Gua sempet takut bikin tech startup buat pasar global, because I thought I wasn't good enough.
My network & past successes are all in Indo, jadi gua kira potensi gua mentok disini.
But this is the wrong mindset:
Setiap kali lu merasa diri lu "not good enough,” there are two possibilities:
1. You’re actually not good enough.
Then you need to get better, dan cara terbaik untuk level up adalah compete sama orang yang lebih jago.
2. You are good enough, but you don’t believe it yet (lack of confidence)
Then you need proof. Lo perlu build something, show it to the top players in your industry, and earn their respect.
Kalau semua achievement gua dari Indo, gua bakal terus penasaran: am I actually good, or just good here?
Entah lu gagal dan dipaksa improve, atau lu berhasil dan you redefine what's possible.
Jangan takut nyoba.
Sebenarnya aku wota AKB48 group dan males ngurusin postingan sekedar opini atau sejenisnya
Sumber dari majalah Nikkei Entertainment edisi 2026
=LOVE itu sebenernya banyak pengemar wanita muda di usia 10 - 30an tahun
Penggemar =LOVE tertingginya ada pada pria usia 20-an (batang biru terpanjang), ia memiliki basis penggemar wanita yang sangat kuat, tinggi, dan stabil di rentang usia 10-an, 20-an, dan 30-an (ditandai dengan titik-titik hitam pada batang merah muda). Ini menunjukkan bahwa ia adalah idola yang sangat populer di kalangan wanita muda.
Apa yang membuat kaum intelek berjarak dg rakyat jelata?
Kita ambil contoh kasus KDM. Banyak intelek yg sinis. "Halah, KDM kntl," misalnya.
Namun, rakyat jelata ternyata lbh banyak yg menyanjungnya.
Bayangkan, sosok sanjungan itu kemudian dikntl-kntlkan oleh intelek, apakah rakyat jelata jadi respek?
Saya kira, di sinilah soalnya mengapa jurang itu tercipta.
Indonesians think too small and have low standards of success.
Our CEOs digaji IDR 100 juta per bulan -- which is a dream for 99% of us -- but that's only $5,500 (gaji entry level di US).
Kita merasa hebat di negeri sendiri, tapi pas keluar luar negeri we're nobody.
Gua respect Pandji, Agnes Mo, NIKI, etc. yang berani go international padahal bisa nyaman di Indo aja.
We must change our definition of success.
Our dreams should be 100x bigger.
The only way to do this is to look beyond Indonesia, and go global.
Ini isu bank Mandiri lebih pelik daripada isu bank BNI dan Suster Natalia kemarin loh.
Mandiri pilihannya cuma dua:
1. Ngaku melanggar UU karena memblokir rekening tanpa permintaan peradilan
2. Lempar bola panas ke pihak yang nyuruh blokir rekening.
Keduanya sama-sama bikin mereka di posisi celaka 🤣
Itano Tomomi (AKB48) mengungkap kondisi gaji di masa AKB48: “Gaji tetap, awalnya 45.000 yen”
Talent Itano Tomomi muncul di program variety original ABEMA yang tayang pada 19 Agustus, berjudul “Super Nobishiro Time by Kyou, Suki ni Narimashita.” (disingkat “Spa Nobi”). Di acara tersebut, dia berbicara tentang kondisi gaji selama masa AKB48-nya.
“Jadwalnya memang super padat, tapi gajinya tetap. Awalnya 45.000 yen, lalu naik sedikit menjadi sekitar 90.000 yen. Sampai usia 18 tahun atau sekitar itu.”
“Kami pada dasarnya menerima gaji tetap. Seberapa pun banyaknya kerja, gajinya tetap segitu. Setelah mulai sukses, baru sedikit demi sedikit berubah lewat agensi…”
📎 https://t.co/qg69IcNiJ8
#板野友美 #元AKB48
sekalian gw list aja ye kids, common circles yg otomatis kebentuk pas maba :
1. Circle mantan OSN
2. Circle anak hits sekolah jakarta
3. Circle studytwt
4. Circle anak asrama
5. Circle Niche (cth : circle skena, otaku dll)
dan gw lah social butterfly yg hinggap dimana” 🤣🤣🤣
Negara darurat utang, penambahan utang Pemerintah 1,5 tahun Prabowo lebih parah dibanding 10 tahun masa SBY.
