Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
ini pidatonya bagus banget serius. mimin coba bantu rangkumin isi pidato yang 11 menit yg isinya daging semua ini
>Anies buka pidatonya dengan nostalgia kecil. Dia cerita UGM jadi tempat emosional buat dia karena area GSP dulu lapangan bola tempat dia main waktu kecil. buat dia hadir di wisuda UGM bukan cuma acara formalitas aja tapi semacam pulang ke tempat yg punya banyak memori.
>Lanjut dia, wisuda memang jadi hari yg luar biasa untuk banyak org, tapi besoknya semua bakal balik ke realita. menurut dia ujian hidup yg sebenarnya bukan terjadi di momen spesial kayak wisuda tapi justru di hari-hari normal yg dijalanin terus-menerus.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Berduka mendalam mendengar kabar kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Menurut informasi terakhir, peristiwa ini telah merenggut 14 nyawa dan melukai puluhan korban lainnya. Sesak rasanya mendengar keterangan Basarnas bahwa seluruh korban yang dievakuasi adalah perempuan, terlebih saat membaca kesaksian dari mereka yang mengenal para korban.
Semoga para korban yang gugur diterima di sisi terbaik Allah SWT, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, serta para korban luka segera dipulihkan kesehatannya.
Dalam situasi seperti ini, prioritas pertama tentu evakuasi, penyelamatan, serta penanganan para korban. Mari kita berikan apresiasi dan dukungan kepada para petugas yang bekerja di lokasi kejadian, mulai dari tim SAR gabungan, kepolisian, petugas KAI, aparat Pemda setempat, hingga tenaga kesehatan di rumah sakit yang menangani para korban. Semoga mereka semua diberi kekuatan untuk bekerja lugas dan tuntas, sehingga beban para korban beserta keluarga bisa terus berkurang.
Prioritas berikutnya, operasional stasiun dan lintasan perlu segera berangsur normal agar warga lain yang harus menjalani aktivitas hariannya tidak ikut terganggu. Apresiasi dan dukungan kembali kita sampaikan kepada semua pihak yang bekerja keras memulihkan layanan publik, baik jajaran KAI, aparat Pemkot Bekasi dan pemerintah pusat yang turun menangani.
Juga Pemda sekitar dan pihak-pihak lain yang ikut membantu, seperti TransJakarta yang telah menyediakan shuttle tambahan sebagai pengganti layanan kereta yang terhambat pun patut mendapat apresiasi yang sama.
Terakhir, mungkin yang terpenting, semoga peristiwa ini bisa diinvestigasi dan dievaluasi secara menyeluruh. Bukan untuk mencari siapa yang paling salah, karena tidak ada satu pun pihak yang menghendaki kecelakaan ini terjadi. Evaluasi menyeluruh diperlukan agar peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari, baik di Bekasi maupun di daerah lain.
Banyak hal yang masih bisa diperbaiki, mulai dari praktik internal armada taksi, pengelolaan perlintasan tidak resmi oleh Pemda, hingga sistem peringatan dini yang lebih efektif bagi kereta terhadap gangguan pada lintasan. Kita bisa belajar dari industri penerbangan dunia yang konsisten melakukan evaluasi menyeluruh terhadap setiap kecelakaan, lalu menjadikan hasilnya sebagai bahan perbaikan standar yang berlaku global.
Kecelakaan ini terlalu mahal harganya untuk tidak menjadi pelajaran bagi perbaikan ke depan.
Mari sama-sama mendoakan para korban beserta keluarganya, sekaligus memberi dukungan kepada para aparat yang sedang menuntaskan penanganan. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya.
Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan.
Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka.
Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
Ikut urun rembug soal IGRS boleh ya… Dulu pernah terlibat langsung dalam rapat-rapat inisiasi awal bersama Menkominfo saat kami bertugas di Kemdikbud.
Ada dua pendekatan melindungi anak di konten digital. Pertama, membuat lingkungan “steril” lewat sensor dan pemblokiran. Kedua, membangun “imunitas” pada anak serta keluarga. Pendekatan kekebalan jauh lebih berdampak dan berkelanjutan.
