Barangkali seseorang terlihat bersalah bukan karena ia benar-benar bersalah, melainkan karena kita hanya mengenalnya melalui cerita yang menempatkannya sebagai tokoh antagonis.
—arsualas
Laut menerima begitu banyak sungai. Tak satu pun ditolaknya hanya karena datang dari arah yang berbeda. Sementara kita, terlalu sering bertanya siapa yang berbicara, sebelum mendengarkan apa yang dikatakannya.
—arsualas
@dsuperboy Karena terlalu lama hidup di ruang yang sama, mereka mengira seluruh dunia memang seperti itu. Padahal dunia jauh lebih luas daripada yang bisa dilihat dari jendela kamar mereka.
Senator itu rajin sekali.
Pagi meresmikan bangunan,
siang meninjau proyek,
malam berfoto dengan baliho.
Begitu rajinnya
sampai lupa bahwa rakyat
bukan fondasi yang boleh ditanam
lalu ditinggalkan di dalam lumpur.
—arsualas
Ada beberapa kekecewaan yang memang nggak perlu dikoar-koarin. Cukup disimpan, diingat, terus dijadiin pelajaran biar nggak bego buat kedua kalinya.
—arsualas
Ada yang bilang
pembangunan sedang maju pesat.
Tetapi aku bilang:
negeri yang terlalu mencintai semen
sering kali akan mengubur
anak-anaknya sendiri.
—arsualas
Rumus kerja paling mewah zaman sekarang: tidak menjilat yang di atas, tidak menginjak yang di bawah, tidak menyikut yang di kiri dan kanan. Datang, absen, kerja, lalu pulang.
—arsualas
Menyaksikan seseorang sibuk mengukur langitnya lalu memandang rendah sekeliling adalah sebuah pertunjukan ego yang menjemukan. Emas tidak membutuhkan lumpur menjadi lebih kotor hanya untuk membuktikan dirinya berkilau.
—arsualas.
Sekarang banyak orang memilih diam, bukan karena tidak butuh ditemani, tapi karena terlalu sering merasa tidak enak kalau harus merepotkan orang lain.
—arsualas
Ada namamu
di banyak hal kecil,
sampai hal sesederhana lagu
pun terasa seperti cara
untuk kembali kepadamu.
Kalau akhirnya aku larut,
biarlah itu terjadi
di matamu.
—arsualas
Dua puluh delapan tahun lalu,
Grogol bersimbah merah;
peluru menembus dada.
Dua puluh delapan tahun hanya angka,
tapi amis darahnya masih terasa.
Hitam sejarahnya, kekal ingatannya—
Istirahatlah dalam damai, para martir.
—arsualas | Requiem 12 Mei
Ada orang yang belajar kuat dari buku pengembangan diri, ada pula yang belajar dari fiksi remaja yang sering disepelekan. Dan tak ada yang salah dengan itu semua. Dunia ini sudah cukup melelahkan untuk ditambah dengan perdebatan tentang mana bacaan yang lebih mulia. Bacalah apa yang ingin kau baca, bukan apa yang ingin orang lain lihat kau baca.
—arsualas
Tidak ada perak
di ujung awan gelap.
Hanya lebih banyak gelap
menunggu di depan.
Mereka akan terus mencuri,
membunuh, menerkam.
Selama ada orang
yang cukup pasrah
untuk membiarkan.
—arsualas | Akhir Pelangi