prabowo sama antek anteknya tuh kerja gasi sebenernya kontol masa ekonomi sekarang susah banget lebih susah dari jaman pandemi covid? duit 100k berasa cuma 10k gila semuanya mahal
Ternyata penting banget “pintar ngomong” dan paham secara nyata kondisi negara sendiri,
buat seorang kepala negara.
Supaya jawabannya tidak normatif saja saat ada dialog kerjasama seperti ini. 👇
Udah Pak...
Balik lagi ke laptop aja...
Bersyukur udh bebas dr beban lahir batin
Sehat2 Pak...
Smoga smua aman2 Pak.. Amin 🙏🏻
(Ada yg beranggapan mungkin ini yg menyebabkan blio diresuffle?)
Dirut kompas TV: Rosianna Silalahi Anda hebat, Bu
ceo tribun :Ahmad dahni anda hebat pak
Di saat media lain bungkam dan tidak ada berani siarkan live aksi massa hari ini.
ada juga di situasi ini malah share pernikahan artis
yang mau dukung mereka bisa mampir ke channel mereka bantu support live, share , dan subs guys
diantara ratusan media di indonesia
salut sama 2 media ini masih bisa independent
Timothy dulu pernah ngeledek Pak Lo Kheng Hong (LKH) dengan sebutan "udah umur segitu cuma 2T".
Rasanya kayak gak sopan sama orang tua yahh.
LKH bilang dia takut beli crypto karena nggak tau asetnya apa. Ini adalah prinsip dasar ekonomi klasik.
Di pasar saham konvensional, kalau kamu beli saham batu bara, ada wujud fisiknya, ada pabriknya, ada karyawannya, dan ada produk yang dijual untuk menggerakkan ekonomi dunia.
Di crypto (terutama alt-coin yang sering digoreng influencer), instrumen ini berjalan pakai teori investasi yang namanya The Greater Fool Theory.
Artinya, kamu beli koin bukan karena koin itu menghasilkan laba perusahaan, tapi dengan harapan ada "orang lain yang lebih bodoh" yang mau beli koin kamu dengan harga lebih mahal di masa depan. Kalau nggak ada yang mau beli? Yahh yaudah wkwk
Menurut kalian gimana? Lebih suka saham atau crypto.
Kalo ane sih yahh jelas saham dong 😁 apalagi edukator nya banyak disini, model @LambeSahamjja
Guys, Rocky Gerung baru ngomong sesuatu yang menurut gua adalah diagnosis paling tajam dan paling jujur tentang kondisi kabinet Prabowo sekarang.
Dan dia membukanya dengan satu kutipan dari Muhammad Hatta yang langsung menghantam.
Menteri itu bukan sekedar pembantu presiden.
Dia harus punya ide otentik sendiri. Justru karena dia mampu memproduksi ide sendiri maka dia bisa berdiskusi dengan presiden bukan hanya mengangguk.
Tapi yang terjadi sekarang menurut Rocky adalah kebalikannya persis.
Dia bilang rekrutmen kabinet Prabowo adalah transaksi transaksi kekuasaan transaksi bisnis transaksi kepentingan politik.
Bukan transaksi pikiran.
Dan hasilnya adalah kabinet 109 orang yang mayoritas tidak berani membantah presiden bukan karena tidak tahu tapi karena memang tidak dipilih untuk berpendapat.
Rocky menyebut ini dengan istilah feudalisme di dalam kabinet.
Dan dia bilang bahkan menjijikkan melihat bahasa tubuh para menteri di istana yang dia sebut dengan istilah docilitas bahasa tubuh budak yang tunduk bukan mitra yang setara.
Rocky bilang Prabowo sekarang tidak lagi memimpin. Dia sedang dealing.
Deal dengan kepentingan partai-partai koalisi yang dari awal sudah saling mengintip untuk dapat bagian paling besar dari kekuasaan.
Dan partai-partai itu menurut Rocky tidak akan pernah menegur presiden karena menegur presiden berarti membunuh diri sendiri mereka akan kehilangan jatah.
Yang lebih mengkhawatirkan Rocky bilang partai-partai di dalam koalisi sekarang justru sedang mengintip apa yang masih bisa mereka colong di tengah krisis ini.
Bukan membantu menyelesaikan krisis tapi memanfaatkan krisis untuk kepentingan sendiri.