Rating game seharusnya menjadi alat bantu bagi orangtua untuk membangun kekebalan anak dgn melatihnya jadi mandiri dan cakap melindungi diri sendiri, bukan jadi instrumen sensor bagi pemerintah.
Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya bekerja sama erat dengan komunitas game. Lebih baik lagi, biarkan komunitas itu sendiri yang menjalankan sepenuhnya dengan difasilitasi pemerintah. Tak perlu berpretensi serba tahu apa yang terbaik bagi setiap segmen masyarakat. Punya wewenang tidak otomatis punya pengetahuan.
IGRS selayaknya jadi alat pemberdayaan, bukan pembatasan. 🙏
——
Sosialisasi ESRB di 2016, saat belum ada IGRS: https://t.co/KE3lc9tkB0
TERBONGKAR!
Kami sudah mengetahui siapa pemilik nomor HP +6281246030140 dimana Andi Azwan mengaku pemilik nomor ini adalah dr Tifa yang meminta RJ, padahal saya TIDAK PERNAH memiliki maupun menggunakan nomor tersebut, apalagi menghubungi Andi Azwan untuk minta RJ dan sebagainya.
Ternyata setelah kami cek nomor register, CDRI (Call Data Record Information), NIK, dan KK pemilik nomor ini ,adalah salah seorang Termul Senior!
Inilah kebodohan Gerombolan Termul, yang dengan ceroboh menggunakan nomor salah seorang dari mereka untuk membuat WA Palsu seakan-akan dari dr Tifa.
Nomor ini sudah kami laporkan, nama pemiliknya sudah tercatat, dan jika Termul-Termul macam-macam lagi kepada saya
Saya tidak akan segan melaporkan sebagai Tindak Kejahatan ITE yang sangat serius!
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
We are outraged. An Indonesian peacekeeper is murdered. Another is fighting for his life. Israel bombed the base where they served.
This is clearly not an accident, nor a collateral damage. This is Netanyahu’s regime showing, once again, that they don’t care about international law, about UN personnel, and about the lives of those who dedicate themselves to peace.
Indonesia has gone above and beyond. We have sent over 1,200 of our troops to serve under the UN flag. The Indonesian government also joined the Board of Peace to push for a just and lasting resolution in the Middle East. We extended our hand in good faith. Yet the answer to that good faith is a bomb dropped on our soldiers’ base. They spat on every effort Indonesia has made for peace.
But let us be honest, this is not surprising. Netanyahu’s regime has shown time and again that they are indifferent to the world’s calls for restraint. They ignore UN resolutions. They strike UN facilities. They kill civilians, journalists, aid workers, and now peacekeepers. No one is off-limits. No one is safe. Sadly, it keeps going because the world keeps allowing it.
To the UN Secretary-General, we appreciate your condemnation and your condolences. But words are not enough anymore. The UN must move beyond statements. Concrete, enforceable, and urgent action is what this moment demands. The credibility of the UN is on the line. If the world body cannot protect its own peacekeepers, what exactly is it protecting?
To the nations of the world, now is the time to act together. Push for accountability. Refer those responsible to international courts. Enforce the rules that you all signed up to uphold. International law is only as strong as the willingness of nations to defend it. That willingness has been tested over and over again by Netanyahu’s regime. For countless of times, the world has failed the test.
Do not let this death be forgotten in a news cycle. Do not let this become just another statistic in a long list of violations. Demand justice. Demand accountability. Make clear that those who attack UN peacekeepers will face real consequences.
Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, tapi kita yakin, Indonesia tidak akan diam.
Aku baru baca ini,
Hasil survey dari Policy Research Center (Porec)
Judulnya "Siapa yang diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)"
Silahkan kita baca hasil penelitiannya, yang sebenernya hasilnya tidak mengagetkan namun melegitimasi dan mengkonfimasi asumsi kita.
