Meksika’da Rey Mysterio kostümüyle güreş yapan 3 adamın gören Güney Koreli bir kadın, dayanamayarak adamların üzerine böyle atladı 🤣🤣🤣
Dünya Kupasının en eğlenceli ülkesi açık ara farkla Meksika! 🇲🇽
@ultraman_o38321@HCbr150r66861@Hnirankara Tapi bg, papua itu blm dijajah sama Belanda, tiap kali Belanda sampe sana, itu gak bertahan lama, mrka tidak bisa menaklukkan musuh terbesar org dr luar papua, Malaria..
Kuis tebak pertandingan EPL (15/03/2026)
Cukup tebak tim yg menang di 4 game ini:
1. CRY v LEE
2. MUN v AVL
3. NOT v FUL
4. LIV v TOT
*jika draw tulis "DRAW"
Akan dipilih 2 orang pemenang yg jawabannya tepat, hadiah masing2 Rp100rb.
Ditunggu sampai sebelum kickoff 21.00.
REPUBLIK CHARITY
(Bagi rakyat kecil).
Polanya klasik, malah spt hafalan, tp justru pola itu yg bikin banal sekaligus berbahaya.
Ketika kekeliruan aparat berhubungan dgn rakyat kecil & viral, aparat cepat berubah fungsi, bukan lagi sbg Bhabinkamtibmas & Babinsa, melainkan penyalur bantuan, setelah salah sasaran.
Rakyat kecil ditangkap, digiring, digebuk dipermalukan, & diviralkan.
Lalu publik ribut, kamera menyala, jempol netizen bergerak, setelah itu negara panik, lalu tampil sbg dermawan, bukan sbg pihak yg keliru.
Dugaan tindak pidana aparat tidak diakui lewat mekanisme keadilan, melainkan ditebus lewat bantuan sembako, modal usaha, sepeda motor, & disempurnakan dgn narasi kepedulian.
Seolah masalahnya ekonomi, bukan tindakan aparat yg "kebablasan".
Pasal penghinaan, menguap.
Penganiayaan oleh aparat, lenyap.
Fitnah & persekusi, sirna.
UU ITE seolah tak berlaku & tiba² lupa alamat, padahal sengaja diekspos via media elektronik.
Yg tersisa hanya narasi penyelamatan, bukan pertanggungjawaban.
Ini bukan potret keadilan, melainkan;
MANAJEMEN CITRA.
Terhadap rakyat kecil, negara memang piawai mengganti adegan, dari aksi kekerasan, menjadi pentas kepedulian.
Lalu, publik diajak bersyukur :
"Masih untung dibantu".
Selama pola ini terus dipuji,
retak nalar & arogansi aparat terus dibiarkan, rakyat kecil akan selalu jadi figuran dua kali ;
1. sebagai korban yg ditindas, dan;
2. sebagai alat pencitraan, ketika kamera berdatangan.
_____________
Seolah - olah aparat boleh keliru, asal bersedia berderma di depan lensa.
Pasal berlapis boleh ditepis, asal adegan empati ditayangkan.
Korban tak perlu dipulihkan martabatnya, cukup dibuat tersenyum, jabat tangan & berpelukan, dgn dihujani hadiah, sbg "tukar tambah" akuntabilitas.
Rakyat kecil tetap di posisi yg sama, bukan warga dgn hak, melainkan hanya objek belas kasih negara yg ketahuan salah bertindak & viral.
.
.
.
Pada 1983, Soeharto memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh Indonesia yang disebut Petrus.
Pada 1983 juga, Deng Xiaoping juga memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh China yang disebut Strike Hard Campaign.
Apa bedanya?
Sederhananya, Soeharto tidak berniat membasmi preman.
Soeharto malah melestarikan dan melembagakan premanisme. Ia ingin menjadi bos preman se-Indonesia, seperti Don Corleone dalam film mafia "The Godfather".
Dengan kata lain, Soeharto sendiri adalah preman. Petrus hanyalah konflik antar preman, yaitu gerombolan mafia Soeharto vs gerombolan-gerombolan kecil anarkis dan tak teratur.
Berkat Petrus, Soeharto, istri, dan anak-anaknya pun berhasil menjadi the Lord of Crime. Barangsiapa tidak mau tunduk dan setor pada hierarki mafia preman se-Indonesia yang diketuai dinasti Soeharto, ia akan dibantai di jalanan.
Berapa yang mati? Sekitar ribuan. Hmm. Cuma segitu?
Berapa yang ditangkap? Sebenarnya tidak banyak-banyak amat. Hmm.
Ternyata, yang penting para preman tidak boleh ribut dan harus patuh pada Soeharto. Boleh memalak, boleh merampok, boleh memungli selama diawasi oleh rezim Orde Baru yang sangat memprioritaskan harmoni ala Jawa. Dan tentunya, selama setoran pungli dibayar.
Karena tujuannya hanya ini doang, yang dibunuh dan ditangkap selama Petrus tidak usah terlalu banyak. Yang penting para preman menjadi takut dan patuh dengan rezim.
Sistem ini masih berlangsung hingga hari ini. Premanisme masih merajalela di Indonesia.
Ayo kita bandingkan dengan pemberantasan preman di China di bawah rezim Deng Xiaoping.
Mirip seperti di Indonesia, saat itu China sangat penuh sesak dengan kriminalitas, pencurian, pembunuhan, pemalakan, dan pemerkosaan oleh preman dan bandit di jalanan, sebagaimana dapat dilihat di film-film kungfu zaman dahulu.
