@levifikri Teman-temin techbro need to read and bookmark this article: https://t.co/7Pcbj63Py5
Frontier tech team lagi pada menuju situ, or similar workflow (I personally believe)
Siempre intento ser lo más imparcial posible con mi cuenta, pero esta vez necesito hablar como hincha.
Créanme, los seguidores de otros clubes no lo dimensionan para nada, pero es inmensamente deprimente ser fan del AC Milan en la actualidad y no desde hace 1-2 años, hablo de una década al menos, o más.
Imagínate crecer viendo a un equipo con jugadores de elite que se volvieron legendarios con el tiempo. Crecer viendo a tu equipo compitiendo cada año POR TODO como firme candidato. Crecer viendo equipos que en el sentido literal de la palabra eran temidos por toda Europa, casi cada año... Pasar de todo eso, a este presente en 2026.
Si les soy sincero, no sé cómo describirlo, no imagino al Real Madrid, al Bayern o al Barcelona ganando apenas 2-3 titulos en 10-15 años... Y lo de hoy solo es otro capitulo de una historia que parece destinada al fracaso. Lo del rossonero es el downgrade más grande de la historia del fútbol, sin lugar a dudas.
¡NO EXISTE UN SOLO CASO SIMILAR!
This is how former Deputy Prime Minister Mr. Wong (now Prime Minister) defended Temasek after its failed investment in FTX. Saying its the nature of investment and risk taking.
In Singapore, it was treated as an investment failure. In Indo, a failed investment is framed as “corruption”. By that logic, someone should also be held responsible for IKN or Whoosh no?
Deim, 14km longest run gw, dia recovery run, pace 4 kecil, hr avg 121 bpm 😂
Refleksi bahwa kita emang hamba sahaya yg bayar kalau ikut event lari, bukan dibayar
Robi Syianturi abis pecain rekor SEA dan nasional 🇮🇩 bukannya goler-goler malah lanjut recovery run 🤯
Recovery run 14km pace 4:24 lagi 🤯😩
Enjoy Copenhagen Robi!
#SoundMindSoundBody#GoRobi
Jujur saya sudah mulai jenuh, muak, dan jijik dengan FENOMENA PERADILAN SESAT (miscarriages of justice) yang berulang kali terjadi dalam penegakan kasus tindak pidana korupsi.
Sudah berkali-kali saya menulis dan berteriak untuk kasus Tom Lembong hingga kasus hari ini yaitu kriminalisasi Ibrahim Arief (Ibam).
Kejanggalan dalam penegakan tindak pidana korupsi ini pun sudah menjadi semacam konsensus di antara pakar hukum pidana.
Bahkan, dalam konteks kasus Ibam, pakar hukum pidana dari UI, UGM, hingga PTIK pun sepakat betapa janggalnya proses peradilan yang menimpa Ibam. (Baca di sini: https://t.co/hRu0xBdb2W)
Bukannya fokus pada pembuktian di peradilan seperti pembuktian pemenuhan unsur-unsur (bestaandel) dari Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Tipikor yang didakwakan pada Ibam (yang nyata-nyatanya belum terbukti secara sah dan meyakinkan di pengadilan), malah yang dilakukan oleh Jaksapedia dan gerombolannya adalah mendemonisasi Ibam.
Demonisasi terdakwa kasus korupsi yang berulang-ulang kali terjadi dan menimpa Ibam ini (viral-based prosecution) mengingatkan saya pada literatur klasik dari Albert Camus, yakni L’Etranger (Orang Asing), sebuah buku yang bercerita tentang kisah Mearsault yang dihukum mati karena melakukan pembelaan diri dari serangan benda tajam.
Ada banyak perbedaan antara kasus Ibam dan kisah Mearsault, namun setidak-tidaknya ada satu kemiripan yakni, dalam kisah Mearsault, Jaksa yang menuntut Mearsault tidak berfokus membuktikan kejahatan yang ia lakukan maupun mens rea (niat jahat), tapi mereka berfokus mendemonisasi sifat maupun perilaku Mearsault yang tidak ada hubungannya dengan perkaranya demi mendapatkan justifikasi moral untuk menjatuhi hukuman seberat-beratnya.
Ini persis dengan yang Ibam alami setahun terakhir. Karena JPU belum bisa membuktikan tuduhan dalam ruang persidangan secara sah dan meyakinkan, belakangan malah saya lihat demonisasi dimulai dengan Ibam dicap sombong, defensif, dan sebagainya.
