gue selalu percaya ini,
cari pasangan yang kita nyaman untuk ngobrolin apa aja.
jadi dari awal pastikan kamu mau "berantem bareng" dengan pasanganmu itu bukan cuma "bahagia bareng"
toh semua orang siap "bahagia bareng", tapi belum tentu semua mau diajak "berantem bareng".
lagian dibanyak waktu yang akan dihabiskan bareng nantinya, gue percaya obrolan yang nyambung akan jauh lebih seru daripada sex.
Dengan siapa kamu menikah lebih penting dibandingkan kapan kamu menikah.
Penelitian menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap pernikahan berhubungan dengan peningkatan risiko stroke hampir 2 kali lipat lebih tinggi. Selain itu, risiko kematian juga meningkat 21% lebih tinggi pada orang yang tidak puas terhadap pernikahannya.
Ketidakpuasan pada pernikahan diduga berhubungan dengan peningkatan kortisol yang berujung pada peradangan kronik dan penurunan kemampuan imun tubuh.
Semoga bermanfaat!
we spend too much time of social media where people tend to only expose the best aspects of their lives but irl most people don’t travel twice a year, a large part has actually never been on a plane. you don’t need to be indebted for a LV bag u don’t even care about
I hope I meet my person by accident. No dating apps, no matchmaking, no one trying to set us up. Just two people living their own lives and somehow finding each other.
Setuju, jangan jadikan kalian sapi perah untuk wanita yg kapan saja bisa mengkhianatimu.
provide masa pacaran itu sewajarnya saja, traktir makan, ngopi , nonton dsb.
kalo sudah diminta untuk menghidupi, dipaksa mensupport gaya hidup boros dan mewahnya, percayalah diakhir kalian akan menyesal seperti aku.
please remember 🤗
hiduplah dengan baik, sebaik-baiknya jangan menjadi alasan seseorang untuk tidak makan hari ini, jangan jadi alasan keluarnya airmata seseorang di malam hari, jangan menjadi alasan seseorang membenci dirinya sendiri, dan jangan jadi penyebab seseorang menangis mengadukan perlakuanmu pada Sang Pencipta.
karena kamu ga pernah tau kehidupan apa yang pernah terjadi kepadanya atau bahkan itu energi terakhirnya untuk tetap hidup. dia memang tidak membalas, tapi menceritakan semua ke Penciptanya 🥺🤍
Emang kosong aja berarti wawasannya. Kok bisa sampai kepikiran kalo angka itu masuk akal. Kalo orang berpikir pakai nalar sih harusnya langsung ga percaya saat dapat laporan begitu.. ga masuk akal dari sisi manapun. 🤦♂️
Kalo 700 perak baru masuk akal. Tapi kalo segitu ya bukan keberhasilan. 💁🏻♂️
gua ga nyari pasangan yg perfect, karena gua pun jauh dari kata itu
gua cuma pengen ada satu orang yg tetep milih gua even gua ga lagi di versi terbaik dari diri gua.
Hidup cuma sekali. It’s totally okay kalau kita pernah salah pilih, salah percaya, atau tersalah langkah. It’s all part of learning. Yang penting you learn from it, move forward, dan ambil full responsibility atas hidup sendiri. That’s real courage.
sebenarnya, orang yang berteriak "ingin mati" justru orang yang selalu berjuang untuk hidup. Mereka tidak ingin mati, mereka hanya ingin penderitaan mereka berakhir. Namun, tidak ada pilihan lain hingga memilih kematian untuk mengakhiri penderitaannya.
Ternyata ada orang yang bertahan hidup cuma karena dia tau bunuh diri itu dosa🥹
So guys pls be kind, be nice, be positive, be genuine in this cruel world.
Semua orang juga berperang dengan dirinya sendiri, dengan kehidupannya, dengan sekitarnya, tapi mereka punya pilihan untuk tidak mengajak orang masuk dalam lingkaran kehidupannya kalau dirasa masih belum mampu atau ya, masih bingung. Sesederhana ini aja gak mampu memahaminya, ya?
Karier medis bertahun-tahun, beasiswa bergengsi, dan reputasi akademik, hancur lebur seketika cuma karena gagal ngerem jempol di medsos.
Melihat kasus ini, pepatah "Adab di Atas Ilmu" ternyata bukan sekadar pepesan kosong. Ini adalah peringatan keras tentang bagaimana karakter yang rapuh bisa meluluhlantakkan masa depan yang kokoh.
sebuah utas