Bukan anti dengan nasehat, tapi selektif dengan "akun yang ngalim ndakik-ndakik" dalam menulis postingan terkait agama.
Karena nyatanya akun yang menulis serta merepresentasikan diri ngalim ndakik-ndakik di media sosial justru bertolak belakang kelakuannya di kehidupan nyata. :)
@DiditPr22902246@kompascom Bukan mas, justru kita yang harus berani. Lho saya juga pernah ditawari titip, "kenapa harus titip" tak jawab gitu... ya tinggal mau enggal kita. Ngoten mas
@RuudBukanGullit@glycereth_K@kompascom Sama halnya dengan yang telat, padahal masa berlaku SIM 5 tahun. Banyak waktu untuk mempersiapkan, menjadwalkan perpanjangan daripada harus bikin baru.
Sebegitu malesnya urus perpanjangan? Lalu saat mati, malah menyalahkan aturan
@glycereth_K@kompascom Bapaknya niat memperpanjang saat sudah lewat batas masa berlaku. Memperpanjang SIM itu seberapa banyak menyita waktu sih?
Jauh? Online sekarang bisa, SIM diantar... Bayar biaya penerbitan dan ekspedisi, SIM sampai alamat.
@Xiaomi_winz@kompascom Kenapa legitimasi (pengakuan/izin) kompetensi berkendara tidak mudah didapat?
Ya karena kompetensi berkendara itu nggak cuman soal asal bisa tarik/bejek gas... Ada kesehatan, psikologi, keterampilan berkendara dan memang susah. Kalau memang mampu, kenapa liwat jalur belakang?
@Xiaomi_winz@ayamkepal@kompascom Baik, kalau begitu dilihat dari sudut pandang dan kenyataan yang lain. Gimana dengan mereka yang nggak kompeten tapi tetep ngotot pengen nembak? Usia belum cukup umur (kompeten) tapi ngotot pengen punya SIM sampai nembak, gimana?
@glycereth_K@kompascom Apa SIM menjamin kompetensi seseorang berkendara, paham serta taat peraturan berkendara? SIM itu legitimasi.
SIM, dan KTP jelas beda, jangan dicampur adukkan. Surat Izin (License) dan Kartu Tanda...
@iqbal_p2@kompascom Saat perpanjangan ada tes kesehatan juga, masa orang sakit dinyatakan sehat? Kalau nggak sehat berarti nggak lolos tes kesehatan.
Saya sarankan anda lebih dulu memahami antara SIM, KTP, dlsb. Mohon maaf, gap kita terlalu jauh. 🙏