Rocky mengambil momen yang sangat menarik. Ketika Prabowo berpidato di depan publik dan bertanya langsung apakah MBG masih diperlukan atau tidak jawabannya adalah tidak dari hadirin.
waktu 1 mei hari buruh nasional
Rocky bilang itu adalah momentum emas yang seharusnya digunakan Prabowo untuk memanggil para menterinya dan berkata
kenapa kalian bohong ke saya?
Kalian bilang rakyat mendukung ternyata tidak.
Tapi momentum itu tidak diambil.
Dan Rocky memberikan angka yang sangat telak. Jumlah orang miskin Indonesia sekitar 20 juta.
MBG melayani 60 juta orang.
Artinya ada 40 juta orang yang bukan miskin tapi tetap dapat MBG.
Data yang dipakai salah dari awal.
Dan yang salah menurut Rocky bukan presiden yang salah adalah menteri-menteri yang membawa data itu kepada presiden dan presiden mempercayainya.
Rocky sangat tegas.
DPR yang pertama seharusnya menegur.
Tapi DPR penuh dengan partai koalisi yang tidak akan menegur karena takut kehilangan jatah.
Masyarakat sipil yang kedua.
Tapi suara masyarakat sipil semakin dibatasi ruang geraknya.
Dan kabinet sendiri tidak akan menegur karena mereka dipilih bukan untuk berpendapat tapi untuk menjalankan perintah.
Akibatnya presiden tidak punya teman yang bisa diajak diskusi secara transparan dan setara.
Presiden diasuh oleh tim public relation yang hanya mempromosikan presiden bukan oleh public opinion yang memberikan umpan balik nyata dari rakyat.
Dan Rocky menutup dengan kalimat yang menurut gua adalah yang paling puitis sekaligus paling menusuk.
Dia mengutip dalam bahasa Inggris tentang tulang rusuk perempuan diciptakan bukan dari kepala agar tidak di atas lelaki bukan dari kaki agar tidak diinjak tapi dari tulang rusuk di samping untuk setara dan dekat dengan hati.
Lalu dia balik bertanya kalau leader tidak punya tulang rusuk gimana?
Kalau leader tidak punya tulang rusuk artinya dia benda mati.
Presiden yang tidak punya menteri yang berani membantah tidak punya oposisi yang cukup kuat tidak punya civil society yang masih bisa bersuara bebas adalah presiden yang tidak punya tulang rusuk.
Yang bergerak sendiri tanpa ada yang menyeimbangkan.
Dan menurut Rocky itulah yang sedang kita saksikan sekarang.
Guys, rupiah sekarang di level Rp17.300-an per dolar. Dan banyak pejabat yang bilang "itu masih aman, masih terkendali.
Tapi gue mau ajak kalian mundur ke satu momen dalam sejarah Indonesia yang menurut gue paling relevan dengan kondisi sekarang.
Rupiah tembus Rp16.800 per dolar.
Dari sebelumnya Rp2.400.
Naik tujuh kali lipat dalam hitungan bulan.
Soeharto jatuh.
Ekonomi runtuh.
Rakyat panik.
Dan yang naik menggantikan adalah orang yang tidak ada yang percaya bisa menyelamatkan situasi itu.
BJ Habibie.
Teknokrat pembuat pesawat.
Bukan ekonom.
Lee Kuan Yew pemimpin Singapura yang terkenal skeptis bahkan bilang naiknya Habibie justru akan membuat rupiah makin tidak berdaya.
Hasilnya?
Dalam kurang dari dua tahun rupiah menguat dari Rp16.800 menjadi Rp6.550 per dolar.
Hampir tiga kali lipat menguat.
Bukan karena keberuntungan.
Bukan karena SDA tiba-tiba melimpah lebih banyak.
Tapi karena tiga keputusan konkret yang berani.
Cara pertama: Restrukturisasi perbankan.
Masalah terbesar krisis 1998 bukan hanya rupiah melemah.
Tapi kepercayaan terhadap sistem perbankan hancur. Nasabah menarik uang besar-besaran.
Bank-bank bertumbangan.
Sekarang malah era prabowo himbara
dipreteli agar bisa memberikan pinjaman
ke program presiden
Habibie tidak berdebat soal ini.
Dia bertindak.
Empat bank pemerintah digabung menjadi satu:
Bank Mandiri.
Konsolidasi yang membuat sistem perbankan lebih kuat dan tidak terfragmentasi.