*Apakah kita harus gila untuk memahami kebijakan yang “gila” ?*
Fakta bahwa :
1) Israel telah membunuh 3 (tiga) tentara kita yg ditugaskan PBB di Libanon
2) Israel sdh membuat keputusan untuk menghukum mati semua tahanan Palestina.
3) kapal minyak kita tidak bisa lewati selat Hormuz sementara negara lain boleh
4) Negara-Negara Eropa dan Timur Tengah yg sebelumnya sekutu AS sdh berpaling dari AS
5) AS dan Israel sudah ditambang kekalahan perang.
Fakta tersebut sudah menunjukkan bahwa bergabung dalam BoP jelas-jelas merugikan bangsa Indonesia, tapi pemerintah tetap bergabung.
Otak waras saya sudah tidak mampu mencerna kenapa keputusan bertahan di BoP masih dilanjutkan.
Ya Allah jangan bikin saya gila untuk bisa memahami keputusan yang “gila” ini.
Saya berharap kepada Bpk Presiden agar keputusan bergabung dalam BoP dapat segera dibatalkan
Muhammad Said Didu
SURAT POLDA
ADA YANG HILANG, ADA YANG MUNCUL KEMBALI
Tanggal 31 Maret 2026, saya dan pastinya para tersangka dan terlapor sudah menerima surat yang sama.
Di negeri ini, kita harus mulai jujur membaca tanda. Sebuah kasus, yang seharusnya sederhana, terang, dan cepat, tiba-tiba berubah menjadi panjang, melebar, dan kabur.
Nama-nama daur ulang dimasukkan. Yang tempo hari sempat dipanggil sebagai terlapor: Abraham Samad, Babe Aldo, Mikael Sinaga, Febriansyah, muncul lagi dalam surat.
Sementara Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis yang sudah metamorfosis, lenyap dari daftar.
Eits, jangan lupa masih ada nama Rismon Hasiholan Sianipar sebagai tersangka! Misi RJ gagal total!
Pertanyaannya sederhana:
ini penyidikan, atau pengaburan?
Karena setiap nama yang ditambahkan,
bukan hanya menambah subjek.
Ia menambah waktu. Akan ada konsekuensi setiap nama akan memanggil Saksi dan atau Ahli untuk dirinya.
Dan itu akan menambah alasan mereka untuk berkata: “Kami masih dalami.”
Lalu pasal-pasal disusun berlapis.
KUHP.
UU ITE.
Pasal ini. Pasal itu.
Ada pasal yang dimigrasi ke KUHAP baru.
Ada pasal selundupan yang tiba-tiba muncul dadakan.
Seolah-olah mereka sedang bekerja keras.
Padahal, bisa jadi,
yang sedang dibangun bukan konstruksi kebenaran,
melainkan konstruksi ketidakselesaian.
Karena semakin banyak pasal tambahan, semakin banyak jalur, semakin banyak kemungkinan,
Maka sebuah perkara Ijazah yang mudah sekali diselesaikan, tidak akan pernah benar-benar selesai.
Dan waktu terus berjalan.
Dari 2025
masuk 2026
Menuju umur setahun.
Namun statusnya tetap sama:
penyidikan.
Tidak naik.
Tidak turun.
Tidak selesai.
Hanya: digantung.
Di titik ini, publik harus bertanya lebih dalam:
Apakah hukum sedang mencari kebenaran?
Atau,
sedang buying time? membeli waktu?
Karena inilah pola yang mulai terlihat:
Ketika fakta tidak cukup kuat untuk disimpulkan, maka ia diperluas.
Ketika arah tidak jelas,
maka ia diperbanyak.
Ketika keputusan sulit diambil,
maka waktu dijadikan alasan untuk terus diulur seperti tali karet.
Kasus ijazah palsu bukan lagi sekadar proses hukum.
Sekarang bermetamorfosis menjadi sebuah manajemen ketidakpastian.
Kasus dijaga tetap hidup,
cukup untuk menekan,
cukup untuk mengendalikan,
tapi tidak cukup untuk diselesaikan.
Dan di situlah letak bahayanya.
Karena hukum yang tidak menyelesaikan,
akan berubah menjadi alat.
