Telak!!! Adian Pertanyakan Ada 33 Ribu Lebih Anak-Anak Keracunan MBG Tapi Tidak Ada Tersangka dan Proses Hukum..
Wajar kalau akhirnya rakyat dan mahasiswa kecewa dan tidak percaya sama program MBG..
Keras! Virdian Aurellio ke Alimuddin : Orang" yang mendukung negara lebih sibuk mengkritik cara orang" yang mengkritik dibanding mengkritik dibanding mengkritik dapur pemerintahanannya sendiri!
Dari presiden dan wapres, sampai ke menteri dan pendukungnya semenjijikkan ini, kalah debat terlihat bodoh tapi makin lantang suaranya 😡
Menurut Pak Nusron Wahid, Pak Teddy kalo diperumpamakan sahabat Rasulullah, beliau ibarat Sayidina Ali. Masih muda namun memiliki kecerdasan luar biasa. 👍👍👍
Bener juga ya, kok selama ini gw ga kepikiran?
Lagi lagi pejuang mahasiswa dibenturkan alihkan isu
Apa yang salah 5 tuntutan ini!???
Tuntunan MAHASISWA kepentingan kita bersama sebagai Rakyat
Kebaikan untuk negeri ini
Ada gerombolan gak suka
Hal tersebut..
Gerombolan ini tugaskan
Untuk alihkan isu, tuntutan mahasiswa
Pola MEREKA tetap sama
-MAHASEWA :dibayar asing, soros, Singapura
-TIYO sasaran dikambing itam kan bahan untuk publik
-baru ; mahasiswa bersatu dukung
Program pemerintahan
Maka dulu belanda nyaman menjajah negeri ini, pribumi bisa di adu domba
Salam akal sehat.
Masa @fadlizon@Fahrihamzah@bang_dasco termasuk saya dll, anda sebut penjilat. Kami-kami berjuang bareng2 dengan Presiden @prabowo ikut perjuangan politik beliau sejak awal, masa ketika beliau menjadi Presiden, kami tidak bekerja bersama beliau memastikan agenda perjuangan politik beliau berlanjut. Dan, saat ini tugas saya memastikan agenda visi perhajian Presiden bisa berjalan, dan mengalami perbaikan-perbaikan signifikan.
Wakil ketua DPRD Gerindra yang komentar pedas kepada pendemo dengan komentar "lagian siapa yang mau kasih lu makan, udah gembrot" diduga punya belasan dapur embege, Wow
Ini bukan gosip.
Ini rekam jejak Anggota DPD yang lo pilih pake uang pajak lo.
AWK , Arya Wedakarna, DPD Bali:
📌 2009 : Ngaku Raja Majapahit Bali. Nama lengkapnya 12 kata. Dipolisikan warga Bali sendiri karena dianggap lecehkan sulinggih dan palsukan identitas.
📌 2017 : Provokasi penolakan Ustadz Abdul Somad masuk Bali. Dilaporkan ke BK DPD dan polisi oleh anggota DPR RI , dituduh jadi otak persekusi berbasis agama.
📌 Maret 2020 : Ajudannya sendiri, mahasiswa semester VI, gaji Rp700 ribu, dijambak rambutnya, diputar-putar kepalanya, dipukul, dicekik , gara-gara nggak sengaja jatuhkan tas. LP/135/III/2020/BALI/SPKT. Masuk Polda Bali.
📌 29 Desember 2023 : Di rapat resmi Angkasa Pura Bandara Ngurah Rai, bilang ke pejabat: "Jangan kasih yang penutup-penutup nggak jelas. This is not Middle East." Viral. Dikecam MUI, NU, Muhammadiyah, ICMI Bali.
📌 2 Februari 2024 : Dipecat BK DPD. Langgar sumpah jabatan dan kode etik. Tiga laporan polisi sekaligus : Polda Bali, Polda NTB, Bareskrim Polri. Keppres No.35/P Tahun 2024 diteken Jokowi 22 Februari 2024.
📌 Maret 2024 : Tetap ngantor setelah dipecat. Tetap klaim masih terima gaji. Ngotot nggak mau keluar sampai dipaksa.
📌 Pemilu 2024 : 378.300 suara. Balik lagi ke DPD 2024–2029.
📌 27 Maret 2026 : Sebar hoaks foto jurnalis https://t.co/0oxJUTcFBv sebagai pelaku pemerkosaan. Tanpa verifikasi.
Jurnalisnya bilang: "Mental saya langsung down."
Dilaporkan ke Polda Bali dan BK DPD. AWK minta maaf terbuka , Antara, 30 Maret 2026.
📌 2026 : dari akun Instagram verified-nya sendiri:
Ada warga lapor anak-anak SD 3 Batuyang nggak dapat MBG. Minta tolong ke anggota DPDnya
Jawaban AWK:
"Tanyakan sama mahasiswa yg DEMO itu ya... mereka demo MBG agar dihapus."
"Kami bantu daerah yg mau mau saja."
Rakyat lapor anak nggak dapat makan , dibalas dengan nyalahin mahasiswa yang demo.
Lalu ketika dikritik di kolom komentar, AWK jawab:
"Yg ga milih juga banyak termasuk elo. Ga usa sok paling berjasa."
Dipecat → minta maaf → balik lagi → masalah baru → minta maaf lagi → rakyat yang butuh bantuan disuruh tanya ke demonstran.
Pola ini bukan kecelakaan. Pola ini adalah model bisnis.
Dan model bisnis ini jalan terus , karena sistemnya memang dirancang untuk membiarkannya jalan.
Tugas DPD itu apa, Pak?