Dan yang paling berani:
dia memisahkan Bank Indonesia dari pemerintah melalui UU No. 23 Tahun 1999.
BI harus independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik.
Itu bukan kalimat yang mudah diucapkan oleh presiden yang baru naik.
Karena artinya dia melepaskan satu instrumen kekuasaan yang selama Orde Baru digunakan sebagai alat politik.
Tapi dia lakukan.
Dan itu yang membuat kepercayaan pasar mulai kembali.
Cara kedua: Kebijakan moneter ketat.
Habibie menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia dengan bunga tinggi dengan satu tujuan: membuat masyarakat mau kembali menabung di bank.
Kalau masyarakat percaya bank uang kembali mengalir ke sistem peredaran uang di luar terkontrol inflasi turun rupiah menguat.
Hasilnya: suku bunga yang sempat meledak di angka 60% turun menjadi belasan persen. Kepercayaan terhadap perbankan kembali pulih.
Cara ketiga: Harga bahan pokok dipertahankan.
Di tengah semua guncangan itu Habibie mempertahankan subsidi listrik dan BBM.
Harga kebutuhan pokok dijaga agar tidak meledak.
Ini keputusan yang tidak populer di mata IMF waktu itu. Tapi Habibie berpegang pada satu prinsip:
kalau rakyat tidak bisa beli bahan pokok, tidak ada stabilitas apapun yang bisa dipertahankan.
Sekarang bandingkan dengan kondisi sekarang:
Rupiah di Rp17.300 per dolar.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Setiap kali rupiah menyentuh level baru Rp17.000, Rp17.100, Rp17.200, Rp17.300 pernyataan resmi yang keluar selalu sama: "masih aman, masih terkendali."
Tapi aman menurut siapa?
Terkendali sampai berapa?
Dan yang lebih penting apa tindakan konkretnya?
Pelajaran dari Habibie yang paling perlu digarisbawahi:
Habibie tidak takut membuat BI independen meskipun itu berarti melepaskan kontrol.
Habibie tidak takut restrukturisasi perbankan yang menyakitkan meskipun itu berarti mengorbankan kepentingan jangka pendek.
Habibie tidak takut kebijakan moneter ketat meskipun itu berarti suku bunga tinggi yang menyakitkan pelaku bisnis dalam jangka pendek.
Dan Habibie tidak takut bermitra dengan pihak asing IMF, investor internasional karena dia tahu: tanpa kepercayaan asing, modal tidak akan masuk, dan rupiah tidak akan pulih.
Dan ini yang gue mau sampaikan dengan jelas:
Ada narasi yang beredar bahwa "berdaulat" berarti tidak butuh asing.
Bahwa bergantung pada investasi asing adalah kelemahan.
Itu narasi yang menyesatkan.
Habibie yang lebih nasionalis dari siapapun,
yang membangun pesawat Indonesia dengan tangannya sendiri tidak sungkan membuka diri kepada asing ketika itu dibutuhkan untuk menyelamatkan ekonomi rakyatnya.
Karena dia paham:
kedaulatan yang sejati bukan berarti isolasi. Kedaulatan adalah kemampuan untuk bermitra dengan siapapun tanpa kehilangan kepentingan rakyat sebagai kompas utama.
Habibie dulu memisahkan BI dari pemerintah. Persis karena dia tahu kalau bank ikut agenda politik, kepercayaan pasar hancur.
Sekarang?
Bank-bank Himbara BRI, BNI, BTN, Mandiri — didorong untuk ikut mendanai program-program pemerintah.
Kopdes Merah Putih. MBG.
Berbagai program yang belum jelas skema akuntabilitasnya.
Bank itu lembaga keuangan yang harus dikelola berdasarkan prinsip kehati-hatian.
Bukan alat eksekusi program politik.
Kalau bank dipaksa ikut program yang risikonya tidak jelas yang menanggung risikonya siapa?
Nasabah.
Rakyat yang naruh tabungan di sana.
Habibie tahu ini.
Makanya dia pisahkan.
Pemerintahan sekarang melakukan sebaliknya.
Ironi lainnya Bank Indonesia diisi oleh keponakan Presiden sendiri.
Ini yang paling langsung bertentangan dengan warisan Habibie.
Habibie buat UU No. 23 Tahun 1999 yang menjamin BI independen dari pemerintah. Bebas dari intervensi politik.
Karena dia tahu begitu BI diintervensi, kepercayaan investor hilang, rupiah tidak bisa distabilkan.