Bukan alat keadilan.
Tapi alat penundaan.
Bukan alat kebenaran.
Tapi alat pengendalian.
Maka hari ini, kita tidak sedang menyaksikan siapa benar dan siapa salah.
Kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dalam:
Bagaimana sebuah kasus bisa diperpanjang, tanpa pernah benar-benar dituntaskan.
Dan ketika itu terjadi,
yang hilang bukan hanya keadilan.
Tapi juga kepercayaan.
Jika hukum hanya menjadi cara untuk membeli waktu,
maka cepat atau lambat,
rakyat akan berhenti percaya bahwa kebenaran
akan pernah benar-benar tiba.
"Gaji lu berapa per bulan?" tanya Tante Rina dengan tatap tajamnya.
"0,18 detik MBG, Tante," jawabku pelan tak berani menatap matanya karena malu.
Namun aku sedikit mendongak kepala melihat sedikit daripada raut wajahnya. Ia tersenyum tipis, terkesan merendahkan.
"Heh, anak tante ya sudah jadi direktur perusahaan multinasional. Gajinya 8,64 detik MBG, lho. Kamu ini sudah dewasa tapi masih menyusahkan orangtua!"
Rentetan kata-katanya menusuk hati dalam kalbu paling dalam, tetapi itu menyalakan api yang bersinar menyala-nyala dalam hatiku. Kugenggam tanganku dan berteriak kencang dalam hati, "KELAK GAJIKU SEKITAR 1 MENIT MBG!"
-Termul Tak Henti Bikin Fitnah-
Di tengah langkah yang tak pernah berhenti, justru ujian itu datang dari arah yang tak terduga.
Hari ini, Sabtu 28 Maret 2026, hari yang bagi sebagian orang adalah waktu beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau menenangkan diri, saya justru melangkah menuju kewajiban yang harus ditunaikan. WAJIB LAPOR.
Kesibukan menyelesaikan akhir studi Doktoralku 7 hari dalam seminggu, membuat saya hanya mampu menjalani Wajib Lapor di hari Sabtu, mengiris waktu istirahat yang tak banyak.
Hari ini, di Area POLDA Metro Jaya yang sunyi, yang hening, dengan kesadaran penuh bahwa jalan perjuangan memang tidak pernah menawarkan kemudahan.
Namun di saat yang sama, beredar sebuah video berisi fitnah keji dari salah seorang Termul. Fitnah yang muncul setelah fitnah saya mengajukan Restorative Justice, dan fitnah-fitnah sebelumnya.
Kali ini sebetulnya fitnahan sangat kelewatan. Sangat kurang ajar., Karena menyangkut riwayat sakitnya keluargaku, kematian muda saudara-saudaraku, dengan biadab dijadikan bahan fitnahan, penderitaan dijadikan bahan bullyan.
Tetapi saya tersenyum.
Bukan karena meremehkan.
Tetapi karena memahami.
Bahwa setiap perjuangan besar selalu diiringi oleh dua hal: ujian dari Tuhan, dan serangan dari manusia.
Fitnah adalah bahasa mereka yang tidak mampu mengalahkan gagasan.
Serangan personal adalah senjata mereka yang kehabisan argumen.
Serangan pribadi adalah tanda kekalahan setelak-telaknya.
Dan di titik ini, narasi-narasi yang diarahkan kepadaku, termasuk yang dikaitkan dengan polemik seputar ijazah Joko Widodo, justru semakin menunjukkan satu hal:
Ketika substansi tak lagi mampu dijawab, maka yang diserang adalah pribadi.
Bagi saya, ini bukan sekadar serangan biasa. Ini adalah indikasi bahwa ruang dialog yang sehat mulai ditinggalkan, digantikan oleh upaya membangun persepsi melalui fitnah dan framing.
Saya tidak sedang berperang melawan individu.
Saya sedang berjalan membawa amanah yang jauh lebih besar, amanah untuk menyadarkan, melindungi, dan menyiapkan umat menghadapi zaman yang tidak biasa.
Hari ini saya tetap hadir.
