Halo teman-teman🙋🏻♀️ aku izin minta bantuan buat adik aku yaa, namanya Ghifariiii🧍🏻
Oktober nanti usianya 17 tahun, tapi tinggi badannya masih sekitar 130 cm.
Sekarang dia lagi terapi hormon, dan tiap malam aku yang nyuntik dia. Karena terapinya masih harus terus jalan dan biayanya lumayan besar, aku sekeluarga buka penggalangan dana di Kitabisa.
Kalau teman-teman berkenan membantu, sekecil apa pun akan sangat berarti buat Ghifari. Bantu RT juga udah berarti banget buat kami supaya ceritanya bisa sampai ke lebih banyak orang🤍
Terima kasih yaaa semuanyaa! Mohon doanya juga semoga semua ikhtiar ini bisa bantu dia tumbuh dengan baik🧍🏻🤍
https://t.co/qfU7cYHjbE
JADI GUNANYA PUNYA COLD STORAGE BUAT PETANI ITU, KALO HARGA JUALNYA LAGI JEBLOG, BISA DISIMPEN AJA SAMPE HARGA JUALNYA BAGUS
omgggg bner2 tak terfikirkan 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
soalnya sering liat petani buang2in hasil panen krn harga jual kemurahan
duh nirempati bgt.
lu pikir nyaman pake pembalut? kalo bisa mah kita yg cewe2 mending ga mens deh drpd hrs ngerasain sakit perut kek mau copot gt.
ini lg soal pembalut. lu tuh cowo anjg. pake jg engga, ngatur mulu. yeu belegug.
funfact. kutipan ini dipajang di kampusku sejak 2016. sepertinya waktu itu, gak ada yang tau siapa zen rs.
kebetulan aku baca https://t.co/6RhvOt4xBG
jadi tau dia siapa
"Jangan asal beli buku Tan Malaka!
Zen RS bongkar kesalahan fatal puluhan penerbit yang merusak sejarah aslinya."
"Banyak buku Tan Malaka yang beredar ternyata cacat terjemahan? Ini alasan kenapa kamu sering pusing pas baca bukunya!"
Zen RS dalam sebuah podcast yt Asumsimenegaskan bahwa buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis oleh Tan Malaka adalah dokumen tertulis pertama dalam sejarah yang secara eksplisit menggunakan dan mencetuskan istilah "Republik Indonesia", jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Zen RS membongkar kekeliruan fatal dari belasan versi buku Naar de Republiek yang beredar di pasaran. Banyak penerbit tidak mencantumkan nama penerjemah karena mereka tidak riset dan tidak tahu bahwa buku asli tersebut aslinya ditulis oleh Tan Malaka dalam bahasa Belanda yang sangat akademis dan berlapis-lapis, bukan bahasa Indonesia.
Misreading Terhadap Buku Madilog (Bukan Sekadar Ilmu Logika)
Terjadi misreading (salah baca) massal di kalangan anak muda terhadap buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Banyak yang mengira Madilog hanyalah panduan agar cara berpikir menjadi rasional atau logis. Padahal bagi Tan Malaka, Madilog dibentuk sebagai senjata/perangkat berpikir revolusioner bagi kaum buruh dan murba untuk melakukan perubahan sosial dan aksi nyata.
Zen juga memberikan formula membaca semesta pemikiran Tan Malaka. Jika Madilog mengajarkan cara berpikir (fondasi) dan Masa Aksi/Gerpolek mengajarkan taktik di lapangan (praksis), maka buku Naar de Republiek adalah jembatan emas di antara keduanya. Buku ini jauh lebih ringkas, dibandingkan Madilog, dan tidak setebal buku Dari Penjara ke Penjara yang mencapai 900 halaman.
Melalui riset arsip kolonial, Zen menemukan bahwa pemerintah Hindia Belanda sangat ketakutan dengan buku ini. Kepala Reserse Hindia Belanda (A.E. van der Lely) dalam laporan intelijennya menyebut buku ini sebagai dokumen rencana pemberontakan dan rencana perang yang sangat lengkap, hingga media internasional kala itu menjulukinya sebagai "Rencana Perang Tan Malaka".
Buku Naar de Republiek memuat cetak biru (blueprint) dan program nasional yang sangat komprehensif. Bayangkan, 20 tahun sebelum proklamasi 1945 berkumandang, Tan Malaka sudah merancang secara detail bagaimana sistem militer dan kurikulum pendidikan jika Indonesia merdeka nanti. Tidak ada tokoh pergerakan lain di zamannya yang mampu berpikir sejauh itu.
Dalam podcast ini Zen juga membacakan kutipan langsung dari bagian belakang buku yang ditujukan khusus untuk kaum intelektual. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Belanda karena sasarannya adalah kelas menengah ke atas yang punya banyak pengetahuan tapi minim pemahaman terhadap penderitaan massa. Tan Malaka memperingatkan kaum intelek agar tidak hanya menjadi pajangan (performative) sebelum mereka dibuang oleh kapitalisme kolonial seperti sepah tebu.
Selengkapnya baca aja deh langsung bukunya Tan Malaka - Naar De Republiek yang diberik catatan kritis oleh Zen.
Bagi yang masih bingung bagaimana urutan membaca karya-karya Tan Malaka, mungkin bisa dimulai berdasarkan kronologi tahun terbitnya:
– Menuju Republik Indonesia (Kanton Cina, April 1925)
– Semangat Muda (Tokyo, Januari 1926)
– Aksi Massa (Singapura, 1926)
– Madilog (Kalibata Jakarta, Juli 1942-1943)
– Dari Penjara ke Penjara (Penjara Ponorogo, 1947-1948)
– Ger-Po-Lek (Penjara Madiun, Mei 1948)
*lokasi dan tahun terbit disalin langsung dari keterangan pada Kata Pengantar masing-masing buku yang dibaca
**mohon dikoreksi seumpama keliru
PUAS BANGETT ANJJ, GOOD JOB HAFIDZ UDAH SKAKMAT PERWAKILAN ISTANA 😹😹🫵🫵
Si Wowok klaim tau siapa yang bayar-bayar demo tapi dia gasebutin? Emang ada dua kemungkinan saat ini.
1. Pengen ngerasa gagah
2. Pengen rakyatnya konflik horizontal.
Dear @UNICEF,
Indonesian children should never be used to advance any political agenda or government campaign. Indonesia's Child Protection Law emphasizes that every child has the right to be protected from exploitation, violence, discrimination, and any activity that may jeopardize their best interests. Involving elementary school children in public rallies, asking them to carry campaign-style signs or chant political slogans raises serious concerns about whether their rights are being respected.
Children can’t meaningfully consent to political participation. Schools should remain safe spaces for learning—not places where students are mobilized to endorse government policies.
We urge independent monitoring to ensure that children's rights are fully protected and that no child is used as a tool for political messaging.
Hello @UNICEF, Indonesian government is forcing elementary school students to join 'rallies', carried signs, and chanting slogans in support of the free meal program that has been widely opposed by the public due to its corruption and state budget hoarding. ⚠️
🚨 16 mahasiswa FHUI. Satu grup WhatsApp. Isinya: tubuh mahasiswi dan dosen dijadikan objek, fantasi kekerasan seksual, dan keyakinan bahwa 'diam = consent’.
Kampus sudah merespons. Tapi satu pertanyaan hukum belum terjawab:
Patut kah percakapan di "ruang tertutup" dipidana?