Dan sekarang posisi penting di Bank Indonesia diisi oleh keponakan Presiden Prabowo.
Tanpa pengalaman yang relevan di bidang moneter atau perbankan sentral.
Ini bukan soal siapa orangnya secara personal.
Ini soal sinyal yang dikirim ke pasar.
Ketika investor global melihat bank sentral diisi oleh keluarga presiden mereka tidak melihat independensi.
Mereka melihat risiko.
Dan mereka memindahkan modalnya ke tempat yang lebih aman.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Rupiah di Rp17.300. Sebagian dari itu adalah respons pasar terhadap sinyal-sinyal seperti ini.
Habibie melepaskan kontrol atas BI untuk menyelamatkan ekonomi.
Prabowo memasukkan kontrol keluarga ke BI dan berharap ekonomi tetap baik.
Dua arah yang berlawanan.
Dua hasil yang bisa diprediksi berbeda.
yang paling gila
Narasi "antek asing" yang membuat modal tidak masuk.
Habibie yang lebih nasionalis dari siapapun, yang bangun pesawat Indonesia, yang didiskriminasi di Jerman tapi tetap pulang untuk bangun negara tidak pernah takut bermitra dengan asing ketika ekonomi membutuhkannya.
Sekarang ada narasi yang beredar dan dipelihara oleh sebagian lingkaran kekuasaan bahwa siapapun yang mendukung keterbukaan terhadap investasi asing adalah "antek asing."
Hasilnya: investor asing ragu masuk.
Bukan karena Indonesia tidak menarik.
Tapi karena iklim politiknya tidak memberikan kepastian.
FDI Foreign Direct Investment adalah salah satu mesin pertumbuhan paling efisien untuk negara berkembang. Membawa modal, teknologi, lapangan kerja.
Tapi kalau setiap investor asing yang masuk dipandang dengan kecurigaan dan setiap pejabat yang mendukung keterbukaan disebut tidak nasionalis siapa yang mau masuk?
Dan tanpa modal masuk rupiah tidak punya cukup dukungan. Devisa tidak tumbuh. Defisit transaksi berjalan melebar. Tekanan pada rupiah terus ada.
Nasionalisme yang sejati bukan menutup pintu dari asing. Tapi memastikan asing yang masuk memberikan nilai terbaik bagi rakyat dengan syarat yang jelas, transparan, dan menguntungkan Indonesia.
Habibie tahu itu.
Dan itu yang dia praktikkan.
Satu kalimat yang merangkum semuanya:
Habibie melepaskan kontrol atas BI supaya pasar percaya.
Habibie bermitra dengan asing supaya modal masuk dan rupiah pulih.
Habibie restrukturisasi bank supaya sistem keuangan kuat.
Prabowo memasukkan keluarga ke BI.
Mendorong bank ikut program pemerintah.
Dan memelihara narasi anti-asing yang membuat investor ragu.
Tiga langkah yang persis berlawanan arah dengan yang terbukti berhasil.
Dan rupiah yang sekarang di Rp17.300 dengan pejabat yang terus bilang "masih aman" adalah hasilnya.
Dan setiap kali ada pertanyaan konkret tentang kondisi fiskal dan moneter jawabannya: "masih aman."
Habibie tidak pernah bilang "masih aman" ketika situasinya tidak aman.
Dia bilang ada masalah dan ini yang akan dia lakukan untuk mengatasinya.
Perbedaan antara pemimpin yang mengelola kepanikan dan pemimpin yang mengelola narasi itu yang paling terasa sekarang.
Tidak perlu belajar ke Prancis, Rusia, atau Inggris. Buku sejarahnya ada di sini.
Aktornya orang Indonesia.
Hasilnya terbukti.
Yang dibutuhkan bukan ilmu baru.
Yang dibutuhkan adalah copas apa yang dilakukan
habibie dahulu lalu inovasikan
tinggal mau atau tidak nya
dari situ kita bisa menilai
arah kepentingan presiden sekarang
Anggota komisi III DPR-RI Beny K menyoroti Banyak kepala desa jadi korban perilaku jaksa nakal. Mereka semau jidat langsung menetapkan tersangka dlm suatu kasus kemudian dapet buktinya belakangan.
Nih si ibu Kajari Karo yg dari raut mukanya ky ngga bersalah menetapkan Amsal Sitepu atas dugaan korupsi.
Bukan pejabat kok korupsi..