menurut gue suka suka authornya. dari dulu kalo baca karya sastra mau itu cerpen kek puisi kek novel kek autobiografi kek ga pernah ada tagsnya kan? stop idup diatur internet jir.
Bohong di penelitian soshum ๐๐๐
Bohong di penelitian kedokteran ๐๐๐
Bohong di penelitian nuklir ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
wondering how and who will punish prihantini dan rifaldy dkk karena they deserve so much more disrespect than this tbh imagine messing biomedicine research publicly
Saran saya untuk Rifaldy, Prihantini dkk. Daftar di Fakultas Kedokteran di kampus Amerika Serikat. Mereka bisa menerima S1 matematika untuk menjadi dokter. Kalian masih muda. Abis itu kerjakan secara serius abstract2 yang pernah kalian kirimkan ke conference2 ini
minum obat alternatif herbal bertahun-tahun jadi gagal ginjal cengap-cengap ke RS gak tertolong ngomelnya ke nakes
patah tulang dibawa ke alternatif jadi malunion kekuatan ga bagus patah berulang dibawa ke RS ga bisa nyambung ngomelnya ke nakes
bayi demam dibawa ke pijat bayi usus muntir harus dioperasi ngomelnya ke nakes
ada lagi? ๐คซ
Dari kronologisnya dokternya sudah benar dan sesuai UU.
Saya paham rasa paniknya saat anak sakit pak, semoga anaknya segera sembuh ya.
Tapi saya juga ingin memberi tau bahwa jika ingin periksa 24 jam bisa datang ke IGD, bukan ke klinik/poli.
Harusnya segera ke IGD jika memang dirasa gawat darurat, bukan malah sibuk rekam video.
Ya sangat wajar jika ditolak oleh dokter tersebut.
Anehnya Rifaldy Fajar dan Prihantini ini kan bukan dokter, bukan perawat, bukan apoteker, bukan nakes, gak pernah studi kesehatan atau kedokteran. Tapi kok bisa dapat puluhan travel grant selama 2-3 tahun di bidang spesialis kedokteran semua.๏ฟผ(?) apa gak heran orang-orang dari sana?
pun perbuatan ini bener bener mencoreng nama baik pendidikan Indonesia loh, pendidikan kita (khususnya kedokteran) udah dipandang sebelah mata, ditambah ada pemalsuan kelas dunia begini apa ga amsyong
Tau gak bahayanya kasus ini?
Selain nama Indonesia bisa jelek di mata ilmuwan dunia ya.
Tapi pemalsuan data untuk dipresentasikan di forum ilmiah itu dampaknya bisa luas. Mungkin ada researcher lain yang ga tau kalo mereka fake, kemudian kutip penelitian mereka, dan dijadiin bahan praktek/treatment.
Ini tuh semestinya kan bawa data dan temuan ilmiah. Nah bayangin temuan ilmiahnya fake.
Masa' harus nunggu ada yang jadi korban dari orang2 norak yang sekadar pengen keluar negeri gratis sih?
Minimal kemenkes turun tangan sih. Ngejagain marwah keprofesian dan keilmuwan soalnya.