ㅤ
aku mengutarakan rahasia terbesarku tentangmu, bahwa aku telah begitu lama menaruh rasa yang aku simpan diam-diam terhadap dirimu, Yumiki Sai.
(@obstruens)
ㅤ
ㅤ
asma yang kusebut adalah dua hal yang berbeda.
Lamun, disekon selanjutnya, aku mengerjapkan kedua mata seiring dengan kesadaranku yanh jua turut kembali. Menyadari apa yang baru saja terucap, aku menundukkan kepala. Tersipu. Malu, sebab secara tidak langsung
ㅤ
ㅤ
anganku itu benar adanya, bukan hanya pemikiranku semata. Belum lagi, saat kau memanggil nama depanku, rasa-rasanya seperti aku tengah dibuai dalam sebuah mimpi yang sebelumnya hanya menjadi bayanganku saja.
(@obstruens)
ㅤ
ㅤ
mencerna tiap kata yang kau ucap. Memastikan bahwa pendengaranku masih berfungsi dengan seharusnya. Namun, lagi, aku tak ingin menyimpulkan sendiri, sehingga aku pun membuka suara dan berkata, “Eh? Maksudnya?”
Aku bukan pura-pura bodoh, aku hanya ingin bahwa
ㅤ
ㅤ
melabuhkan kecup lembut pada bibirku.
Hangat dan ... lembut. Pikirku. Melebihi bayanganku akan taut denganmu yang semula mengisi kepalaku, dan anehnya aku menyambutmu. Membalas pagutmu perlahan, tanpa adanya ingin untuk melerai.
(@obstruens)
ㅤ
ㅤ
menyukaiku, seorang Kōno Magi?
Ingin aku melompat-lompat karena kegirangan, tapi aku masih harus memastikan dan terlihat tidak bodoh di hadapanmu bukan?
Maka hendak aku berucap tetapi tak sampai aku sempat bersuara, kau telah melaku karti yang kau ingin. Kau
ㅤ
ㅤ
berbisik sembali mengalih pandang.
Bukan sebab aku membenci bertatapan denganmu, tapi tolong, aku bisa gila bila ditatap sedemikian rupa olehmu dalam waktu yang lama!
(@obstruens)
ㅤ
ㅤ
hanya akan berbuah sia-sia.
Sebelah tanganku (yang sejak kau menarikku) bertumpu pada sebelah bahumu, tanpa sadar tergerak dengan jarijiku yang mengetuk-ngetuk, menandakan bahwa aku tengah gugup.
“T-tapi, haruskah aku menjawabnya?” imbihku pelan, setengah
ㅤ
ㅤ
cantik, ya!” tuturku gelagapan.
Demi Dewa dan Tuhan lain dari kepercayaan apapun, bukan itu yang ingin aku ucapkan sekarang. Tapi, aku tidak tahu harus memberi respon seperti apa.
Jadi, Kami-sama, tolong aku harus bagaimana!
(@obstruens)
ㅤ
ㅤ
aku tidak tahu harus memberi julukan apa ihwal hubunganku denganmu.
DAN SAAT INI, tepatnya beberapa sekon lalu kau mengatakan bahwa ingin menciumku? Haruskah aku mengangguk? (Karena aku tak keberatan dengan itu)
Tapi, aku ... MALU, SANGAT MALUUUUU.
“Langitnya
ㅤ