10 Tahun SBY: + Rp1.301,66 triliun
1,5 tahun Prabowo: + Rp1.733,33 triliun.
aku butuh pendapat kalian semua temen-temen.. menurut kalian jkt48 ini target audiens nya siapa? aku yang pelajar kaya ngerasa nguras dompet banget, kedua apa benefit yang kalian dapetin dari jkt48 ini? aku juga ngerasa cuma nge dapetin dopamin sementara gitu.. aku butuh pendapat pandangan kalian temen-temeeennn 😄
Unpopular opinion: aku gak setuju sama prinsip childfree.
Aku sangat menentang orang yang merekomendasikan untuk gak punya anak.
Alasanku sebenernya cuma 1: kita kekurangan manusia.
Berbeda dari kepercayaan publik yang mikir kita overpopulasi, kenyataannya banyak negara (termasuk Indonesia pelan-pelan) justru underpopulasi.
Ada angka namanya replacement rate, gampangnya angka gantiin populasi.
Konsepnya gini, biar jumlah penduduk suatu negara gak berkurang, tiap pasangan itu idealnya harus punya 2 anak.
1 buat gantiin posisi bapaknya, 1 lagi buat gantiin posisi ibunya.
Tapi angka pastinya bukan 2, melainkan 2,1.
Kenapa lebih dari 2? Karena ada anak yang gak sempet tumbuh dewasa, jadi butuh sedikit cadangan biar tetep pas.
Nah, kalau rata-rata orang di suatu negara punya anak di bawah 2,1, itu artinya tiap generasi jumlahnya bakal lebih dikit dari generasi sebelumnya.
Ini yang lagi terjadi di Korea Selatan. Rata-rata anak per perempuan di sana cuma 0,75. Jauh banget di bawah 2,1. Tiap generasi baru disana jumlahnya kurang lebih setengah dari generasi orang tuanya.
Kalau dibiarkan tanpa perubahan, dalam hanya 150 tahun ke depan orang Korea bisa terancam punah.
Coba liat, tahun 2030, 1 dari 4 orang Korea udah berumur di atas 65 tahun. Tenaga kerja usia produktif makin sedikit, sementara yang perlu dirawat dan dijamin hidupnya makin banyak.
Siapa yang bakal kerja, bayar pajak, dan ngurusin orang-orang tua itu kalau generasi mudanya terus berkurang tiap tahun?
Bisa bayangin nggak, orang Korea terancam punah hanya karena fenomena childfree yang makin marak?
Di Indonesia sendiri, 9 dari 10 kota besar (Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, dll) sebagian besar fertilitasnya udah di bawah 2,1.
Kalau tren ini terus menyebar ke kabupaten dan kota-kota kecil, lama-kelamaan Indonesia bisa bernasib sama seperti Korea.
Sekarang di Indonesia, buat nikah aja harus nunggu “punya duit segini dulu, punya rumah dulu, bisa ini dulu, bisa itu dulu…”
Ya, aku juga nggak mendukung orang yang punya anak 10 terus nganggur di rumah dan nggak mau kerja. Itu beda cerita.
Aku paham kok, semua orang pasti pengen punya anak kalau sudah mapan dan masa depan terjamin.
Sayangnya… in this economy, serba susah.
Menurutku solusi utamanya bukan sekadar nyuruh orang buat punya anak, tapi perbaikan ekonomi secara menyeluruh.
Kalau negara bisa jamin kehidupan sampai hari tua, lapangan kerja tersedia banyak, pendidikan merata sampai ke pelosok, biaya hidup terjangkau, otomatis makin banyak orang yang ngerasa mapan.
Dan makin banyak yang mapan, makin banyak juga yang mau dan berani punya anak.
Aku juga paham, ada beberapa orang yang trauma buat punya anak karena mereka sendiri jadi generasi sandwich, harus nanggung orang tua dan itu berat banget.
Mereka takut anaknya nanti ngalamin hal yang sama, atau takut gak bisa ngasih kehidupan yang lebih baik dari yang mereka rasain.
Ketakutan itu valid dan nyata.
Tapi menurutku, itu justru nunjukkin masalahnya bukan di keinginan orang buat punya anak, tapi di sistem yang bikin orang harus mikir sekeras itu sebelum berani punya keturunan.