Tetap menjalani proses.
Tetap tunduk pada hukum.
Tetap tenang.
Karena saya tahu,
kebenaran tidak butuh teriak untuk menang.
Ia hanya butuh waktu.
Dan waktu, selalu berpihak pada mereka yang sabar, jujur, dan istiqamah.
Biarlah mereka berbicara dengan narasi yang dibangun dari prasangka.
Saya akan terus melangkah dengan narasi yang dibangun dari ilmu, data, dan tanggung jawab.
Sabtu ini bukan hari libur bagiku.
Ini adalah pengingat:
Bahwa jalan ini bukan jalan nyaman,
tetapi jalan yang harus ditempuh oleh mereka yang memilih untuk tidak diam.
Dan saya memilih untuk terus berjalan.
Doktor ini Kupersembahkan bagi Bangsa
Tidak semua perjuangan terlihat oleh dunia.
Ada yang sunyi.
Ada yang panjang.
Ada yang melelahkan, sampai ke titik hampir menyerah.
Perjalanan menyelesaikan program Doktor ini bukan sekadar tentang gelar.
Ini adalah tentang bertahan,
di tengah tekanan, fitnah, kelelahan, dan tanggung jawab yang tak pernah berhenti.
Berkutat dalam kesunyian Lab Terpadu FKUI, menelusuri jejak kehidupan pada level paling halus:
Biomolekuler.
Meneliti biomarker Neuroscience hingga Metabolic:
BDNF, Serotonin, NADPH Oksidase, ADMA, Insulin, Endothelial Microparticles,
hingga “Materi Tuhan”: Nitric Oxide.
Bukan sekadar angka.
Bukan sekadar data.
Tetapi potongan-potongan kecil dari rahasia besar:
bagaimana manusia berpikir, merasa, dan bertahan.
Dilanjutkan dengan pemeriksaan Depresi dan Pash Brain
untuk menilai status Neurosains Spiritual, Willpower, Resilience ketika menghadapi penyakit berat seperti Diabetes.
Karena manusia bukan hanya tubuh,
tetapi juga jiwa.
Dan perjuangan itu tidak berhenti di laboratorium.
Ia harus diuji di dunia nyata;
turun langsung ke masyarakat,
melihat, mendengar, dan merasakan denyut kehidupan yang sesungguhnya.
Ada malam-malam tanpa tidur.
Ada air mata yang tidak sempat jatuh.
Ada doa-doa yang hanya langit yang tahu.
Namun satu hal yang selalu dijaga:
niat.
Bahwa ilmu bukan untuk kebanggaan,
tetapi untuk pengabdian.
Pengabdian bagi umat manusia.
Pengabdian bagi bangsa.
Bahwa setiap langkah, sekecil apapun,
adalah bagian dari amanah yang lebih besar.
Jika hari ini terlihat kuat,
itu bukan karena tidak pernah luluh,
tetapi karena memilih untuk terus berjalan,
meski rapuh.
Perjalanan ini belum selesai.
Tetapi setiap detik yang terlewati adalah bukti:
Bahwa perempuan,
bahwa seorang ibu,
bahwa seorang pejuang,
bisa tetap berdiri,
bahkan ketika dunia berusaha meruntuhkannya.
dr. Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Terimakasih kepada DPP Aisyiah Pusat, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur atas kerjasama yang hebat demi Umat.
Lebaran Manies Edisi Sumatera 🌻
Berbelanja baju raya bersama anak-anak korban banjir di Sumatera diisi dengan tawa, senyum, dan semangat yang terasa hangat. Dari memilih hingga mencoba baju, tersimpan harapan kecil untuk menyambut hari raya dengan lebih bahagia.
Terima kasih untuk setiap dukungan yang terus mengalir.
Mari teruskan kebaikan:
https://t.co/T9V7jXWovS
BRI 118501000499563
Ada bangau merah di halaman,
Ada juga Sanji dan Zoro lagi bersalaman.
Di hari suci penuh kemenangan,
Mari saling maaf dan eratkan persaudaraan.
