Saya pikir, anda akan menelan kekecewaan jika berpikir bahwa isinya tentang sexualitas dan erotisme. Karena, Vita Sexualis merupakan refleksi perjalanan seorang Profesor Filsafat yang sangat tidak tertarik secara seksual.
Mudah saja niteni-nya, kalau pagi-pagi sudah hujan dan deras bukan gerimis, itu artinya hujan yang terjadi berasal dari laut bukan darat. Sebab hujan di darat baru terjadi setelah jam 12 siang. Jadi mesti curiga, ada apa di laut kok bisa kirim hujan ke darat? Lalu cek: https://t.co/HblI0sVskL
Bagus lah. Jelas:
1) Cari pekerjaan yang lebih suportif, ini profesionalisme.
2) Menghargai batasan kerja, juga profesionalisme.
3) Salary dan benefit yang lebih sesuai, juga profesionalisme.
Surat ini menunjukkan bahwa Friska bekerja dengan profesional, sedangkan tempat dia bekerja tidak.
Sudah bukan eranya lagi meromantisasi pengabdian, kerja tanpa kenal batas waktu, dengan balasan seadanya.
Good job.
Well done, Friska.
Mana yang lebih strategis: mengirim pelajar ke luar negeri atau membangun institusi dalam negeri?
Pertanyaan ini muncul dalam sebuah diskusi di KBRI London beberapa hari lalu, di negara yang menampung sekitar 60% pelajar Indonesia pada jenjang master dan doktoral. Ruang sore itu dipenuhi para peneliti dan kandidat PhD dari Indonesia dengan berbagai pertanyaannya.
Jika tujuannya adalah menarasikan Indonesia dengan lebih kuat, kita perlu melihat dari mana dampak terbesar bisa lahir.
Membangun institusi dalam negeri tentu sebuah cita-cita ideal; namun sering kali terhenti pada satu prasyarat yang belum tuntas: keterbukaan. Kesediaan untuk belajar dari yang terbaik dan membuka diri terhadap ahli dari mana pun adalah fondasi yang belum sepenuhnya kita miliki, dan masih menjadi masalah kultural.
Karena itu, tidak heran bila banyak talenta Indonesia justru menemukan ruang bertumbuh di luar negeri: belajar, bekerja, mengajar, dan mengakumulasi pengalaman yang sulit dijumpai di dalam negeri. Maka jika ditanya, untuk saat ini saya berpikir bahwa mengirim sebanyak mungkin pelajar ke luar negeri menjadi langkah yang paling optimal.
Jika kecocokan antara requirement dan qualification memang lebih selaras di Inggris, itu menjadi investasi bagi masa depan Anda dan bagi negara.
Dalam kerangka itu, bukan brain drain yang akan terjadi, melainkan brain circulation. Apa pun yang kalian pelajari atau alami di luar, mengalir kembali ke Indonesia lewat obrolan sehari-hari dengan keluarga, sahabat, atau rekan di tanah air. Dari situlah sirkulasi pengetahuan yang perlahan memperkuat talenta kita ke depan.
Karena kadang, perubahan besar justru dimulai dari percakapan kecil seperti itu.
Orang cerdas bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana. Orang malas minta segala sesuatu dijelaskan dengan sederhana.
Kesederhanaan yang dimaksud Einstein adalah dalam konteks teori yang tidak dicemari oleh koefisien koefisien ad hoc, yang bisa “menjelaskan” fenomena fisik tanpa harus dikalibrasi terus menerus.
Kesederhanaan yang dimaksud adalah yang lahir dari proses yang panjang setelah menguasai hal yang rumit. Bukan dari kenaifan, bukan dari sentimen moral bahwa yang sederhana, polos, kekanak-kanakan adalah yang adiluhung.
Kesederhanaan yang mengorbankan akurasi (dan oleh karenannya akuntabilitas) adalah jalan masuk populisme dan kediktatoran.
Strive for the complex. Do not assume people are stupid. Chances are they’re probably smarter than you.
#DidYouKnow 🤔
When a Crow feels sick, it goes to an Ant nest and deliberately disturbs it. The Ants get angry and start climbing on the Crow.
But the Crow doesn't move. It stays still with its
wings open. The Ants then spray formic acid on the Crow. This acid helps remove germs and fungi, like a natural medicine.
After this, the crow feels better. So Smart!