Jadi aku punya client di Pilates. Seorang oma2 usia 65 tahun yang CORE STRENGTHnya sangat hebat. Dia udah pilates dari 30 tahun lalu jadi punya body awereness dan control yang sangat tinggi.
Dia aktif di bidang pendidikan. Dia bilang, seperti kemampuan fisik, membaca juga ada staminanya. Namanya reading stamina.
Nah kalau gak dilatih reading stamina ini bisa hilang, bikin susah fokus (iya gue mengakui reading stamina gue turun). Jadi harus dilatih lagi.
Harus menghilangkan pikiran bentar2 ngecek HP.
2026 gue mau abisin buku2 yang baru kelar sebagjan ๐
๐.
Siapa yg kalo nulis sering rempong bolak-balik Google/app yg beda2 untuk nyari sinonim atau sekadar memastikan, "Ini tanda bacanya udah bener belum, ya? Kata X baku gak, ya?"
Sekarang, kalian gak usah rungsing karena semua udah tersedia di satu web mahadahsyat ini; KATEGLO!
Peta Kota Surabaya setelah disahkan menurut UU Nomor 16 Tahun 1950 dan sebelum diperluas menurut UU Nomor 2 Tahun 1965 (peta asli serta visualisasi ulang)
I Told my Therapist:
โI feel safest when I do everything alone.โ She didn't even ask why. She just said, "That's not independence. That's grief. And I swear. I felt something in me break open.
Because it is grief, isn't it? Grief for every time you asked for help and no one showed up. Grief for being the child who had to hold it all together while everyone else fell apart. Grief for realizing way too young, that no one was ever really coming to save you. You didn't choose to be strong. You had to be.
Ayo guys manfaatin website Kemendikbud! https://t.co/2VZhiL2HMB
Di sini, banyak banget bacaan non-teks yang bisa kalian baca secara gratis, bahkan ada dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris! Aku udah baca beberapa. :D
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
Books should be as cheap as your morning gorengan, libraries should be open 24/7 like your favorite warteg, and reading should be a free pastime, not a luxury.
BREAKING NEWS
The 2024 #NobelPrize in Literature is awarded to the South Korean author Han Kang โfor her intense poetic prose that confronts historical traumas and exposes the fragility of human life.โ
Bicara mengenai gelar doktor kehormatan (honoris causa), Haruki Murakami adalah salah satu penulis yang punya gelar itu.
Bukan satu, tapi ada 5 universitas yang memberi gelar pada penulis Norwegian Wood ini. Universitasnya juga ga main-main, yang pasti bisa dilacak di internet~