Selamat Idulfitri 1447 H✨
Mari meneguhkan ukhuwah dan menebar kebaikan🙏🏻😇
#Muhammadiyah#SiapLebihAwal#Idulfitri
Dr Tifa tidak kemana-mana
Ternyata absennya saya pada beberapa acara menimbulkan rumors dan spekulasi luarbiasa dalam beberapa hari.
Yang saya perhatikan utamanya berasal dari seorang Pengacara yang membuat postingan spekulasi bahwa ada salah satu Tersangka yang berangkat menjadi Termul. Akibat postingan yang tidak bertanggung jawab tersebut, publik gelisah dan menduga-duga.
Siapa ya dari 5 Tersangka yang tersisa, yang otw ke Solo dan log out dari Pejuang dan login jadi Pecundang?
10 hari terakhir Ramadhan, seperti rutinitas selama ini, betul-betul saya manfaatkan untuk iktikaf, sehingga bertubi-tubi undangan TV dan Media , juga beberapa. Acara, tidak saya hadiri.
Akhirnya, beredarlah spekulasi bahwa saya diam-diam ke Solo menghadap. raja Jawa untuk mengharapkan pengampunan.
Sampai-sampai pengacara Kurnia Tri Royani berkata di salah satu podcast: "dr Tifa di manapun engkau berada... "
Saya aman sentosa di seputaran Jaksel, bu.. mondar-mandir dari rumah ke kampus Salemba mengurus Riset S3. Bukan ke Balige atau Samosir, apalagi ke Solo.
Adapun di hari-hari akhir Ramadhan saya memilih menarik diri sejenak.
Ramadhan mengajarkan untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, dan melihat persoalan dengan lebih utuh.
Namun ada hal yang tidak bisa saya abaikan.
Saya melihat bagaimana kekuasaan, bahkan setelah tidak lagi menjabat, masih digunakan untuk menekan dan menghancurkan.
Cara-cara yang digunakan tidak lagi mencerminkan etika seorang negarawan, tetapi lebih menyerupai praktik kekuasaan yang mempertahankan diri dengan mengorbankan orang lain.
Akademisi menjadi sasaran. Reputasi dihancurkan.
Padahal persoalan ini sesungguhnya sangat sederhana.
Jika memang tidak ada yang disembunyikan, cukup tunjukkan saja.
Di mana pun.
Di depan publik, di pengadilan, bahkan di ruang yang paling sederhana sekalipun.
Sederhana.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Masalah yang sederhana dipelihara menjadi rumit, memakan energi bangsa, dan menguras perhatian publik.
Saya melihat sendiri bagaimana negeri ini mulai lelah.
Rakyat jenuh.
Energi kolektif terkuras untuk sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kejelasan.
Di sisi lain, aparat penegak hukum berada dalam posisi yang tidak mudah.
Ada ruang-ruang kosong yang sulit diisi, ada celah-celah yang menyulitkan pembuktian.
Namun saya tetap menaruh harapan pada profesionalisme, terutama pada mereka yang masih bekerja dengan integritas.
Yang juga memprihatinkan adalah munculnya para Termul “pengiring kepentingan” yang menjadikan situasi ini sebagai ladang keuntungan.
Bukan mencari kebenaran, tetapi mencari peluang.
Mereka memperbesar masalah, bukan menyelesaikannya.
Ironisnya, kondisi ini justru mengganggu jalannya pemerintahan yang sedang berupaya membangun kembali negeri ini.
Saya tidak ingin terjebak dalam pusaran itu.
Dengan izin Allah, dan dengan dukungan banyak pihak yang masih percaya pada kebenaran, saya akan tetap berdiri.
Tanpa jalan pintas.
Tanpa kompromi yang merendahkan martabat.
Tanpa memilih cara-cara yang tidak terhormat.
Perjuangan ini mungkin tidak mudah.
Namun saya percaya, kebenaran tidak membutuhkan keramaian, ia hanya membutuhkan keteguhan.
Dan saya memilih untuk tetap teguh.
Salam,
Tifa