad dengan nada dingin.
Dirga berusaha bangkit dan menyadari bahwa apa yang tadi dilihatnya hanyalah ilusi yang dibuat oleh ajian Baron. Sosok itu pun geram mengetahui Jagad tidak bisa diremehkan, ia membacakan sebuah ajian. Sesuatu mulai bergetar dari arah tanah. Dirga dan Jagad menyadari datangnya petaka jika sedikit saja mereka lengah.
“Tidak mungkin, dia juga menguasai ilmu seperti ini. Jagad! Dirga! Mundur!” teriak Abah mendadak panik.
Namun, sebelum ilmu itu dilepaskan Baron, tiba-tiba satu pecahan sukmanya yang tak berdaya menghilang begitu saja bagai kabut hitam, menyusul sosok Baron yang tengah merapalkan ajian. Keduanya melesap jadi kabut hitam yang menguap sebelum menghilang.
“Apa yang terjadi?” Dirga bingung menatap Abah dan Jagad.
Jagad menggeleng, tak tahu dan tak bisa mengira. Sedangkan Abah mengerutkan dahinya, berkata, “Sepertinya terjadi sesuatu dengan tubuh aslinya yang memaksa dia untuk mundur.”
“Benar, Bah?” Dirga memastikan.
Abah menoleh ke sekitar dan mencoba menelaah kondisi yang sebenarnya sebelum akhirnya mengangguk yakin.
Melihat anggukan Abah, Dirga pun terduduk di tanah, disusul Jagad yang juga menarik nafas lega. Mereka menengadah. Warga yang sedari tadi terjebak dalam ajian yang membuat mereka tak bisa bergerak akhirnya bebas. Mereka saling memeriksa satu sama lain.
“Gila! Satu saja sosok itu aja sudah menghabiskan tenaga. Harus melawan satu lagi dan dia jauh lebih kuat rasanya benar-benar keterlaluan…,” keluh Jagad menyeka keringat di keningnya.
“Sudah, ngeluhnya nanti saja. Antar gadis itu dulu, baru habis itu obati luka kalian,” perintah Abah.
Jagad dan Dirga patuh. Dibantu warga, mereka kembali ke desa membawa dua orang yang berada dalam keadaan kritis. Ira, seorang gadis perawan yang diincar oleh sosok Baron, dan seorang warga yang menjadi korban Baron. Beruntung warga sigap memanggil petugas kesehatan puskesmas untuk memberikan pertolongan pertama.
Tragedi tak diharapkan itu benar-benar membuat warga desa semakin waspada. Beruntung saat itu Jagad dan Dirga yang sedang berlatih merasakan ada hal yang tidak beres ketika petugas ronda memukul kentongan. Terlambat sedikit saja, mungkin nyawa warga desa sudah tak dapat lagi mereka selamatkan.
Saat akan kembali ke rumah Jagad, Dirga, dan Abah beberapa kali terhenti karena beberapa bayangan yang berkelebatan di tengah jalan. Abah mendapati firasat yang tidak beres mengenai desa ini, begitu pula Jagad. Mereka berdua tahu ini bukan hal yang biasa, tapi mereka tak bisa gegabah untuk menyimpulkan dan mengambil tindakan.
Cring…
Mereka bertiga mencari asal suara itu dan melihat bayangan seekor kucing hitam yang berjalan pincang di atap rumah warga. Saat menoleh ke arah lain, samar-samar mereka melihat bayangan kecil melintas seperti seekor kera yang melesat dari pohon ke pohon. Abah mendadak khawatir.
“Sepertinya mereka akan terlibat tragedi besar lagi,” ucap Abah mengenali kedua sosok itu.
Jagad hanya memberikan anggukkan kecil sebagai tanggapan. Pikirannya juga mengkhawatirkan yang sama. Sementara itu, Dirga masih melamun mengingat penglihatan yang muncul saat berhadapan dengan Baron tadi.
Ajian macam apa yang bisa menciptakan ilusi dan membuat gempa?
***
Sudah kenal Arsa? dalang baru dari Padepokan Ki Joyo Talun?
Baru saja dia dan Naya mengadakan pertunjukan di desa Dawuilir, mereka sudah harus menghadapi kutukan mengerikan yang bernama 'Jengges'...
Nggak mungkin kan Danan tinggal diam melihat kekasihnya dalam bahaya?
@diosetta sehat selalu mas Dio... karya2 nya tetap number one di hati kita
tiap baca ceritanya pasti pikiran bbrapa kali flashback ke judul2 lain yg saling berkaitan. pengen bgt ada temen diskusi keseruan iniii 😁
KUTUKAN SEWU LELEMBUT
"Menarilah dalam kubangan darah.."
Sebuah pementasan wayang berubah menjadi pertumpahan darah yang diakibatkan oleh sosok misterius yang menyebarkan kutukan keramat milik keluarga ningrat.. Jengges.
@qwertyping@RestuPa71830152
https://t.co/aikk1nJAqW
‘’ULAAARRRRR BROTOSENOOOOOOOO!! AKU AKAN MENGAMBIL PUSAKA ITU!’’
Raden Suropto segera memfokuskan dirinya dengan menempelkan kedua jarinya ke ujung pusaka tersebut.
Pagi ini saya dibangunkan dengan kabar bahwa bapak udah nggak ada dan harus buru-buru ke Jakarta.
Jadi saya tuntaskan cerita ini secepatnya. mohon maaf kalau ternyata agak berantakan , soalnya uploadnya buru-buru.
Mohon doa dari temen2 semua ya, dan sepertinya saya belum bisa nulis lagi sampai beberapa waktu kedepan.
Titip cerita ini semoga bisa memberi sesuatu yang berharga buat temen-temen semua.
@diosetta@RestuPa71830152 turut berdukacita mas Dio... semoga di lapangkan kuburnya, di terima segala amal perbuatan nya, dapat tempat terbaik di sisiNya aamiin 🤲 semoga keluarga yg ditinggalkan mendapat ketabahan dan kesabaran, serta kesehatan selalu aamiin 🤲