Muka di uang 20 ribu itu bukan orang biasa.
Cucu Paku Alam III.
Jalur Putra Mahkota . bangsawan kelas atas, bukan priayi kelas dua.
Tapi dia pilih dipenjara tanpa pengadilan, diasingkan ke luar negeri, dan di akhir hidupnya BUANG gelar bangsawannya sendiri.
Ini kronologi lengkapnya, dari lahir sampai mati
Iseng nonton film pendek berjudul NAKED karena premis & ensemble castnya oke bener.
Cerita soal pria beristri yang bikin sex tape bareng selingkuhannya, tapi secara tidak sengaja video itu malah bisa jadi bukti kasus pembunuhan secara misterius.
Very engaging from beginning to ending. Sebuah thriller yang memberikan pilihan yang dilematis karena mereka mereka terjebak di permainan yang mereka buat sendiri.
Nonton di sini: https://t.co/TCbCRGxKD0
Pembaca buku yang dirahmati Allah.
Jangan kalian sekali-kali percaya akan sejarah yang dituliskan dalam film ini.
Tidak ada namanya wanita Gerwani motong dan nyilet-nyilet badan para jenderal yang tewas.
Tidak ada wanita Gerwani itu menari telanjang di Lubang Buaya.
Tidak ada itu lagu Genjer-Genjer dinyanyikan di Lubang Buaya.
Bagaimana kita bisa tau? Yuk kita belajar lagi dari buku sejarah yang bukan di tulis oleh penguasa. Mari berpikir kritis dan memaki-maki penguasa.
Ada perempuan yang berdiri di barisan depan pas bendera merah putih pertama kali dikibarin, 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur 56.
Dia bukan penonton.
Sebelum hari itu, dia udah keluar masuk penjara kolonial Belanda dan disiksa militer Jepang,gara-gara nulis.
Tapi coba lo tanya orang di jalan siapa namanya.
Kemungkinan besar mereka cuma tau dia "istri orang yang ngetik teks proklamasi."
Namanya S.K. Trimurti.
Utas ini soal kenapa itu salah satu kegagalan terbesar buku sejarah kita.
tapi, sayang, ketamakan yg mereka jaga hingga merugikan banyak orang itu untuk apa? mereka memandang uang seperti apa? atau kerakusan yg mereka rawat membuatnya lupa tentang kematian?
Lo nyanyiin lagu ini tiap Senin pagi sejak SD.
Tapi lo tau nggak kisah orang yang nyiptainnya?
Dia hidup miskin.
Diburu Belanda.
Mati sendirian di usia 35.
Dan nggak sempat lihat Indonesia merdeka.
Ini cerita Wage Rudolf Supratman.
Bentar, duduk dulu.
Setiap 21 April lo dandan kebaya, foto-foto, caption "Selamat Hari Kartini."
Tapi lo pernah nggak nanya: kenapa bukan 4 Desember?
Kenapa bukan Hari Dewi Sartika?
Jawabannya bukan soal siapa yang lebih berjasa. Jawabannya soal siapa yang lebih berguna buat penjajah
Bacalah sampai habis.