Padahal dalam kultur yang menjunjung tinggi kesetaraan, respon-respon mas Ibam selama ini sudah kelewat sopan.
Ditambah lagi, apa relevansinya sifat seseorang terhadap penjatuhan sanksi pidana korupsi?
Apakah suatu hari saya dan anda semua juga akan dipidana bukan karena kejahatan yang saya lakukan, tapi karena sifat saya yang dicap arogan?
Apakah ini arah penegakan hukum pidana yang kita kehendaki di masa depan?
Kurang terang apalagi bukti bahwa setidak-tidaknya ada 3 masukan Ibam yang ditolak:
1) Rekomendasi untuk gabungan antara chromebook dan windows. Yang akhirnya pejabat pengadaan pilih 100% Chromebook;
2) Rekomendasi mas Ibam untuk lakukan RFI/RFQ yang dilewatkan begitu saja oleh pejabat pengadaan;
3) Spesifikasi chromebook yang diambil pejabat pengadaan tidak sama dengan yang Ibam rekomendasikan.
Saya gak mengerti di bagian mana mas Ibam ini sangat powerful? Powerful kok gak didengerin?
Kita semua bisa sepakat kalau sistem ekonomi kita hari-hari ini belum menyejahterakan banyak kelompok, dan belum bisa menyelesaikan persoalan ketimpangan.
Tapi kenapa kesalahan sistemik ini dilemparkan pada seorang konsultan yang tidak bisa menentukan arah masa depan negara?
Konsultan mana yang memiliki wewenang untuk menentukan arah masa depan negara?
Tulisan ini memang bukan dibuat untuk membahas problematika pasal karet UU Tipikor maupun teori penegakan hukum seperti apa yang saya dan rekan saya Dr. Giovanni Christy (@gvnchrsty) tulis di The Jakarta Post minggu lalu berjudul “How obscure interpretation of state losses fuels capital flight”.
Di tulisan ini, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk terus menjaga akal sehat, karena betapa menjijikkan dan rusaknya tatanan hukum kita hari-hari ini akibat segerombolan orang yang secara ugal-ugalan menjadikan hukum pidana senjata untuk menjatuhkan orang yang tidak disukai.
Semoga esok hari akal sehat masih terjaga di PN Jakarta Pusat saat pembacaan putusan mas Ibam.
Semoga mas Ibam, mba Ririe, dan keluarga tidak menjadi korban dari betapa busuknya sistem hukum kita yg sudah busuk dan terus membusuk.
Intinya, Indonesia tidak akan maju kalau tech bros dan guru saling memusuhi. Kita butuh kolaborasi.
Nadiem dan Ibam mewakili harapan “tech for good”, guru mewakili realita “pendidikan untuk manusia”. Keduanya harus saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan.
Gw rasa ini yg paling fair dlm memandag diskusi yg lagi ramai, musti dipilah gak bisa lsg dicampur
Konteks: dr anak & keluarga guru kabupaten (ke expose masalah grassroot) + tekbro
@maulana_pcfre Demi ruang diskusi yang lebih relevan, kita bisa breakdown beberapa masalah sebenernya:
1. Inisiatif pengadaan Chromebook (NM)
2. Terduganya Ibam meng-acc kan kasus pengadaan Chromebook
3. Projek digitalisasi dunia pendidikan yang dinilai tidak tepat sasaran
4. Upah guru rendah
pak @prabowo 🙏
mewakili kami semua anak-anak teknologi 🇮🇩
ibam adalah representasi terbaik dari kami
ikhlas mengabdi untuk negeri
melepaskan tawaran milyaran gaji dari luar negeri
jika tiada keadilan & betapa kejamnya ia didholimi
niscaya tiada lagi dari kami mau mengabdi
Hi @ecommurz 👋🏼 Ini Ririe, makasih supportnya!
Ibam titip pesan. Kenapa dia mau fight kriminalisasi sampai titik darah penghabisan, karena ingin ujungnya semua bisa teriak lantang:
"Ngga perlu takut bantu Indonesia!"
11 hari jelang putusan, teman2 mohon bantu share di IG ya 🙏🏼
@lwastuargo@levifikri Api based harusnya available juga via google ai studio (cuman belum pernah nyoba), bisa embed combo direct cc + notebook lm lsg di workflow
@lwastuargo@levifikri Yep, gw imagine sih, 2 opsi, jadi end tooling, since lu dah ada coret2an ide, cemplungin hasil summary aja remove entirely si remotion (part explore tetep pakai cc) --> text to voice + video
Or, end to end, bikin summary di situ, raw docs masukin interact