@xpeacessea Umur 21 kayaknya, masa2 ngejain skripsi. Waktu aku bener2 pengen cepet lulus. Aku cuma punya 1 kesibukan, yaitu ngerjain skripsi. Gk ada waktu buat liatin story. Trus lama2 gak mau tau sama story temen2. Dan ternyata itu bikin hidup tenang. Dan keterusan sampai sekarang
Tolong saranin toko yang jual sepatu wedges/heels ukuran 35 dong atau yang punya ukuran panjang telapak 22 cm. Kaki kecil ini susah banget nyari sepatu
Guru madrasah swasta berdemonstrasi agar diangkat menjadi ASN PPPK, kemudian dicemooh karena yang menggaji guru swasta adalah yayasan, bukan kewajiban negara. Tapi negara bisa mengangkat pegawai SPPG dibawah naungan Yayasan swasta menjadi ASN PPPK.
Persoalannya, anggaran yang digunakan untuk mengangkat pegawai SPPG dibawah Yayasan/ Swasta menjadi PPPK adalah anggaran pendidikan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengangkat guru madrasah swasta menjadi ASN PPPK.
Guys baru aja nihh
Karni presiden ILC sebuah stasiun tv
memberi kesaksian atas 7 presiden
Dia cerita satu hal besar:
Jurnalis itu bukan sekadar meliput presiden
tapi ikut membentuk sejarah politik.
Dan dia mengaku sudah hidup bareng
dengan 7 presiden R
1. Suharto
Sifat: otoriter dalam kebebasan pers
Media di zaman ini sangat dikontrol
Ada daftar berita โboleh / tidak boleh diberitakanโ
Contoh ekstrem: tragedi mahasiswa ITB tenggelam tidak boleh diberitakan karena alasan โnama eventโ
Semua media takut melawan
Kesimpulan Karni:
Orde Baru itu bikin jurnalis โhidup dalam sensorโ
Bukan cuma sensor negara, tapi juga budaya takut yang bikin media diam sebelum disuruh diam
2. B. J. Habibie
Sifat: paling paham kebebasan pers
Setelah Orde Baru tumbang โ media langsung bebas total
Habibie tidak banyak intervensi isi berita
Bahkan foto yang jelek pun dianggap biasa
Karni bilang:
Habibie itu simbol keterbukaan pers di Indonesia
Makna besar:
Era transisi dari โdibungkamโ โ โkebebasan liarโ
3. Abdurrahman Wahid
Sifat: demokratis tapi emosional
Gus Dur dekat dengan pers saat jadi aktivis
Tapi saat jadi presiden, mulai sensitif terhadap kritik
Pernah tersinggung isi majalah โ hubungan jadi panas
Karni menilai:
Gus Dur itu baik secara personal, tapi kekuasaan membuat relasinya dengan media berubah
Realita:
Presiden yang paling manusiawi
tapi juga paling โreaktifโ terhadap kritik.
4. Megawati Soekarnoputri
Sifat: komunikasi terbatas dengan media
Hubungan dengan media campur aduk
Pernah terjadi konflik karena pemotongan wawancara
Setelah itu hubungan jadi lebih dingin
Catatan Karni:
Media bisa dekat secara fasilitas (misalnya ikut kunjungan luar negeri)
Tapi secara hubungan personal tetap berjarak
Media bisa diundang dekat
tapi belum tentu dianggap dekat
5. Susilo Bambang Yudhoyono
Sifat: sangat komunikatif & media-friendly
SBY sangat menghargai media
Bahkan awal masa politiknya sangat terbuka ke TV
Interaksi dengan Karni cukup dekat
Ada momen live wawancara yang sangat cepat dan dramatis
Karni respek:
SBY adalah salah satu presiden paling nyaman dengan media
Makna:
Era media mulai jadi bagian strategi politik, bukan sekadar peliput.
6. Joko Widodo
Sifat: awalnya berjarak, lalu berubah
Awalnya tidak terlalu dekat dengan media tertentu
Ada ketegangan dengan sebagian pemilik media
Tapi setelah menjabat โ hubungan lebih stabil
Jokowi tetap hati-hati dalam framing media
Karni melihat:
Jokowi itu adaptif
tapi tetap menjaga jarak kontrol informasi
Realita:
Era ini media bukan lagi raja informasi
tapi salah satu pemain saja.
7. Prabowo Subianto
Sifat: masih dalam proses โjanji vs realitaโ
Bagian ini dia bilang:
Karni bilang ada janji wawancara khusus
yang belum terpenuhi
Ada gangguan agenda dari lingkar kekuasaan
Bahkan disebut ada pihak yang mengatur agar wawancara tidak berjalan mulus
Intinya:
Hubungan mediaโkekuasaan di era Prabowo
masih dalam tahap tarik-menarik
Karni menyiratkan bahwa:
kekuasaan selalu punya gatekeeper
bahkan di era demokrasi
kontrol narasi masih kuat
Fakta menarik:
1 episode bisa menghasilkan 2โ3 miliar rupiah untuk TV
Jadi fenomena besar di era TV politik
Ini bagian paling tajam:
Masalah jurnalis sekarang adalah kehilangan integritas
Artinya:
Berita dipengaruhi bisnis
Dipengaruhi politik
Tidak lagi netral
Dampaknya:
Publik kehilangan kepercayaan โ media bisa mati secara perlahan
@oxfara Sebagai guru, saya juga setuju. Kalau grup walimurid dipakai untuk kasih kabar jam pulang (misal pulang lebih awal) untuk urusan jemput anak itu masih oke. Tapi kalau untuk kasih info mengenai tugas emang bikin anak gak mandiri
@tanyakanrl Pernah mikir gini, tapi ternyata gak juga. Sedihnya tetap terasa. Hanya pelampiasan sementara. Aku pernah tiba-tiba nangis waktu lagi ngetik, pernah juga tiba-tiba nangis waktu lagi shopping, padahal sudah diusahakan untuk menyibukkan diri