Nesta Kenang Kepindahan ke Milan: Awalnya Traumatis, Bahagia berkat Gattuso dan Pirlo
Legenda tim nasional Italia, Alessandro Nesta, mengenang kembali momen kepindahannya yang penuh emosi ke AC Milan. Nesta mengakui bahwa meninggalkan Lazio menuju Milan adalah pengalaman yang awalnya menyakitkan, meski akhirnya menjadi keputusan terbaik dalam kariernya.
Berbicara dalam program Legends Road di DAZN, mantan bek tangguh yang kini berprofesi sebagai pelatih itu mengungkapkan betapa sulitnya proses adaptasi di awal kedatangannya ke San Siro.
"Kepindahan ke Milan itu traumatis. Kemudian itu menjadi keberuntungan dalam hidup saya, karena Milan membawa saya ke level yang lebih tinggi, tetapi awalnya saya merasa buruk," ujar Nesta dikutip dari https://t.co/2xjhYcuqvM, Minggu (4/1/2026).
Nesta menjelaskan bahwa keterikatan emosionalnya dengan kota Roma membuatnya berat hati untuk pergi. Namun, suasana ruang ganti Rossoneri yang hangat, terutama berkat kehadiran rekan-rekan setim yang spesial, membantunya bangkit dan menikmati sepak bola kembali.
"Saya tidak bisa melepaskan diri dari Roma. Untungnya, saya memiliki rekan setim yang istimewa. Saya bersenang-senang setiap hari saat pergi ke lapangan," kenang Nesta.
Ia secara khusus menyebut nama Gennaro "Rinone" Gattuso dan Andrea Pirlo, serta para pemain Brasil, sebagai sosok yang membuat hari-harinya di Milan penuh tawa.
"Entah karena ada Gattuso yang membuat Anda tertawa, atau Pirlo, atau para pemain Brasil... Saya menikmati setiap hari saya di sana," tambahnya.
Komentar tentang Allegri dan Fabregas
Dalam kesempatan yang sama, Nesta juga memberikan pandangannya mengenai pelatih AC Milan saat ini, Massimiliano Allegri, dan pelatih Como, Cesc Fabregas. Menurut Nesta, dalam sepak bola, kemenangan adalah tolok ukur utama.
"Ada banyak jenis sepak bola dan siapa yang menang itulah yang benar, terlepas dari suka atau tidak suka. Pelatih (Allegri) telah memenangkan banyak gelar," tutur Nesta.
Ia juga menceritakan anekdot menarik saat berdiskusi dengan Fabregas usai hasil imbang 1-1 melawan Monza musim lalu. Saat itu, Fabregas mengomentari gaya main tim Italia yang menerapkan penjagaan man-to-man.
"Dia (Fabregas) datang kepada saya dan berkata: 'Oh, tapi di Italia kalian main man-to-man'. Saya jawab: 'Bertahun-tahun lalu kalian bilang kami main catenaccio dan itu tidak bagus, sekarang (main terbuka) juga tidak bagus. Beri tahu kami apa yang harus dilakukan, kirim faks biar kami tahu'," gurau Nesta menutup pembicaraan.
To all bapak-bapak 30++,
Jangan tinggalkan tidur 8 jam, makan tinggi protein, berjemur setiap hari, zinc dan magnesium, minum air putih, angkat beban, vitamin D3, dan omega 3. Trust me, you won't regret it 🩶
Ada keterlibatan Menteri Zulkifli Hasan dalam proyek tambang emas yang merusak lingkungan di Tumpang Pitu, Banyuwangi, dengan mengubah 9.000 hektar hutan lindung menjadi hutan produksi.
Simak selengkapnya dalam film "ANGIN TIMUR" di YouTube Indonesia Baru