Kota-kota besar China dikuasai triad, mafia, preman, bandit, dan rampok yang melimpah gila-gilaan dan saling tawuran. Mereka sangat merajalela sejak kekosongan kekuasaan daerah akibat anarki Teror Revolusi Kebudayaan.
Bagaimana Strike Hard Campaign menghadapi masalah ini?
Deng Xiaoping menurunkan tentara dan polisi untuk membantai massal preman, kriminal, mafia, triad, begal, dan gerombolan rampok yang meresahkan kota-kota di China. Markas-markas mafia dikepung tentara, diserang, dan seluruh isinya dibantai.
Puluhan ribu preman dan rampok diciduk aparat bersenjata dari gang dan kos-kos kumuh China, diseret ke jalan, dan ditembak mati bergelimpangan di tempat. Eksekusinya tidak sok misterius, melainkan diumumkan, terbuka, terang-terangan, dan ditonton penduduk setempat.
Petrus tidak pernah diumumkan. Tiba-tiba saja mayat sudah bergelimpangan di jalanan, entah siapa mereka. Strike Hard Policy diumumkan, dikaji, dan dievaluasi.
Itu saja? Ternyata tidak. Pembeda terbesar Strike Hard Campaign dengan Petrus bukan di jumlah kematian, melainkan jumlah penangkapan.
Ternyata, 1.7 juta orang preman dan bandit berhasil diburu dan ditangkap aparat China pada 3 tahun pertama operasi.
Inilah perbedaan terbesar antara Strike Hard Campaign dan Petrus: penangkapan.
Kalau anti-premanisme Indonesia disetarakan dengan China dalam rasio populasi, seharusnya Indonesia saat itu minimum menangkap 200.000 orang preman dan bandit.
Sayangnya, Soeharto bukan menangkap, melainkan hanya meneror dan melembagakan.
Kalau preman bisa dikaryakan untuk mencari setoran pungli, kenapa harus ditangkap? Kalau ormas bandit bisa disewa untuk memukuli aktivis dan melindungi aset-aset keluarga Cendana, kenapa harus ditangkap?
Meanwhile, rezim Deng Xiaoping mendata, menangkap, dan menumpas sekitar 200.000 kelompok ormas rampok dan gerombolan kriminal yang berbeda dari kota-kota. Padahal jika ditotal, jumlah anggota mereka mencapai jutaan. Tapi tetap ditumpas.
Tidak seperti Soeharto, Deng Xiaoping tidak ingin menjadi the Lord of Crime di China. Yang ia inginkan adalah menumpas, memusnahkan, membersihkan total. Ia tidak mau hanya membunuh segelintir kecil, tetapi harus langsung membasmi seluruh jutaan populasi preman dan bandit di seluruh China sampai kosong.
Petrus selesai begitu saja tahun 1985 dengan tidak jelas. Preman di Indonesia tetap merampok dengan buas, tetapi kali ini dengan teratur dan dengan setoran pungli.
Preman-preman yang sudah dijinakkan ini bahkan direkrut dan menjadi bagian inti dari rezim di Indonesia, seperti dalam Peristiwa Kudatuli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998. Pada Mei 1998, Asia Week mengabarkan bahwa beberapa jenderal membawa ratusan preman dengan pesawat dan kereta dari Timor Timur dan ke Jakarta. Indonesia masih menjadi Negara Preman sampai hari ini.
Meanwhile, Strike Hard Campaign ternyata tidak selesai tahun 1985, tetapi terus berlanjut secara rutin selama 20 tahun kemudian sampai premanisme liar di jalanan China benar-benar habis dan kosong.
Hari ini kota-kota besar China teratur, sangat aman, dan relatif bersih dari binatang ormas dan preman jalanan liar yang useless dan tak terkontrol seperti tumbuhan hama Indonesia.
Di Indonesia, sejak kejatuhan keluarga Cendana dan fragmentasi struktur premanisme nasional, banyak binatang ormas preman itu yang berpindah majikan ke dinasti politik daerah dan berbagai institusi. Di China, potensi ini tidak ada karena pentolan-pentolan semacam ini sudah dibasmi selama program antikorupsi yang dimulai sejak 2011.
Dalam program antikorupsi itu, 4 juta orang pejabat ditangkap. Lebih banyak pejabat yang ditangkap daripada preman. Pentolan-pentolan pejabat yang paling korup dan bodoh dihukum mati dan ditembak di kepala. Benefit program anti korupsi ini banyak, salah satunya adalah bahwa preman yang tersisa takkan punya calon majikan korup untuk melindungi.
Tidak heran reformasi industrialisasi pabrik China sangat berhasil dan sangat maju. Ketika kita bikin pabrik di Shenzen, kita takkan didatangi 40 kelompok preman buas rampok yang berbeda. Cukup hubungi 12345, maka para binatang preman belagu dan berliur akan segera dicari dan ditumpas habis.
Hari ini pertumbuhan industri dan pabrik di China sangat maju.
---
Deng Xiaoping membasmi preman. Soeharto adalah preman.
@creepylogy_ Kan emg gabisa diskusi, kalo ga suka ya tinggal pukul atau tangkep lalu peras hartanya
Kataku sih jadi polisi tesnya beneran harus ketat sih termasuk secara akademik, jadi yg masuk ya beneran terdidik, bukan anak2 bully bego yg mengorbankan sawah di desa