Kurasa, aku tak masalah menunggu sedikit lebih lama jika pada akhirnya yang terbaik memang hadir terakhir.
Dan jika aku boleh meminta, rasanya akan terasa jauh lebih baik jika kau yang datang di akhir ceritaku nanti.
Dari pihak pesantren juga menyuruh untuk membayar uang jaminan rapid test sebesar 250 ribu pak. Ini bagaimana sebenarnya? Kita para santri bingung dan was was.
Sudah berakhir, masih terukir. Sudah kandas, masih membekas. Mencoba pergi, terbawa hati. Mencoba menghilang, dibayangi kenang. Memang kalau sudah jatuh hati terlalu dalam, susah untuk tidak tenggelam. Meski setiap hari perasaan kaupaksa padam.
Tidak setiap cerita memiliki ending yang jelas- happy or sad ending. Beberapa cerita mungkin harus memiliki ending menggantung.
-atau mungkin berharap ada kelanjutan cerita.
“Tenang, semua akan baik-baik aja kok”
Mudah untuk meyakinkan orang lain, tapi sulit untuk meyakinkan diri sendiri bahwa yang sedang dihadapi akan baik-baik aja.
“Kiai kok ngajinya guyon?”
“Ya gak papa. Justru dai yang gak bisa guyon itu menunjukkan ilmunya pas pasan. Melihat kitab saja sudah grogi. Jadi sebelum ngomong sudah tegang. Bagaimana bisa guyon” 😂
~ Gus Baha
terkadang tak apa menjadi cuek, jika kepedulian tak pernah dimengerti lagi
tak apa mengabaikan seseorang, jika perasaan kita tak pernah dipahami dan dihargai
sesekali memang perlu menjadi egois, bukan untuk menyakiti, akan tetapi untuk menghindari sebuah sakit hati